Setengah Hari Mengenal Jakarta di Kawasan Monas

anak rantau kite. πŸ˜€

Diawali dengan perjanjian untuk bertemu di Monumen Nasional (Monas) hari minggu siang. Saya, Hery, Ummul dan temannya Hery  setelah Hery dan temannya selesai ke gereja di bilangan Pasar Minggu. Saya pun mengiyakan untuk bertemu di Stasiun Bojonggede, namun ternyata Ummul sudah terlambat lebih dari satu jam. Alasan klasik : Macet. Akhirnya Kami pun bertemu ketika waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Kami hanya punya sedikit waktu untuk mengenal Jakarta. Setengah hari.. πŸ˜€

Untuk mencapai Monas dengan cara yang mudah dan praktis bagi pecinta moda transportasi umum seperti saya, disarankan menggunakan commuter line. Sebenernya lebih mudah jika stasiun Gambir dibuka untuk persinggahan commuter line Jabodetabek. Tapi semenjak tahun 2012, pengguna jasa commuter line harus turun di Juanda atau Gondangdia jika ingin ke Monas.
Kami pun memilih turun di Stasiun Juanda karena jaraknya yang lebih dekat, serta nyaman untuk berjalan kaki di bawah kanopi pohon. Selain itu kita juga bisa melewati Katedral dan Masjid Istiqlal. Kalau naik bajaj bisa dikenakan biaya sampe 20 ribu, karena memang bajaj harus memutar. Sedangkan jika berjalan kaki, tidak perlu memutar.

kerak telor
abang kerak telornya kinyis-kinyis

Setibanya di Monas, untuk bertemu Hery rasanya cukup sulit. Karena banyak sekali orang yang sedang menghabiskan waktunya bersama keluarga. Menurut saya Monas menjadi tempat favorit murah bagi warga untuk bercengkrama bersama keluarga. Disini bisa bermain layangan, naik delman, makan-makanan khas daerah seperti kerak telor Jakarta, soto mie Bogor, Tahu Gejrot Cirebon, Es Dawet ayu Banjarnegara, dan lain sebagainya. Selain warga lokal, kita juga bisa menemukan warga asing yang sedang berlibur disini. Sebenernya pengen banget ngobrol-ngobrol sama bule, tapi entah kenapa saya malu. 

Setelah puas berpose ria di depan Monas, kami pun melanjutkan perjalanan. Teman perjalanan bertambah dengan datangnya Kiki, kawan kami dari LPMH Unhas. πŸ˜€ Kami singgah di Katedral dan Masjid Istiqlal. Karena tidak bisa masuk, saya, Hery, Lia serta Tia duduk-duduk di Kawasan Kuliner Masjid Istiqlal. Kami memesan kerak telor. Harganya cukup murah, 15 ribu untuk satu porsi kerak telor. Kami memilih telur bebek untuk kerak telornya. Jika dilihat, sepertinya membuat kerak telor terlihat mudah. 
Beras direbus diatas wajan, kemudian ditunggu hingga nyaris masak seperti nasi pera. Setelah itu, dimasukkan telur bebek dan juga serbuk kelapa yang sudah dibumbui. Adonan kemudian dimasak diatas tungku. Yang lucu dari kerak telor adalah cara memasaknya. Untuk mematangkan bagian atas kerak telor, si penjual membalikkan wajan. Sehingga api tungku langsung kena ke bagian atas kerak telor. Jika tak pandai, ada kemungkinan adonan bisa masuk ke dalam tungku. Mas Fanny, sang penjual membiarkan saya beberapa kali mengambil aktivitasnya sedang memasak kerak telor.
menjajal City Bus Tour

Puas makan kerak telor, kami pun melanjutkan petualangan kecil kami, yaitu menjajal bis City Tour. Bis dengan tipe double dekker ini membawa saya kembali ke masa kanak-kanak. Bis yang didapuk sebagai bis City Tour ini mampu menampung hingga 40 penumpang. Untuk naik bis ini kita tidak membayar apapun. Alias gratis tis. πŸ˜€ dan serunya lagi kita bisa muter-muter. Waktu operasi bis ini mulai dari jam 8 pagi hingga pukul 7 malam. Karena kami sudah kelelahan dan juga kelaparan, kami pun harus turun dan mencari makan malam. 
Sebagai hidangan pembuka, kami sepakat untuk menikmati es krim Italia yang sudah sangat terkenal. Terletak di Jalan Veteran 1, kedai es krim yang sudah buka sejak tahun 1932 ini selalu ramai oleh pengunjung. Saat ini kedai es krim dikelola oleh Ibu Yeni, generasi ketiga dari pemilik sebelumnya. Ia terlihat terburu-buru dalam melayani pembeli. Ketika saya berkenalan dengannya
ia sampai curhat bahwa pembeli seringkali bertanya tanpa menggunakan matanya. Pertanyaan-pertanyaan sepele seperti : β€œChocolate Sundae itu rasa apa? Banana split itu pake pisang gak? Tempat makannya penuh atau enggak?” seringkali membuat Ibu Yeni kesal. Hal ini yang membuat Ibu Yeny terlihat tidak ramah. Tapi sebenarnya ia hanya kecapean menjawab pertanyaan remeh temeh dari pengunjung. Hihihi. 
kedai es krim Ragusa

Kami memesan empat jenis es krim yaitu es krim durian, banana split, spaghetti es krim dan juga triple mix. Harga per porsi berkisar antara 20 sampe 35 ribu rupiah. Untuk banana split dibanderol dengan harga 30 ribu, sedangkan spaghetti dihargai 35 ribu. Suapan pertama, saya bisa merasakan lembutnya es krim susu rasa vanila. Baru pertama kalinya saya merasakan es krim yang tidak β€˜nyangkut’ di tenggorokan. Saya suka! 

spaghetti ice cream
banana split
Menurut beberapa teman, di depan kedai es krim ini adalah penjual sate ayam, dan sate ayamnya sangat enak. Sayangnya ketika kami kesana, kami tidak menemukan penjual sate. Sepertinya sudah habis. Karena kami datang, waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Sepertinya harus kembali lagi dan mencicipi sate ayam yang terkenal.

bagian dalam kedai es krim Ragusa

Ditulis di kantor Kak Agus, Pejaten, Pasar Minggu
Senin, 10 Agustus 2015 16.22 WIB
Tulisan ini didekasikan untuk Hery S Pasaribu yang sudah mentraktir kami-kami ini. Thanks Herpas. πŸ˜€

yeah!

Jakarta malam hari. sukkkaaaa. πŸ˜€

You may also like

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *