Mengenal Bogor Lebih Dekat

Oke, gue bukan mau sok tau kayak Mbah Dukun di daerah Plered sana (lah kok??).. gue lagi nyari inspirasi untuk menulis tentang perjalanan lagi. tiba-tiba tercetus ide untuk jalan-jalan keliling Kota Bogor. idenya keluar pas gue liat papan info wisata kota Bogor di depan Botani Square. hehehe.
Me and my future.. Amien ya rabbal alamin..
ternyata Bogor memiliki keunikan sendiri sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, 530 tahun boooo. uda tuwir banget. hehehe. sejarah kota Bogor sendiri adalah tempat berdirinya Kerajaan Hindu Tarumanegara di abad ke lima. lalu beberapa kerajaan lainnya untuk memilih bermukin disana dikarenakan lokasinya yang berupa pegunungan. bisa dikatakan secara alami lokasi ini membuat mudah untuk bertahan dari ancaman serangan. 
Di Bogor tersimpan cerita kerajaan zaman dahulu yaitu Kerajaan Pajajaran. tapi gue ga akan bahas soal itu lebih dalam. gue akan menceritakan perjalanan yang gue lakukan bersama sobat gue, Om Jo. wkwkkw. Kita berangkat hari Kamis, 23 Agustus 2012, gue dari Stasiun Bojonggede, Om Jo dari Stasiun Citayem. Dan kita ketemuan di Stasiun Bogor, salah satu peninggalan zaman kolonial Belanda juga. πŸ˜€

Perjalanan ini kita mulai dari Istana Bogor yang tak bisa di”ringsek” massa. karena Istana Bogor cuman dibuka untuk umum pada hari-hari tertentu aja. Pada Mei lalu, Istana Bogor dibuka untuk umum ketika Bogor berulang tahun. Happy Birthday…(lah kok??).. Jadi di Istana Bogor kita cuman ngeliatin anak kecil kasih makan rusa tutul. Di sekitar pagar Istana Bogor dijual beraneka jenis wortel segar untuk diempankan ke rusa. 

Oke, perjalanan berlanjut. kami pun melangkahkan kaki ke Museum Etnobotani. Terletak di depan Kebun Raya Bogor, museum ini terkesan tua. Dibangun pada tahun 1962, di museum ini kita bisa melihat ketertarikan pemanfaatan tumbuhan nusantara. Gue gag bisa masuk karena museum masih libur. hhikzzz..
Bergaya di Depan Pintu Masuk KRB
kaki kami pun melangkah lebih jauh, tujuannya Museum Tanah atau biasa disebut Museum of Soil. (ceillleee.. ). Hal yang sama pun terjadi kembali. Museum tidak terbuka untuk umum. kalau mau masuk harus dapat surat persetujuan dari kantor Pertanahan di Cimanggu. (what the? jauh gilee. ). akhirnya gue cuman bisa menatap nanar Museum Tanah dari jauh.. hhikkzz..
setelah gagal dengan Museum Tanah, gue harus berhasil dengan Museum Zoologi. Museum Zoologi masuk dalam kawasan Kebun Raya Bogor (KRB), alhasil gue harus beli tiket untuk masuk KRB. harganya 10 ribu. itu sudah termasuk dengan infak untuk PMI. πŸ˜€
mungkin karena masih suasana libur lebaran, jadi KRB dipadati pengunjung. mulai dari enyak-babeh-ncang-ncing-anak-bahkan bayi yang belum lahir. (lah kok??).. Kebun Raya Bogor atau dikenal dengan nama keren Bogor Botanical Garden awal mulanya merupakan bagian dari “samida” (hutan buatan) yang paling tidak telah ada sejak pemerintahan Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Sunda. 
Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal van der Cappellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18. Hingga pada awal 1800-an Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles yang mendiami Istana Bogor dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun cantik. itu sejarahnya.
Monumen Olivia Raffles
Di dalam Kebun Raya Bogor ada beberapa tempat bersejarah seperti monumen istri Thomas Stamford Raffles yaitu Olivia Raffles yang wafat pada tahun 1814. Ada juga Tugu Reindwardt, tapi gue gag sempet kesana. Tujuan gue tetep Museum Zoologi, museum yang pernah masuk dalam acara setan-setanan ini dihiasi dengan binatang mati yang diawetkan. makanya terkesan menyeramkan, tapi mengasyikkan bisa melihat hewan-hewan langka yang sudah tidak ada dari dekat. Misalnya aja Harimau Bali yang udah punah dari tahun 1932 atau Badak Hitam yang udah punah dari tahun 1800-an. Menarik untuk mempelajari mereka.. Tapi yang paling gue suka adalah kerangka Ikan Paus Biru. gede banget.
Di depan Badak Hitam terakhir
Perjalanan pun kami lanjutkan ke Rumah Anggrek. dimana ada beberapa jenis anggrek langka bahkan hybrid (campuran dari dua jenis anggrek). Disini tersimpan rekam jejak jenis anggrek dari berbagai pelosok Indonesia. Ada juga yang dari Sulawesi, Sumatera, Papua dan daerah lainnya. Yang gue suka dari Rumah Anggrek ini karena desainnya yang gue banget, alami banget.. (insyAllah gue bakalan punyaa.. doain aja yaa).
Om Jo berpose di depan anggrek putih
Setelah puas mengoleksi gambar di Rumah Anggrek, kami pun bergerak menuju Jembatan Gantung. Jembatan yang berwarna merah tua ini memiliki sejarahnya sendir
i. Jika pasangan yang sedang kasmaran meniti di jembatan ini, maka dipastikan mereka akan putus. wkwkwk .. Setelah sampai di ujung jembatan, kami menyusuri jalan dan kembali menemukan kerumuman orang. Penciuman kami merasakan bau dupa yang digunakan untuk sembahyang orang Budha. Ternyata kami mampir di Makan Nyi Ratu Prabu Siliwangi. Gue gag tau ini bener atau salah, yang pasti gue dapat info dari seorang bapak penjaga makam tesebut. 
Jembatan Gantung Max 10 orang
Tak lama kami pun sepakat untuk keluar dari Kebun Raya Bogor, kaki sudah letih untuk terus berjalan. kami pun memutuskan untuk mencari oleh-oleh. ada toko yang menjual kerajinan tangan, tapi karena uang menipis, kami pun membatalkan niat.. (dan penonton pun kecewa)… 
Toko Kerajinan Tangan
Karena lelah dan lapar melanda kami pun menyempatkan diri untuk makan siang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami pun melahap Soto Mie Bogor sebagai makan siang. Dan itu tanda selesainya perjalanan kami.. πŸ˜€

Mengenal Bogor tak harus melewati zaman, namun mencari tau apa yang masih tersimpan dan tertinggal dari kenangan masa lampau..

Selamat menjelajah Indonesia.. πŸ˜€

Love your Indonesia and thank you for watching.. πŸ˜€

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *