#beliyangbaik untuk Masa Depan yang Lebih Baik

stand seafood saver
Setelah menghadiri pernikahan Kak Yasser, saya pun segera beranjak menuju Duren Kalibata. Saya janjian dengan kak Idham Malik, untuk datang dan melihat Festival #beliyangbaik yang diadakan oleh WWF Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan di Bintaro Xchange Mall ini melibatkan beberapa artis ibukota, seperti Nugie, Davina, Bastian dan Jamaica Cafe. Kami bertemu di perumahan di bilangan Duren Kalibata. Ternyata selain saya, kak Idham juga mengajak seorang teman bernama Dirga. Alhasil kami pun berkenalan. 

Ternyata pada hari Sabtu, jalanan macet dan kami yang menumpang taksi pun tidak beranjak dari TMP Kalibata. Sehingga kami memutuskan untuk menggunakan moda transportasi commuter line. Naik dari Stasiun Duren Kalibata dan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Tanah Abang. Dari sini, kami pun menaiki commuter linejurusan Maja. Untuk mencapai Bintaro Xchange Mall, kami hanya berjalan kaki dari Stasiun Jurangmangu. Sayangnya kak Idham tidak bisa ikut karena dia harus mengejar pesawat yang take off jam 7 malam. 
Saya dan Dirga pun menyusuri jalan setapak yang terisi oleh stand WWF. Ada sebuah poster besar bergambar gajah. Saya jadi inget giveawayyang diberikan oleh Kak Firsta mengenai kampanye #savegajah . saat itu saya berhasil mendapatkan kaos dan mug WWF karena memenangkan lomba yang diadakan oleh www.discoveryourindonesia.com. hehe. 
#nasibgajah di tangan kita

Balik ke masalah utama. Saya dan Dirga pun mulai mencari stand WWF Seafood Saver. Karena ada supervisornya Dirga disana. Menuju ke stand WWF Seafood Saver ada beberapa stand yang kami tidak ketahui. Misalnya saja kenapa ada stand tisu Tessa? Faber Castell? Hotel Sultan? Apa hubungannya antara #beliyangbaik dengan produk-produk tersebut?

Setelah menemukan stand Seafood Saver, saya dan Dirga pun terlibat dalam diskusi. Pertanyaan kami sepele, “kenapa banyak orang yang belum sadar untuk membeli yang baik?”. Kami pun mulai berargumen masing-masing. Pertama, kami sama-sama sepakat bahwa orang Indonesia masih mementingkan harga, jika suatu produk memiliki harga yang murah, secara otomatis orang tersebut akan membeli produk itu. Tidak peduli bahwa produk tersebut diproses dan dikelola darimana atau biasa disebut dengan Traceability (kemampuan menelusuri sebuah produk). Kedua, orang Indonesia masih peduli terhadap ‘brand’. Sebuah kebanggan tersendiri jika seseorang bisa membeli kopi di Starb**ks atau K*C. Hal ini bisa kita saksikan di media sosial, orang berlomba-lomba untuk mensharing kegiatan mereka ketika sedang makan atau minum di sebuah brand ternama. Ketiga, ada juga kemungkinan sosialisasi untuk #beliyangbaik belum terkenal di masyarakat. Sehingga masyarakat belum punya keinginan untuk ikut dalam kegiatan seperti ini.

Direktur TAKA yang tergabung dalam Jaring Nusantara

Setelah berdiskusi, kami pun bertemu dengan Miko, anak MDC Undip yang saat ini menjabat sebagai direktur Yayasan TAKA. Dia berusaha menjelaskan kenapa harus ada Seafood Saver. Sebenarnya Seafood Saver lebih kepada ajakan untuk perusahaan-perusahaan besar. Dimana Seafood Saver merupakan pendekatan kepada korporasi yang bergerak di bidang sumber daya laut untuk ikut berkontribusi dalam praktik perikanan berkelanjutan.

Nah apa sih yang bisa dilakukan oleh korporasi dalam mendukung gerakan Seafood Saver? Misalnya dengan cara meningkatkan kualitas hasil tangkap yang ramah lingkungan, pengolahan, distribusi sampai penghematan yang lebih efisien. Selain itu bisa juga ikut mendukung dalam proses budidaya dan menggunakan produk ramah lingkungan tersebut sebagai bahan baku utamanya. Contohnya adalah Hotel The Sultan yang secara terang-terangan mendukung program Seafood Saver dan menggunakan produk yang memiliki label Seafood Saver. Seperti yang telah dilakukan kak Idham di Pinrang. Ia mencoba menggerakan para petambak udang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan juga ramah lingkungan. 
Terus kenapa hal ini perlu dilakukan? Tingkat sumber daya di alam semakin terbatas, dibutuhkan partisipasi banyak pihak untuk terus menjaga kelestarian sumber daya yang semakin terbatas itu. Karena itulah perusahaan diajak untuk lebih peduli terhadap keberlangsungan sumber daya. Kalau saya tidak salah, ada 22 perusahaan yang sudah ikut menandatangani kegiatan Seafood Saver. 
foto bareng.

Hmmm. Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat awam seperti saya untuk terus menjaga keberlangsungan sumber daya? Sebenarnya saya sudah pernah membahas ini, tapi sepertinya tidak ada salahnya, saya bahas ulang. Heheh

1. Selalu pertanyakan darimana asal ikan yang kamu makan. Jika kamu membeli ikan di pusat retail-retail besar, seperti Carrefour, Hero, Giant dan lain sebagainya, usahakan untuk bertanya dari mana asal ikan yang akan kamu beli. Memberanikan diri untuk mempertanyakan asal ikan, menunjukkan bahwa kamu peduli dengan masa depan. Jangan sampai ikan yang ka
mu makan adalah hasil dari pengeboman atau bius. 

2. Jika rumah kamu dekat dengan laut, usahakan beli ikan yang berada dekat dengan rumah kamu, pastikan membeli ikan yang ditangkap dengan alat tangkap yang ramah lingkungan. Misalnya nelayan yang menggunakan alat tangkap pancing.

3. Jangan membeli ikan yang dilindungi dan terancam punah. Seringkali saya menemukan retail besar menjual ikan hiu (terkadang disebut cucut) di bagian seafood. Sebagai konsumen, kita harus bisa bijak dalam menentukan produk seafood yang kita makan. Sebagai contoh, jangan pernah beli penyu, hiu, napoleon dan lumba-lumba yang dijajakan oleh pedagang.

4. Indonesia diberikan berkah dengan banyaknya spesies ikan, karena itu cobalah jenis ikan yang baru. Tapi ingat, jangan makan ikan yang dilindungi dan terancam punah.

5. Usahakan untuk tidak membeli ikan yang masih kecil (baby fish). hal ini bisa berpengaruh pada ketersediaan stok ikan di alam

6. Kamu juga bisa membeli produk yang dibudidayakan sebagai pilihan seafood yang kamu makan. Misalnya ikan bandeng, ikan mujair, udang, kepiting, ikan mas, dan lain sebagainya. Karena kita bisa tahu asal ikan tersebut secara jelas. 
Itulah sedikit penjelasan mengenai Festival #beliyangbaik yang dilaksanakan oleh WWF Indonesia. Sudahkah kamu ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian seafood? 😀
Ditulis di Kantor Kak Agus, Pejaten
Senin, 10 Agustus 2015 16:12 WIB
Sambil kelaperan dan berharap ada udang telur asin di hadapan saya sekarang.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *