Cerita di Rumah Sakit #1 (Kisah non – Perokok yang Sakit)

Sumber : Beritadaerah.co.id
Seringkali kita meremehkan sebuah anugerah terbesar dalam hidup kita. Seringkali kita abaikan, sering pula kita anggap sepele. Hingga akhirnya kita kehilangan anugerah tersebut dan mulai menyesalinya. 
Saya sedang berbicara tentang anugerah sebuah KESEHATAN. Seminggu sudah saya duduk di ruang tunggu, menunggu nama Datuk saya dipanggil oleh satpam yang menjaga di depan pintu. Datuk mendapatkan perawatan intensif di ruang Intermediate Rumah Sakit Harapan Kita. 
Disini ada sekumpulan ibu-ibu yang saling membantu dan saling support keluarga pasien. Saya merasakan ada kesamaan dari mereka. Sama-sama saling berharap dan memiliki harapan besar akan kesembuhan sang pasien.
Dari banyak keluarga pasien, saya berkenalan dengan seorang ibu-ibu yang sedang menunggui suaminya. Ia dengan setia tidur di kursi rumah sakit setiap malam dan menahan dingin. Ia sudah hadir di rumah sakit sejak 7 hari yang lalu. Sekedar informasi, jika dirawat di Rumah Sakit ini, ada kemungkinan besar, pasien adalah yang memiliki penyakit jantung atau kelainan jantung. 
Ternyata sang suami di diagnosa memiliki penyakit jantung koroner. Pikiran saya langsung menyalahkan rokok, namun ternyata sang suami tidak merokok dan juga tidak mengonsumsi minuman keras. Menurutnya hal ini dikarenakan asap rokok dari teman dan juga stress pekerjaan. Padahal umurnya baru menunjukkan 39 tahun. 
Minggu lalu, keluarga pasien mendapatkan kuliah singkat dari dokter mengenai Penyakit Jantung Koroner. Menurutnya, penyakit jantung koroner bukan hanya disebabkan oleh rokok, namun jika pola hidup yang tidak sehat dapat memacu timbulnya bisul di pembuluh darah. Dan jika pembuluh darah di jantung itu pecah, maka si penderita akan terkena serangan jantung dan bisa meninggal seketika. Karena itu ada beberapa metode penyembuhan yang digunakan dan harus minum obat seumur hidup.
Penyebab utama penyakit jantung adalah asap rokok. Jadi bukan karena perokok, secara otomatis akan terkena penyakit jantung. Namun si penghirup asap rokok (perokok pasif) juga memiliki kans yang sama untuk terkena penyakit jantung. Inilah yang dialami oleh suami si ibu. Saya jadi sedih, karena saya adalah perokok pasif juga. Banyak teman-teman yang saya kenal adalah seorang perokok. Dan ketika saya berinteraksi dengan mereka, secara otomatis mereka memberikan residu rokok secara tidak langsung kepada saya. Hiks.
Kita selalu menganggap remeh kesehatan, dan jika sudah merasakan sakit, penyesalan pun datang bertubi-tubi. 
Datuk sudah berumur 87 tahun. Beliau awalnya perokok aktif, namun sejak umur 50, Datuk langsung berhenti. Menurut Datuk, hal ini dikarenakan ancaman seorang Dokter yang memprediksi umur Datuk tidak akan lama jika beliau terus merokok. “Datuk dikasih tahu umur Datuk tinggal 4 bulan lagi, kalau terus merokok,” ujarnya sambil tersenyum. 
Setelah itu Datuk benar-benar berhenti total. Sama dengan Datuk, Ayah juga sudah berhenti merokok tahun lalu. Sampai Bunda mengingatnya sebagai kado pernikahan terindah yang pernah Bunda dapatkan selama ini. Karena seringkali anak-anak dan Ayah berdebat mengenai bahaya rokok. Namun karena Ayah juga adalah seorang pendebat yang hebat, sehingga kami seringkali mengalah dan menutup hidung. Ayah akan menyingkir dari pandangan kami dan naik ke lantai dua untuk merokok disana. Namun setelah mengalami batuk yang parah dan terlalu lama, Ayah akhirnya memutuskan untuk berhenti total. 
Rasa-rasanya tinggal disini selama beberapa hari membuat saya belajar untuk berusaha lebih sehat. Namun tetap saja keinginan hanya sekedar keinginan. Saya selalu tidak bisa untuk olahraga dan makan makanan sehat. Saya tetap saja memakan nasi uduk dengan dua porsi, tetap makan sate kambing, tidak berolahraga. 
Saya harus membuat janji buat diri saya sendiri untuk berolahraga dan lebih banyak berolahraga. Pokoknya olahraga! Target harus turun jadi 58 kilogram! Soalnya sekarang udah memasuki 65 kilogram!!  
Dari cerita diatas saya pun memilih untuk mencari suami yang tidak punya riwayat merokok dan suka berolahraga dan juga hidup sehat. Hahaha. Ini artikel apa sih? Baper banget…
Get well soon, Datuk…
Ditulis di Ruang Tunggu Intermediate Rumah Sakit Harapan Kita
9.02 AM Minggu, 6 September 2015

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *