Yang Terlewatkan dan Terbengkalai, Gereja Tua Kerajaan Sikka

Gereja Tua
Perjalanan kali ini saya ditemani oleh Kak Nur, seorang dokter yang baik hati dan segera mengingatkan saya dengan sepupu gokil, Ghea. Perkenalanku dengan Kak Nur di sebuah kafe dan sedang ikut dalam kelas fotografi yang diajar oleh kak Tekno (Lostpacker.com), Kamis (22/5). Kak Nur terkesan spontan ketika belajar, sama seperti ketika ia menawarkan diri untuk menemani saya ke Gereja Tua di Desa Sikka. Gayung bersambut, saya mengiyakan tawarannya untuk mengenal lebih jauh mengenai tempat tersebut. 
Kami berangkat siang hari ketika matahari sedang tidak terlalu terik, Maumere sedang ramah dan bersahabat, Sabtu (24/5). Perjalanan kami tempuh sekitar 40 menit hingga tiba di plang Gereja Tua. Dari plang di pinggir jalan, kita harus menempuh jarak sekitar 8 kilometer untuk tiba disana. 
Memasuki Desa Sikka, ada sebuah tugu selamat datang berwarna merah lengkap dengan salib di atasnya. Pantai berpasir hitam dan berbatu menghampar di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan saya terus mengagumi keindahan alam yang ada disini. Namun rasanya sedih jika melihat keadaan rumah-rumah penduduk disini. Seperti ada yang timpang. 
Akhirnya kami pun tiba di depan Gereja Tua. Siang itu sedang ada orang yang wafat, seorang kepala sekolah di Desa Sikka. Kami pun sempat berfoto-foto di depan Gereja Tua, namun rasanya tidak mungkin untuk masuk ke dalam. Karena sedang ada persiapan misa untuk menguburkan jenazah. 
Gereja yang dibangun pada tahun 1800-an menjadi sangat unik dan terkenal karena konstruksinya dan arsitektur yang masih sangat bergaya kolonial. Karena gereja ini memang dibangun pada masa Portugis berkuasa di Indonesia. Jadi jangan heran melihat gaya arsitekturnya yang sangat berbeda dari gereja-gereja lain di Kab. Sikka. Interiornya masih asli dari zaman dulu. Banyak turis asing yang singgah ke tempat ini untuk melihat gereja tua ini. 
Karena kami tidak bisa masuk ke dalam gereja, kami pun memilih untuk pergi ke bawah, melihat kain-kain khas Sikka buatan kelompok ibu-ibu. Mereka datang menyerbu dan menawarkan kain khas. Saya pun kebingungan, untungnya Kak Nur jago berbahasa Sikka. Ia pun menjelaskan bahwa kami hanya berjalan-jalan dan sekedar melihat-lihat. 
Mereka bercerita mengenai penemuan emas di daerah ini. Banyak penduduk yang menemukan emas-emas tak bertuan di pinggir pantai. Ada penduduk yang menemukan kalung, anting, batu-batu emas dan juga bros berbentuk hati yang terbuat dari emas. “Kayaknya itu adalah harta karun dari kerajaan Sikka,” ujar kak Nur berspekulasi. Saya pun mengaminkan dalam hati, agak aneh jika menemukan kalung dan anting di pinggir pantai. Bukan hanya satu atau dua orang, tapi banyak orang yang mendapatkan emas dalam berbagai bentuk. 
Istana Kerajaan Sikka yang terbengkalai
Sambil bercerita, ternyata saya disuguhkan oleh sebuah rumah panggung besar yang terlihat kusam. Saya pun bertanya kepada ibu-ibu mengenai bangunan tersebut. “Itu adalah istana dari kerajaan Sikka. Diambil menjadi nama bagi Kabupaten Sikka,” ujar Kak Nur. Jangan membayangkan kata istana dengan bangunan megah nan indah. Istana kerajaan Sikka hanya sebuah bangunan bambu yang luas.
Tidur siang di istana
Ketika sedang mengabadikan gambar istana, kami bertemu dengan Om Emu, salah seorang keturunan raja Sikka. Kami pun berbincang dengannya sambil mengorek-orek sejarah kerajaan ini. Menurutnya kerajaan ini sudah ada sejak dulu kala, sekitar tahun 1800-an. Namun setelah raja terakhir wafat, istana ini pun sudah tidak diurus. Padahal dulunya ada banyak perabot di dalam istana, namun saat ini hanya bangunan kosong yang kusam. “Keturunan raja sudah pindah ke Maumere semua, hanya ada yang menjaga dan datang setiap hari senin dan kamis,” tambah Om Emu. Rumah panggung ini awalnya tidak sebesar ini, tapi pada tahun 1989, rumah ini direnovasi dan dipugar. Tapi, pada akhirnya rumah ini malah tak terurus. Lubang disana-sini dan dindingnya banyak yang dilepas oleh tangan-tangan jahil. 
Setelah berbincang dan mendapatkan banyak cerita sejarah dengan Om Emu, saya dan Kak Nur pun kelaparan. Kami membuka nasi bungkus yang telah kami bawa dari Maumere. Makan di dalam rumah panggung, rasa-rasanya ingin cepat tidur. Karena angin sepoi-sepoi menerpa wajah yang telah kenyang. Kami berbincang mengenai banyak hal sambil menunggu prosesi penguburan selesai. Pukul 2 lewat, kami pun mulai mengemas barang dan berangkat kembali ke Maumere. 
Kerajaan Sikka menjadi sebuah monumen penting bagi Kabupaten Sikka tapi masih terabaikan dan terlewatkan. Padahal Desa Sikka memiliki potensi menjadi desa sejarah dan desa wisata yang bisa dikembangkan. Mengingat Gereja Tua yang dibangun pada tahun 1800-an bisa menjadi sebuah ikon wisata yang menarik. 
Kak Nur
This article dedicated to Kak Nur yang udah mau bersusah-susah untuk menemani dan mentraktir saya. Thanks atas traktiran

Kabor Muda (baca : Kelapa muda) 😀 😀

Ditulis di Café sebelah Gramedia
Sabtu, 24 Mei 2014 8:30 PM
Sambil makan nasi goreng ayam pedas dan segelas kopi pahit

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *