Tentang Magelang, Akmil, Kupat Tahu dan Parade

Selama ini Magelang selalu identik dengan Candi Borobudur, namun saya akan sedikit bercerita tentang Magelang dari sisi yang berbeda. Perjalanan bersama #FamtripJateng kali ini membuka mata saya bahwa ada ‘harta tersembunyi’ di Magelang. Apa itu? Mari simak cerita perjalanan ini hingga usai. 
Setelah kami menikmati bermain Arung Jeram di Sungai Progo, kami segera beristirahat di bungalow Kana, Hotel Puri Asri. Seharusnya saya dan Rinta bisa menyusuri keindahan hotel bintang lima ini, tapi sayangnya kami terlalu letih dan ketiduran. Ketika kami bangun, teman-teman sudah berkumpul di bis dengan pakaian batik formal yang terlihat mewah. Sedangkan saya? Pakai kerudung cokelat pemberian seorang sahabat dan baju batik cokelat muda milik Bunda. 

Tujuan kami adalah Alun-alun Kota Magelang yang tidak terlalu jauh dari hotel. Sekitar 30 menit, kami pun tiba di lokasi parkiran. Namun tiba-tiba hujan mengguyur deras, kami memasuki sebuah toko Kupat Tahu “Pojok”. Kita tidak akan menemukan sebuah kios besar, di dalam kios seukuran 5×5, tempat ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Kios ini terletak di Jalan Tentara Pelajar No 14, Kota Magelang. Tempat kios ini juga tidak terlalu jauh dari Alun-alun Kota Magelang, hanya butuh berjalan kaki sekitar 5 menit.

 

kupat tahu .

 

Kupat tahu merupakan kuliner khas Kota Magelang dan belum afdol rasanya jika kalian singgah di Magelang dan tidak mencicipi kupat tahu. Sejak tahun 1942, Kupat Tahu Pojok sudah melayani pelanggan dari segala kalangan. Sekedar informasi, disini adalah tempat favorit Mantan Presiden SBY untuk makan kupat tahu. Tak hanya itu, dari dinding kios, kita bisa melihat foto-foto para artis maupun pejabat yang pernah mengunjungi tempat ini. Satu porsi kupat tahu dihargai Rp. 12.000, jika ingin menambah cemilan lain juga bisa. Disini mereka menyediakan tahu goreng, sate udang dan kerupuk sebagai teman tupat tahu. 
Hujan masih mengguyur deras di luar kios. Kami menunggu hingga pukul 19.00 WIB, dan akhirnya langit tak lagi menumpahkan air. Kami segera bergegas menuju Alun-alun Kota Magelang untuk menghadiri Parade Seni dan Budaya Jawa Tengah dalam rangka Ulang Tahun Provinsi Jawa Tengah yang ke-66. Rencananya kami akan duduk di bagian depan tribun agar bisa melihat secara langsung prosesi parade. Namun apa dinyana, kursi yang sedianya untuk kita tak mungkin diduduki. Hujan telah membuat kursi tersebut basah. Akhirnya kami pun bergerak di kiri tribun untuk mencari lokasi bagus. 
Kami mendapatkan tempat paling depan, sehingga bisa melihat setiap prosesi. Opening Ceremony Parade Seni dan Budaya dibuka dengan Tari Topeng Ireng yang ditarikan oleh 500 orang. Pidato pembukaan parade ini dibacakan oleh Wakil Gubernur. Di dalam pidatonya, beliau mengatakan perlunya sinergitas antar pelaku pariwisata agar bisa meningkatkan wisatawan datang ke Jawa Tengah. Tak lupa ia menyebutkan blogger sebagai salah satu pelaku pariwisata yang menyebarkan informasi tentang pariwisata. Ternyata saat ini blogger tak dianggap sebelah mata dalam memberikan informasi. Dan saya merasa seorang blogger bertanggung jawab kepada diri sendiri secara individual dan pembaca blognya. 
Para penonton juga disuguhkan pesta kembang api selama 1 menit. Warna-warni kembang api menghiasi langit Kota Magelang saat itu. Dan tiba-tiba muncul bunyi genderang yang bertalu-talu dari sisi sebelah kanan tribun menuju panggung. Puluhan orang membawa alat marching band datang berbaris rapi. Sang pembawa acara memperkenalkan rombongan ini sebagai Marching Band Genderang Suling Canka Lokananta Akmil Magelang. Bunyi-bunyi campuran dari beragam alat musik seperti drum, tenor, terompet, flute, tuba dan lainnya membuat saya terkesima. Apalagi dengan taruna yang menggunakan kostum “Macan Tidar” dan membawa drum beraksi dengan liar. Ia memutar-mutar drum tanpa takut terjatuh. Saya melihat sorot kepercayaan dan keberanian dimatanya. Hempasan angin dari drum tersebut beberapa kali mengenai wajah saya. Dan itulah pertama kalinya saya menyatakan jatuh cinta dengan Marching Band Genderang Suling Canka Lokananta Akmil. Inilah harta tersembunyi yang saya ceritakan. 
pasukan macan tidar! uwoooowwww
dedek pemegang tuba. lihat deh aksinya
Mayoret yang memimpin pasukan marching band sangat bergairah. Ia beberapa kali melempat tongkat dan melakukan split. Belum lagi para taruna yang mengenakan baju loreng dan memainkan tuba trompet. Memutar-mutar tuba dan kemudian membuat formasi yang menjulang ke atas. Saya dibuat takjub dan berdebar di saat yang sama oleh performa para taruna dan taruni Akademi Militer Magelang. Saya segera menasbihkan diri sebagai pengagum Marching Band Genderang Suling Canka Lokananta Akmil. sila liat video parade disini.

 

Saya pikir parade tidak akan berlangsung semenarik penampilan marching band tadi. Namun saya salah besar, para peserta parade yang berasal dari seluruh kabupaten dan kota se-Jawa Tengah memberikan performa terbaik mereka. Walaupun waktu tampil mereka hanya 5 menit, namun sangat berbekas di dalam pikiran. Saya membatin “berapa lama mereka membuat konsep, melakukan latihan, dekorasi alat serta bahan hingga jadi sebegini heboh dan mengagumkan”. Setiap tarian dari sebuah daerah selalu menggunakan properti yang tak biasa. Ada yang membawa bibit mangrove, alat pembuatan kain tenun, tampah, alat pembuat kue capit, kacamata hitam, hingga mobil-mobil berukuran gigant. Selain itu setiap tarian mengandung makna dalam mengenai daerahnya masing-masing. Misalnya saja Tari Gapit dari Kab. Grobogan, mereka menunjukkan prosesi pembuatan kue gapit dalam bentuk tarian. Kemudian Tenun Troso dari Kab. Jepara yang menceritakan prosesi pembuatan kain tenun di Jepara. 
tarian ksatria
Dan selesainya parade, memberikan saya sedikit pengetahuan mengenai daerah-daerah tersebut melalui tarian. Selama ini saya selalu memasukkan tarian daerah di level paling tinggi, karena sesungguhnya tarian merupakan gerak tubuh berirama untuk mengungkapkan perasaan, maksud dan pikiran sang penari. Tiap tarian menampilkan karakter daerah, sejarah daerah serta fungsi lain dari tarian. Dari parade ini, rasa kecintaan saya terhadap tari-tarian tradisional meningkat tajam. Semoga semua orang yang menyaksikan merasakan hal yang sama.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

Baca juga tulisan geng #bloggerhore yang ikut dalam kegiatan #FamtripJateng pada tanggal 27-29 Agustus 2016 . Perjalanan ini disponsori oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. 

 

1. Danang :   Senja di Candi Plaosan
17. Adlien :  Fajar Mencumbu di Punthuk Setumbu

Ditulis di ISKINDO
Jumat Barokah, 2 September 2016 13:02 WIB
Sambil dengar Murratal Al-Kahfi

You may also like

8 Comments

  1. Beruntung banget ya mbak dpt posisi di depan. Bisa jepret2 bagus.
    Saya jg nonton waktu itu, tp dpt tempat yg kurang penerangannya. Penonton biasa sih hehee 😀

  2. ak suka semuanya, sampe ak merasa kebelet pipis. langsung gak konsentrasi liat performance peserta. Ngebayangin si juri yang duduk mulu tanpa ke kamar mandi. ckckck. hebat!

  3. hahaha. iya donk dedek, kan ak udh 25 tahun sekarang kak. Jadi anak2 Taruna itu lebih muda dari aku, dan aku panggil dedek gemesh. haha. #kabur..

    seruuu banget acaranya kak. 🙂 Wish you were here. #eaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *