Siklus Kehidupan seorang Anak


Orangtua jarang melepas anak-anak mereka, jadi anak-anak yang melepas orangtua mereka. Mereka pergi. Mereka pindah. Pengakuan yang dulu penting untuk mengukur keberhasilan mereka– pujian ibu, anggukan ayah– tertutup oleh saat-saat pencapaian mereka sendiri. Baru belakangan, lama setelahnya, ketika kulit mulai keriput dan jantung mereka mulai lemah, anak-anak itu mengerti; kisah hidup mereka, dan seluruh pencapaian kesuksesan mereka, bertumpu di atas kisah-kisah kehidupan ayah-ibu mereka, batu demi batu, di bawah permukaan air kehidupan mereka.
Mitch Albom di buku Five People You Will Meet at Heaven
anak yang melepas orang tua
Saya tiba-tiba langsung termenung dan tercenung lama di halaman tersebut. Merasa tersedak dan tertohok tepat di ulu hati. Menghujam rasanya membaca kalimat tersebut berulang-ulang. Saya seperti melihat sosok Bunda yang sudah saya tinggalkan selama 7 tahun ini. Setahun sekali atau dua kali saya kembali pulang. Menjadi anak pertama di keluarga, membuat saya harus memberikan contoh kepada adik-adik. Belajar merantau di negeri orang dan belajar mandiri menata diri. 
Tapi dibalik semua itu, saya benar-benar merindukan sosok Bunda ketika di tanah rantau. Terlihat kuat namun sering mengakui bahwa saya rapuh di dalam. Sekembalinya di rumah dua minggu lalu, ada rindu yang membuncah dan tak tertahankan. Memeluk sosok Bunda di malam itu terasa sangat menggetarkan. Entah kenapa saya benar-benar merindukan beliau. 
Saat itu, beliau sedang kelelahan setelah kerja seharian. Ia terus meminta maaf karena tak bisa menyambut saya dengan senyuman. Saya pun mafhum, akhir-akhir ini beliau sering mengeluh dilanda sakit kepala hebat. Tapi itu tak mengurangi keinginan saya untuk bergelung seperti anak kucing di sampingnya. 😀
Bunda adalah sosok yang dengan rela melepaskan anak-anaknya menempuh apa yang dianggapnya baik untuk masa depan anaknya. Maka disinilah saya, di sebuah negeri para raja-raja, yang terpisah jarak dan waktu dari beliau. Maka, ketika saya sudah harus kembali ke tanah rantau, beliau terus bertanya-tanya “Kenapa Bunda melepaskan kamu ya, dlien sekolah di Makassar? Setelah sekolah jauh, sekarang kamu juga kerja jauh dari Bunda. Kapan kamu bisa dekat sama Bunda, dlien?”
Ketika pertanyaan itu hadir, saya hanya tersenyum masam dan mencoba mengingat-ingat komitmen yang sudah susah payah saya bangun di tanah rantau. Puisi Imam Syafi’I selalu menjadi penghantar tidur, bahkan menjadi hiasan di dinding kamar. Agar saya selalu kuat dan menjadi tak hilang arah tujuan. Namun mendengar pertanyaan Bunda saya, rasa-rasanya sering kali benteng pertahanan seakan mau runtuh dan ambruk. 
Kerinduan terhadap Bunda menjadi sebuah hal yang paling sering meruntuhkan kekuatan. Apalagi setelah membaca kata-kata Mitch Albom dibuku tersebut, membuat saya semakin bertanya-tanya kembali. Apakah ini sudah merupakan prosedur yang benar? Apakah ini sebuah cobaan? Atau hanya sekedar homesick? Tapi paling tidak saya sudah menuliskannya, sekedar mengurangi beban yang ada di dalam hati dan pikiran.
Terima kasih Bunda, terima kasih Ayah. Karena telah membimbing Adlien dan adik-adik dengan kasih sayang dan nilai-nilai kehidupan. Both of you is the BEST for us. :-*
Ayo, adik-adik kece, kita kejar cita-cita kita tapi jangan lupakan ayah dan bunda serta semua orang yang mendukung kita. Love you my bro’s and sis’s :-*
ditulis di Mess Harta Samudera setelah membaca buku Mitch Albom
20 Agustus 2014

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *