Wae Latu, Berkah Air Bagi Kampung Sepak Bola

yeah! berenang!

Masih ingat dengan sosok Sani yang melatih anak-anak bermain sepak bola demi menghindarkan anak-anak dari menonton kerusuhan yang melanda Ambon tahun 1998? Sosok Sani diperankan dengan sangat mengagumkan oleh Cico Jericho. Cerita perjuangan Sani untuk memajukan bakat anak-anak Tulehu ke kancah nasional dikemas secara apik dalam film “Cahaya dari Timur”. Sehingga saat ini pun kita mengenal Tulehu dan sepak bola sebagai hal yang tak terpisahkan. 
Namun tahukah kalian jika di Negeri Tulehu ada sesuatu yang juga sangat menarik? Sebuah mata air yang tak pernah mengering sejak beratus-ratus tahun lamanya. Namanya Wae Latu, sebuah kolam yang bisa diartikan sebagai Air Raja. Dalam bahasa Tulehu, Waeartinya air sedangkan Latu berarti Raja. Oia, sekedar informasi, di daerah Maluku, kita tidak akan mendengar kata “Desa”, namun diganti dengan sebutan “Negeri”. Karena itulah, jangan heran jika masih ada Raja di setiap Negeri, bukan Kepala Desa. 
Dulu, ketika masih kanak-kanak, saya sering mendengar kata Wae Latu. Nenek saya, Hj. Maryam Lestaluhu, sering mendendangkan lena’ (sebuah cara untuk menyampaikan berita dengan bahasa daerah) dan juga bernyanyi sambil menyebut kata Wae Latu. Hal ini beliau lakukan untuk memberikan motivasi kepada saya agar bisa berenang. Jujur saja, pada saat itu saya tidak bisa berenang. Nenek sering mengatakan, “anak-anak Tulehu semuanya bisa berenang, karena Waelatu yang terletak di tengah kampung. Kalian ini anak Tulehu, jadi walaupun jauh dari Negeri Tulehu, harus tetap bisa berenang,” ujarnya. 
Sejak saat itu, saya selalu bermimpi untuk bisa datang ke Tulehu dan berenang di Wae Latu. Membuktikan dengan mata kepala saya sendiri mengenai cerita-cerita nenek. Dan Alhamdulillah, di tahun 2013, mimpi saya untuk mengunjungi Tulehu terwujud. Benar saja, saya terpukau oleh kolam Wae Latu yang sering dikisahkan oleh nenek. Airnya jernih dan di dalam kolam hidup puluhan ekor moray air tawar (mirip belut namun lebih besar). Belut-belut ini tidak pernah dikonsumsi oleh penduduk, karena belut-belut ini sudah ada sejak dahulu kala. 
Morea di Wae Latu
Sejak pertama kali melihat Wae Latu, saya pun terus berpikir, darimana asalnya air sejernih ini? Hingga akhirnya saya pun bertemu dengan Om Maji, Paman saya yang juga didaulat sebagai salah satu pemuka adat di Negeri Tulehu. Bisa dikatakan, beliau memiliki pengetahuan yang luas mengenai asal usul Negeri Tulehu. Beliaulah yang menjelaskan kepada saya bagaimana Wae Latu bermula. 

 “Wae putu wae pariki reriho riaman”
Air panas, air dingin, berlimpah keliling negeri
Ia menggumamkan sebuah lane’yang diceritakan selama puluhan generasi mengenai sumber air di Negeri Tulehu. Menurutnya negeri ini memang diberkahi dengan air yang sangat unik. Karena letak Tulehu yang berada dekat dengan bukit dan berhadapan dengan laut. Disini kita bisa menemukan air panas, air tawar dan air asin sekaligus. 
Dari hasil perbincangan dengan beliau, saya pun tahu jika sumber Wae Latu bukanlah dari sungai ataupun air hujan. Namun sebuah Aquifer (a rock layer containing large quantities of groundwater) yang tak pernah mengering. Hal ini pernah dibuktikan di tahun 1980-an, ketika Ambon dilanda kekeringan yang hebat. Banyak sungai pada saat itu yang kering, namun debit air Wae Latu tidak berkurang sedikit pun. Hal ini semakin mempertegas bahwa sumber Wae Latu bukan berasal dari air hujan. 
Namun Om Maji tidak menyangkal jika resapan air tanah jika musim hujan menjadi salah satu faktor kenapa cadangan air di tempat tersebut tinggi. Karena ada peraturan ketat di negeri ini mengenai penebangan pohon. Tak sembarangan orang bisa menebang pohon di negeri Tulehu. Karena itulah pohon-pohon besar masih banyak tumbuh di hutan-hutan dan menyerap air kemudian disimpan di dalam tanah. 
Namun saya sering penasaran dengan pemberian nama Wae Latu. Kenapa harus diartikan sebagai air raja? Menurut Om Maji, Wae Latu dulunya merupakan air yang berasal dari sebuah kendi. Ceritanya pada zaman penyiaran agama islam hingga ke Tual di Maluku Tenggara, salah seorang anak dari sang Imam tidak mau pulang jika tidak membawa air dari Tual. Akhirnya semua orang menyanggupi keinginan sang anak untuk membawa 7 kendi air. Enam kendi diminum ketika dalam perjalanan, sedangkan satu kendi ditanam di Dusun Wai Halawang yang dikenal sebagai tempat sumber air hingga saat ini. 
Sejak itulah, Wae Latu diberkahi oleh air yang tidak putus-putus hingga saat ini. Pada zaman penjajahan Belanda di Maluku, kolam Wae Latu dipugar dan dibuat semacam penampungan yang lebih modern dan permanen. Bentuk inilah yang bisa kita saksikan hingga saat ini.
ikan mas di Wae Latu

Namun sayangnya, kolam Waelatu terlihat tidak dijaga dengan baik. Banyaknya sampah-sampah plastik terlihat di dasar kolam. Hal ini mengurangi nilai estetika yang dimiliki oleh Wae Latu. Padahal seharusnya kolam ini harus dijaga sebagai sebuah warisan alam yang sangat berharga. Air bersih yang berlimpah tidak boleh dibuang sia-sia. Sepertinya, kerja bakti setiap bulan dibutuhkan untuk membersihkan dasar kolam. 😀
Semoga Wae Latu tetap diberkahi air yang mengalir sepanjang tahun.
#tulisan ini ditulis dalam memperingati Hari Air yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2014 bersama genk Travel Blogger Indonesia. Sila baca tulisan teman-teman genk yang lainnya. 😀

kak Indri |Kemana air ciliwung mengalir
kak Tracy | 10 waterfalls 10 splashes of experience
kak Lenny | peduli lingkungan di hotel

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *