Perpustakaan Habibie dan Ainun yang Menawan

Terima kasih Allah, Engkau telah menjadikan Ainun dan saya manunggal jiwa, roh, batin, dan hati nurani. Kami melekat pada diri kami sepanjang masa di manapun kami berada…” – kata-kata Habibie untuk Ainun di dalam bukunya.

Berkesempatan untuk bertemu Eyang Habibie (panggilan kami kepada Prof BJ Habibie) merupakan anugerah besar bagi saya di tahun ini. Setelah bertemu dengan beliau langsung di acara Welcoming Alumni LPDP, panitia inti diajak untuk mengunjungi Eyang Habibie di Wisma Habibie Ainun. Lokasinya di Jalan Patra Kuningan XIII no. 5, Jakarta Selatan.

pintu masuk ke perpustakaan

Ketika pertama kali datang kesini, suasananya adem karena banyak pepohonan. Di sekitar sana banyak Kedutaan Besar seperti Australia, Inggris, Laos dan masih banyak lagi. Kami yang datang rombongan menghadapi bagian keamanan. Ada daftar tamu yang sudah disediakan oleh pihak Perpustakaan Habibie Ainun. Sepertinya harus mengatur jadwal dan janji jika ingin mengunjungi perpustakaan ini.

Sebelum memasuki Perpustakaan Ainun Habibie, kami menunggu di bagian Wisma Ainun. Sebuah ruangan yang menunjukkan bukti cinta Eyang Habibie kepada Eyang Ainun. Saya pernah menuliskan review tentang buku Ainun Habibie di tahun 2012. Saya membacanya sampai habis dan menangis terus menerus. Eyang Habibie begitu mencintai Eyang Ainun, disinilah ada beberapa foto-foto mereka berdua di dalam frame besar. Tawa Eyang sangat lepas di dalam foto tersebut. http://www.adlienerz.com/2012/12/kisah-cinta-habibie-dan-ainun.html Saya benar-benar mencintai cara mereka berdua mencintai satu sama lain.

Setelah melewati wisma, kami dipersilakan memasuki Perpustakaan Habibie Ainun. Ada dua buah kolam kaca yang berisi puluhan ikan mas dan ikan koi. Lucu.. Ditambah sebuah taman yang rindang di sebelah kanan. Saya membayangkan Eyang sering menghabiskan waktu di taman itu untuk sekedar berjalan-jalan.

Nah masuklah kami ke dalam perpustakaan yang berukuran sekitar 8×17 meter. Arsitektur yang dimiliki perpustakaan ini bergaya Eropa, dengan lampu besar dan furniture kayu mewah. Saya menebak bahwa perpustakaan ini merupakan salah satu tempat favorit Eyang. Ribuan buku yang dikumpulkan oleh Eyang sejak menjadi mahasiswa di Jerman. Menurut Pak Ruby, asisten Eyang, buku-buku ini sudah sangat lama dan jumlahnya ribuan. Mulai dari buku-buku berbahasa jerman, inggris, indonesia dan lain sebagainya. Banyak sekali..

they look so happy..

Ruangan ini memiliki dua lantai dimana lantai atas juga diisi oleh susunan buku-buku. Sebuah tangga yang meliuk dan memiliki pegangan tangan emas menjadi satu-satunya tempat naik ke lantai 2. Di salah satu sudut ruangan ada sebuah piano berwarna hitam. Saya lupa bertanya kepada Pak Ruby, siapa yang biasa memainkan piano tersebut.

Deretan buku tertata rapih yang menunjukkan bagaimana selera Eyang dalam keteraturan. Tak ayal Pemilik teori ’Crack Progression’ atau biasa disebut “theory of Habibie” sering menerima tamu di ruang ini. Tepat pukul 16.00 WIB, Eyang Habibie masuk ke dalam ruangan. Kami mendapatkan beberapa wejangan mengenai keluarga dan hubungannya untuk pembangunan Indonesia dari Eyang. Selain itu beliau juga menceritakan sedikit kegiatan beliau. Ternyata resep Eyang selama kuliah selalu memiliki rutinitas mengingat Allah SWT, seperti mengaji, shalat tahajud dan yasinan.

Tak lupa Eyang memberikan resep sehatnya. Walaupun umur Eyang sudah berumur sekitar 80 tahun tapi beliau masih fit. Rahasianya adalah Eyang rajin berenang. Hmm.. Harus mulai berenang lagi nih kayaknya.

Eyang Habibie memberikan wejangan kepada kami untuk terus menuntut ilmu dan mengaplikasikannya di Indonesia. Tak heran jika Eyang Habibie mendapatkan banyak penghargaan Lifetime Achievement dari beberapa instansi. Piagam-piagam itu terpampang rapih di dinding perpustakaan. Selain itu miniatur pesawat CN 235 yang sempat menjadi kebanggaan negeri ini. Kontribusi Eyang dalam berbagai bidang membuat ia menjadi tokoh nasional Indonesia. Beliau membangun institut The Habibie Centre dan Yayasan Orbit Hasri Ainun Habibie untuk membantu anak-anak muda di Indonesia untuk terus bersekolah. Institut ini bekerjasama dengan berbagai lembaga donor untuk memberikan beasiswa dalam berbagai bidang. Informasi ini bisa didapatkan di website-website lembaga tersebut.

miniatur pesawat yang ada di dalam perpustakaan

Selain itu momen yang paling saya ingat adalah kami disuguhkan pisang goreng yang menjadi menu favorit Eyang Habibie. Namanya rempang, atau rempeyek pisang. Potongan Pisang tanduk yang dibalur tepung terigu dan tepung beras. sehingga sensasi kriuk-kriuk terasa ketika pisang goreng itu digigit.

Ketika meninggalkan perpustakaan, langit sudah mulai gelap. Dari perpustakaan ini terpancar bagaimana  sosok pria lulusan Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen, Jerman tersebut.

Semoga Eyang Habibie selalu sehat.. Aaamin ya rabbal alamin..

Alamat Perpustakaan Habibie Ainun : Jl Patra Kuningan XIII No. 5, Jakarta, Indonesia

ditulis di DFW Indonesia

18:40 WIB 18 Mei 2017

sambil dengar lagu Malibu – Milye Cyrus dan membayangkan Rempang.. 🙂

 

You may also like

2 Comments

  1. Belum tau kak. Kemarin soalnya bikin janji dulu. Sepertinya harus bikin janji terlebih dahulu agar bisa masuk, kak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *