Tahta Mahameru, sebuah cerita dari Ranu Pane

 

Membaca buku Tahta Mahameru, seperti membaca sebuah buku diary seorang bernama Faras, Ikhsan dan Mareta. Bukan sebuah diary sembarangan, si penulis menceritakan kehidupan pribadi mereka dengan sangat lugas. Bukan hanya itu, buku ini sangat menyentuh. Menyentuh seseorang yang hidupnya berantakan dan butuh “pertolongan”.

Ceritanya memiliki alur maju mundur. Terkadang kita akan dibawa pada kejadian lima tahun lalu, empat tahun lalu, tiga tahun lalu dan kejadian saat ini. tokoh yang menceritakan pun berbeda-beda tergantung si penulis mau menceritakan dari sudut pandang tokoh yang mana. Tapi notabene, cerita menjadi dominan antara pencarian Faras dan pembalasan dendam Ikhsan serta perubahan diri Ikhsan menjadi lebih baik.
Raja Ikhsan, seseorang yang hidupnya hancur setelah ayahnya (pernah bercerai) rujuk kembali dengan mantan istrinya. Ibunya, mendapatkan siksaan batin dan pikiran sehingga memutuskan untuk bunuh diri dengan cara membakar dirinya. Ikhsan yang saat itu pulang dari kampus, langsung menolong ibunya. Namun ibunya tak terselamatkan dan ia mengalami luka bakar yang cukup parah di wajahnya.
Sedangkan Faras, sosok lembut yang dianggap seorang malaikat yang turun dari langit oleh Ikhsan. Ia mampu mengubah sosok Ikhsa yang keras kepala menjadi lebih lembut dengan kata-katanya. Ikhsan pun tidak memungkiri bahwa hidupnya berubah berkat pertemuannya dengan Faras. Menurut Ikhsan, ada tiga orang yang bisa menerima dirinya apa adanya, ibunya, Fikri dan Faras.
Pada awal buku ini, pembaca akan dibawa ke Borobudur. Dimana tokoh Far
as sedang mencari seseorang dan ia terlambat. E-mail yang dikirim oleh seseorang itu bernama Raja Ikhsan. Lalu cerita melompat ke tokoh lain bernama Mareta. Seorang perempuan berperawakan tomboy dengan menenteng kamera dan berbicara di handphone. Perkenalan dimulai ketika Faras mengikuti Mareta dan tiba-tiba mendapatkan telepon tentang tiket ke Makassar. Mareta yang mendengar percakapan tersebut langsung menawarkan diri untuk ikut ke Makassar. Niatnya Mareta ingin ikut karena dapat tiket murah seharga 278 ribu ke Makassar. #hahaha
Pertemanan mereka pun dimulai di dalam kereta ekonomi. Faras merasa mengenal Mareta tapi perbincangan mereka tidak pernah menyangkut masalah seseorang yang dicari oleh Faras. Mareta pun tidak mengungkit seseorang yang dicari oleh Faras. Mereka berdua tidak tau bahwa keduanya dihubungkan oleh takdir untuk sama-sama bertemu dengan Ikhsan.
Ceritapun lompat kembali ke tokoh Ikhsan. Ia pada akhirnya mencoba membunuh ibu tirinya pada tiga tahun lalu. Namun tak berhasil, ia masuk penjara. Di penjara ia mulai berubah, setelah amarah yang menyeruak ia mendapat seorang teman yang bisa meredam amarahnya. Tak banyak bicara namun mengambil hatinya dengan mengajak shalat. Yusuf namanya, dan kisahnya juga mirip nabi Yusuf as. #subhanallah 😀
Akhirnya Ikhsan pun melakukan perjalanan ke Balikpaapan terus akhirnya sampai ke Sulawesi Selatan.. #ciiieee ada Makassar di buku ini. hahaha. 😀
Ternyata kedatangan ia ke Sulawesi Selatan membawa ia ke sebuah fakta. Fikri yang ia kenal telah wafat karena siri’ yang ia pegang (siri’ itu adalah sebuah ungkapan Makassar yang bisa diartikan malu). Daeng Zulfikri, itulah nama yang diberikan oleh ayah dan ibunya. Tanpa sengaja ia bertemu dengan adiknya, Daeng Aros yang menjelaskan kisah kehidupan Fikri yang selama ini ia kenal.
Disinilah kesedihan cerita mulai terasa, bahwa Fikri yang ia kenal harus mempertahankan nama keluarga. Karena kakak perempuannya kawin lari dan Fikri diminta untuk membunuh kakak iparnya. Akhirnya Fikri kalah dan wafat dalam pertempuran itu. 🙁
Ambe’ (ayah) Fikri turun tangan karena Aros tidak bisa membunuh orang. Kakak ipar Fikri pun harus mati dintangan Ambe’. Namun setelah berhasil melaksanakan siri’, Ambe’ pun menjadi trauma karena kehilangan dua anak sekaligus. 🙁 #huaaaaa…
Disinilah Ikhsan yang terbawa oleh takdir, ia mencoba menyembuhkan Ambe’ dengan cara pendekatan persuasif untuk mengingatkan kembali Ambe’ pada kegagahan orang Bugis. #senangnya ada Tanjung Bira di dalam cerita ini.
 Akhirnya Ikhsan berhasil menghilangkan trauma Ambe’. Dan ia pun pamit meninggalkan Tanjung Bira. Dan mendapatkan kabar bahwa Faras mengikutinya akibat perbuatan Aulia (adik tirinya) yang mengirimkan email permintaan maafnya kepada Faras.
Akhirnya mereka pun bertemu kembali di Ranu Pane. #insyAllah destinasi selanjutnya. Mereka pun mendaki Mahameru bersama. Ia, Faras, Mareta dan Ayah Faras.dan disanalah mereka di Ranu Pane, membuka semua cerita masa lalu yang membawa mereka hingga disini..
Ceritanya keren karena novel ini adalah Novel Terbaik Republika 2012, buku yang menjadi wajib baca untuk para pecinta novel Indonesia.….ceritanya manis dan sangat memikat..
😀

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *