Serpihan Cerita di Pulau Buru #fotocerita

diantara padang rumput di Pulau Buru
Karena belum sempat menulis tentang Pulau Buru, akhirnya saya berinisiatif mengumpulkan serpihan cerita dari instagram @adlienerz. Perjalanan singkat bersama dua orang sahabat, Hastuti dan Ona. Kisah ini sudah saya ceritakan di instagram dengan tagar #buruliburan #fotocerita. ๐Ÿ˜€

Semoga suatu saat bisa kembali lagi kesini..

Pelabuhan Namlea
Selasa, 22 Juni saya berangkat ke Pulau Buru lagi. Untuk keenam kalinya, saya akan menginjakkan kaki di pulau yang terkenal karena Tetralogi Buru ciptaan Pramoedya Ananta Toer.
Perjalanan dari Ambon menuju Namlea bisa menggunakan kapal ferry bisa mencapai 8 jam. Apalagi jika ombak sedang besar, hmmm. Selain kapal ferry ada juga kapal cepat yang bisa memangkas waktu perjalanan. Moda transportasi lainnya adalah kapal pelni dan juga pesawat terbang. 😊 Mungkin ini adalah perjalanan ke Buru terakhir kali sebelum kembaki ke Bogor. Jadi saya benar benar akan menikmatinya sebagai liburan selama tiga hari. 😊😊Jadi kali ini hashtag nya #buruliburan heheh.
Venue : Pelabuhan Fery, Namlea, Pulau Buru

Menikmati Pagi di Waeplau
Seharusnya ini menjadi perjalanan dinas saya terakhir sebelum memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak di Ambon. Tapi sepertinya Buru tak bisa dilewatkan begitu saja untuk tidak liburan. Jadi saya menikmati pagi di belakang cold storage sambil menggantung hammock. Dan disinilah saya, memandang laut dan dininabobokan oleh ombak.
Venue: Pantai Desa Waeplau, Buru

Kapal penongkol di Pantai Waeplau

Pemandangan inilah yang saya lihat dari hammock. Kapal penongkol yang sedang bersandar di pinggir laut. Pasir berwarna putih dan deburan ombak serta sinar mentari yang sedang hangat hangat kuku berhasil membuat saya ingin tidur lagi. Heheh.
Venue : Pantai Desa Waeplau, Pulau Buru

Batu kaca
Bebatuan di Pulau Buru ada yang unik. Bentuknya bulat dan seperti kaca, karena itu banyak yang menamakan sebagai batu kaca. Awalnya saya suka sekali mengantongi batu batu ini, tapi ketika sudah tiba di kamar, warna batu tidak seperti yang saya lihat di pantai. Karena itu, saya memutuskan untuk tidak mengambil lagi karena batu tersebut lebih indah di pantai.
Venue : Pantai Desa Waeplau, Pulau Buru
sunrise yang terlambat

Sunrise yang sudah terlambat. Setelah sahur saya ketiduran dan baru keluar kamar jam 6 pagi. Rencananya sih mau make hammock dan tidur lagi. Jadi inilah sunrise yang terlambat itu. Jam tangan menunjukkan pukul 6.35. 😊😊 
Venue : Pantai Desa Waeplau, Pulau Buru
masjid yang terbengkalai

Setelah selesai bekerja, saya dan kedua orang teman memutuskan untuk menginap di Ibukota Pulau Buru, Namlea. Saya pun segera mengambil motor dan berangkat.
Dan inilah masjid Masjid Jalan Rata Gelombang, pertengahan antara Lamahang dan Waeprang.
Masjid ini adalah salah satu saksi sejarah perpecahan manusia atas nama agama. Dulunya disini adalah sebuah perkampungan Rata Gelombang, namun karena kerusuhan pada tahun 2000an, desa ini hancur. Hanya tersisa sebuah bangunan masjid dan gereja di pinggir jalan. Sedih.. 😭😭 Semoga tak terulang kembali. #alfatihahuntuk semua orang yang wafat pada saat itu
Venue: Masjid Jalan Rata Gelombang, Pulau Buru 
Jalan Kongsi Anam

Perjalanan kami lanjutkan, tapi kami singgah sebentar di Jalan Panjang Kongsi Anam. Mungkin ada enam tikungan, sehingga dinamakan demikian. Hehe. Saya suka dengan latar belakang perbukitan yang saat ini sedang menghijau karena musim hujan. Jika sedang musim panas, warna bukit akan menguning. Jadilah kami narsis disini dan menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk mencari spot foto. Heheh

Venue : Jalan Kongsi Anam
lumpur cantik

Hayo tebak, ini dimana? Hehehe.
Ketika kita sedang cari spot foto, tiba tiba mata saya tertumbuk pada kubangan lumpur ini. Terletak di pinggir jalan Kongsi Anam.
Saya tidak tahu ini apa, tapi saya suka dengan corak seperti lumpur yang mengering. Seperti ada jejak kerinduan yang pernah mengalir disana. ๐Ÿ˜€ #eaaaaaa
Venue: Jalan Kongsi Anam, Pulau Buru

melompat

Tiga hari di Buru, wajahku terlihat seperti orang asli Bupolo. Hahaha. Walaupun kulit berwarna cokelat hangus tapi tetap ganteng dan keren. 😎😎😎 Ada yang mau protes? Hahah
Venue : Jalan Kongsi Anam, Pulau Buru
Pantai Waeperang

Saya berinisiatif untuk mengambil jalan kecil mengikuti sebuah motor. Tanpa diduga saya menemukan hamparan pasir putih yang memanjakan mata. Tidak ada sampah, hanya pasir putih dan debur ombak. Saya jatuh cinta pada hamparan pasir putih tanpa sampah seperti ini. Rasanya sya tidak ingin membaginya dengan orang lain.

Venue: Pantai Waeperang 

telaga namliwel

Ini adalah kali pertama saya datang ke telaga ini, padahal setiap kali saya ke Buru, saya selalu ingin singgah. Terletak di belakang bandara yang rencananya segera akan direalisasikan, telaga ini sangat menakjubkan. Ada satu sampan kecil milik nelayan yang menangkap ikan mujair.
Berita sedihnya adalah, di sisi telaga akan dibangun jalan untuk mengganti jalan utama yang dijadikan bandara. Jadi besar kemungkinan jika bandara sudah jadi, saya akan kehilangan pemandangan seperti ini. Hiks.
Venue: Telaga Namliwel, Desa Waeperang
mencari cacing tanah

Berbekal cacing tanah hasil galian di dekat kampung, Risky mencoba peruntungannya untuk menangkap ikan mujair. Biasanya ia bisa mendapatkan dua ekor mujair kecil. Katanya ia menunggu kakaknya yang juga sedang memancing. 😊😊 
Venue : Telaga Namliwel, Pulau Buru
sampan milik Pak Gafar

Perjalanan kami lanjutkan ke pantai yang paling terkenal di Pulau Buru, yaitu Pantai Jikumerasa. Pasir putih menjadi salah satu alasan kenapa pantai ini sangat famous. Ada penginapan tapi sepertinya tidak digunakan. Jadi mending bawa tenda kalau mau jalan jalan kesini. Sampan rusak yang tergeletak di bibir pantai. Kapal milik Pak Gafar yang saat ini mencoba peruntungannya menangkap ikan di pinggir pantai. Sampan biasanya digunakan oleh nelayan penangkap ikan karang. Karena tidak bisa pergi jauh ke tengah laut.
Venue : Pantai Jikumerasa, Pulau Buru
Pak Gafar

Dan inilah Pak Gafar, sedang duduk termenung melihat laut. Kapal beliau rusak, ada lubang sehingga tidak bisa digunakan. Karena itu ia memutuskan untuk menjala ikan di pinggir pantai. Tapi hari itu, ikan sedang tidak muncul. Saya melihat beliau berkali kali bolak-balik menyusuri pantai Jikumerasa. Menurutnya ia akan menunggu hingga malam hari untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Ada nada optimis di dalam suaranya.
Venue: Pantai Jikumerasa, Pulau Buru


refleksi
Jam tangan sudah menunjukkan pukul 17.56 WIT, dan saya masih ingin berlama lama di Jikumerasa. Refleksi sore dari pinus pantai dan perbukitan di belakangnya membuat saya betah. Apalagi berbincang dengan Pak Gafar membuat saya memiliki pandangan baru ttg kehidupan. Terkadang kita hanya perlu berjalan untuk saling menemukan.
Venue : Pantai Jikumerasa, Pulau Buru
ketel minyak kayu putih


Selain mencari tempat bagus, ka
mi pun singgah di sebuah ketel (tempat untuk menyuling minyak kayu putih). Kami bertemu dengan bapak La Gani, beliau sedang bertugas menyuling minyak kayu putih. Laki laki yang berasal di Buton ini menghidupi keluarganya dari minyak kayu putih. Anak anaknya sudah masuk kuliah berkat minyak kayu putih. Namun menurutnya ia harus bekerja ekstra keras untuk mencari dan menyuling minyak kayu putih.

Venue : Ketel di Danau Jikumerasa, Pulau Buru

Ini bapak La Gani, beliau adalah salah satu dari 9 pemetik minyak kayu putih yang bekerja menyuling di ketel ini. Jadi ada jadwal menyuling bagi setiap pemetik. Minyak kayu putih sebotol Aq*a dijual 150ribu. Benar benar asli. Belum ada campuran. Beda dengan minyak kayu putih yang dijual di pasar.Setiap pemetik minyak kayu putih mendapatkan 70% hasil penjualan, sisanya dimiliki oleh pemilik ketel.
Venue : Ketel Danau Jikumerasa, Pulau Buru
berkah bagi Buru

Melaleuca leucadendra syn. M. leucadendron adalah nama latin dari pohon Minyak Kayu Putih. Tumbuh subur di Pulau Buru, pohon ini menjadi bahan baku minyak kayu putih (cajuput oil). Baunya sangat khas. Untuk mendapatkan minyak kayu putih, digunakan daun daun nya. Karena itu di Buru banyak masyarakat yang berprofesi sebagai pemetik daun minyak kayu putih.
Venue : Jalan Kongsi Anam, Pulau Buru

Kendaraan yang selalu saya gunakan selama di Pulau Buru. Motornya Pak Muhlisin yang bekerja di Cold Storage SLI. Heheh. Motor ini juga yang saya gunakan untuk belajar naik motor kopling. Perjalanan pertama saya dari Waeplau – Namlea. Kemudian setelah merasa mantap, sya membawa motor ini hingga ke Air Buaya. Haha. Punya banyak Klkenangan manis di Buru karena motor ini.
Thanks Pak Muhlisin. 😊😊 
Venue : Jalan Kongsi Anam, Pulau Buru


Setelah puas menjelajah ke arah Namlea, kami pun melanjutkan perjalanan ke air terjun didekat Cold Storage. Lagi puasa sih, padahal airnya terlihat enak. Hahah.
Venue : air terjun Waeura, Pulau Buru

 

Dan inilah team jalan jalan saya kali ini. Terdiri dari Ona dan Tuti. Mereka dengan sabar mengikuti segala tujuan saya selama di Buru. Haha.
Thanks ya.
Semoga perjalanan kemarin berkesan. 😊😊 
Venue : Pantai Rahasia, Pulau Buru

Oke, ini adalah foto penutup dari kumpulan #fotocerita tentang #buruliburan . 4 hari yang berkesan dan saya tidak ingin bersedih. Karena saya yakin, suatu saat saya akan kembali lagi kesini. Thanks Bumi Bupolo atas keramahannya. I love it. 😊😊😊 
Venue : Gerbang Masuk Kota Namlea, Buru

dikumpulkan di Kantor Kak Agus
1:32 WIB, Minggu 25 Oktober 2015

You may also like

9 Comments

  1. Iya, tapi harus langsung booking tiket sebelum malam. biasanya tiket selalu habis kalau ud jam 7 malam. kapal selalu berangkat jam 8 malam. ๐Ÿ˜€

  2. Itu yang foto refleksi bagus banget tempatnya dlien, yang foto ada lu nya mending apus aja. *kabur*

  3. trim informasinya, membuat saya terkenang dan membuka lembaran album yg pernah terekam dibenak saya kembalisaya buka kembali pada lokasi waeperang, kongsi anam, kampung sawa, waplau way ura, air buaya, savana jaya dll, maturnueun

  4. Terima kasih atas kunjungan ke website ini pak Imam. Berapa lama tinggal di Buru pak? Sepertinya bapak sangat hafal dengan keadaan disana? ๐Ÿ™‚

    Salam kenal pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *