Sebira, Pulau Bugis yang Termakan Zaman

Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Sebira saya bertanya-tanya, apakah pulau ini sama seperti yang saya temukan di Google. Banyak yang menyematkan sebagai Pulau Bugis karena menurut beberapa website di Pulau Sebira nyaris 90% penduduknya berasal dari Bugis. Saya sudah menyiapkan beberapa kosakata dalam bahasa Bugis agar bisa bertahan disana. Kata-kata seperti Nganre’ , Massipa’ , Tindro’ menjadi kata andalan.  *)

Menurut situs berita tentang Kepulauan Seribu, Pulau Sebira dipersiapkan menjadi KampungWisata Bugis. Hal ini dikarenakan banyaknya rumah dan penduduk Bugis yang masih asli. Sehingga saya berekpektasi lebih tentang pulau yang berpenduduk 500 jiwa.
Setibanya di Dermaga Apung saya segera menuju rumah salah seorang penduduk untuk menunaikan “hajat” pagi. Awalnya sang pemilik rumah menggunakan bahasa Indonesia, tapi ketika mendengar saya menggunakan imbuhan mi’pada akhiran percakapan, mereka mulai menyadari bahwa saya tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Orang Bugis ki’? Pake logat Bugis ki’tadi? Bugis mana ki’?” tanyanya seakan ingin memastikan. 

 

Saya mengangguk tapi kemudian menggeleng. “Bukan ka’orang Bugis kasi’, pernah ja’ kuliah di Makassar lima tahun, makanya beginimi’ bahasaku’,” jelasku panjang lebar sambil tertawa. Sudah bukan hal aneh jika banyak orang mengatakan saya orang Bugis.
Bapak itu tersenyum. “Saya pikir orang Bugis ki’, karena kalau Bugis, banyak saudara ta’disini,” jawabnya lagi.  
Saya mengiyakan dan membuktikan kata-kata Bapak itu. Penduduk Pulau Sebira memang hampir didominasi oleh warga dari Sulawesi Selatan yang datang dari daerah berbeda. Ada yang berasal dari Wajo, Sengkang, Makassar, Sidrap, Sinjai dan daerah lainnya. Sisanya berasal dari Lampung, Jakarta, Riau dan Sunda.
masih ada rumah panggung disini
Merunut cerita dari Pak Agung, salah satu warga di Pulau Sebira, awalnya hanya ada mercusuar di pulau ini. Namun lama kelamaan pendatang dari Sulawesi Selatan mulai menjelajah hingga Pulau Sebira. Mereka meminta izin kepada pengawas mercusuar untuk tinggal sementara. Itu sekitar tahun 1960-an. Mereka mencari ikan di sekitar Pulau Sebira. Membuat tenda darurat sebagai tempat tinggal sementara ketika musim ikan. Pernah sekali waktu tidak ada musim ikan selama 3 tahun berturut-turut di Perairan Pulau Sebira hingga para nelayan mengosongkan pulau. Tapi ketika ikan mulai banyak, nelayan kembali datang ke Pulau Sebira sekaligus mendatangkan keluarga mereka. Dari peristiwa inilah perlahan-lahan perkampungan nelayan Bugis terbangun. “Disini ada pemakaman umum yang tak punya penanggalan di batu nisan, saking lamanya,” jelasnya. 
Sepanjang pulau masih bisa kita temukan rumah-rumah panggung adat Bugis. Apalagi dibagian timur, dekat Shelter Penangkaran Penyu. Ada beberapa rumah panggung yang berdiri kokoh. Di bagian bawah rumah digunakan sebagai tempat penyimpanan barang dan ikan asin yang telah dikeringkan siap packing. Ada juga ayunan bayi. Saya bertemu dengan salah satu warga pulau, Pak Gaffar. Ia mengatakan bahwa rumah kayu sudah dibangun sejak tahun 80an. “Saat itu kayu masih murah, sekitar Rp. 500.000 per kubik, sekarang banyakmi yang nda’ pakai kayu karena mahal. Lebih baik rumah batu, hanya beli batako saja, karena pasirnya diambil dari pantai,” terangnya. Memang, saat ini konstruksi di Pulau Sebira sudah didominasi dengan rumah batu. Sedikit demi sedikit rumah panggung mulai ditinggalkan dengan pasti. 
Selain dari konstruksi bangunan, saya juga melihat degradasi penggunaan bahasa Bugis di dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Bugis hanya digunakan oleh para orang tua. Anak-anak dan remaja memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang lebih mengarah bahasa Jakarta. Mereka tak lagi menggunakan kata ‘saya’, tapi memilih kata ‘gue’ dalam percakapan. Saya tak menemukan bahasa Bugis di dalam komunitas anak muda. Tapi ketika saya bertemu dengan para orang tua, mereka dengan sangat senang mengajak saya berbincang. Hingga saya kewalahan menjawab pertanyaan mereka. 
Namun ada beberapa dari orang tua sekitar umur 25 – 30 tahun yang tak bisa berbahasa Bugis. Karena mereka adalah generasi kedua yang ada di pulau ini dan memilih merantau sebelum akhirnya kembali ke Pulau Sebira. Sehingga cara berbicara mereka lebih fasih menggunakan bahasa Indonesia. Jika disodorkan percakapan dengan bahasa Bugis, mereka hanya paham artinya namun tak bisa menjawabnya. Hingga akhirnya anak-anak mereka pun tak paham dengan bahasa Bugis yang digunakan oleh Kakek Neneknya. 

 

belajar jalan sendiri

 

Namun masyarakat Bugis disini masih berusaha mempertahankan adat istiadatnya. Acara pernikahan tetap digelar meriah seperti acara pernikahan Bugis kebanyakan. Tetap menggunakan uang panaik’ dan beberapa sesi pernikahan seperti Mappetuada’, Mappaci’ dan lainnya Selain itu kuliner khas Sulawesi Selatan juga masih bisa ditemui disini. Sebut saja Barongko (penganan pisang yang dicampur santan dan gula), Pulu (ketan), Kapurung (campuran sayuran) dan Bajabbu (abon ikan). Karena itu saya merasa betah disana. Seakan-akan saya berada di sebuah pulau di daerah Sulawesi Selatan. Ternyata saya rindu suasana disana. 
NB : Nganre’ artinya Makan, Massipa’ artinya Enak , Tindro’ artinya Tidur. 
Catatan perjalanan Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 ke Pulau Sebira #enj2016 
Ditulis di Kantor Kak Agus
15:45 WIB Senin, 03 Oktober 2016
Sambil dengar lagu Laluna Selepas Kau Pergi

You may also like

4 Comments

  1. "Saat ini konstruksi di Pulau Sebira sudah didominasi dengan rumah batu. Sedikit demi sedikit rumah panggung mulai ditinggalkan dengan pasti."

    Khan rumah batu juga sebenarnya bisa dibikin panggung kak, kenapa masyarakat berhenti pakai panggung ya cuma gegara kayu mahal?

    Aduh, arsitektur emang pelik sih, ga bisa dilihat dari satu sisi aja

  2. aduhh, ak baca komentarmu jadi merasa bersalah menuliskan hanya dari satu sisi aja.. kapan2 kalau kesana lagi emang harus ditanya lebih dalam sih kak. hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *