141 km keindahan Maumere – Larantuka

Mas Teguh.
Misi perjalanan ini adalah mengantar Mas Teguh demi menunaikan tugas negara. Pemberian materi bycatch untuk nelayan di Larantuka. Saya bersikeras untuk mengantar karena saya tidak tahu sejauh mana Larantuka itu. Hahaha. Konyol. Jadi, saya memberanikan diri untuk pulang sendiri ke Maumere. Selain itu, saya juga ingin tahu bagaimana keadaan Larantuka. #Penasaran
Perjalanan dadakan ini dimulai dengan keributan kecil di pagi hari. Saya menyogok Mas Firman segelas susu kedelai agar ia mau meminjamkan motor kesayangannya. Akhirnya saya dan Mas Teguh berangkat menggunakan motor Mas Firman. Karena menurut Mas Anang, perjalanan ke Larantuka sangat jauh. Jadi butuh motor yang well prepared dan ga rusak-rusak. Apalagi tidak ada bengkel di daerah menuju Larantuka. 
Saya dan Mas Teguh memulai perjalanan pukul 07.40 Wita dari kost. Ibu kost sudah mewanti-wanti agar saya pulang paling lambat jam 1 siang dari Larantuka. Setelah semuanya siap, kami pun mulai dengan mengucapkan doa. Kami singgah di Warung Podoroso, untuk mengisi perut. Takutnya kalau asal makan di perjalanan, belum tentu halal. ๐Ÿ˜€
Jam 8.40 Wita kami berangkat! Oke, Larantuka, wait for us..
Selama perjalanan saya melihat keindahan hamparan Gunung Egon, gunung yang menyediakan lahan subur bagi masyarakat disana. Pohon jagung, pohon kopi, pohon jambu mete dan pohon cokelat bergantian kami lewati. Selain itu ada juga hamparan sawah masih hijau muda, sepertinya baru musim tanam. 
Ketika memasuki daerah Flores Timur, kami dimanjakan dengan jalan menikung dan menanjak. Wah, sepertinya Valentino Rossi sangat senang jika diberikan jenis track seperti ini. Karena dipinggir jalan adalah tebing terjal rawan longsor. Di pinggir satunya jurang tinggi nan curam ditumbuhi oleh pohon-pohon besar. Sebuah perpaduan yang sangat tepat bagi orang yang ingin sensasi berkendara ekstrem. 
Saya tak henti-henti berucap Subhanallah, karena keindahan yang disajikan sangat keren. Pegunungan dengan perpaduan laut nan biru membuat mata serasa tak ingin terpejam. Keren banget! Sayang, jalanan yang sangat menikung membuat kami tak boleh lengah dalam berkendaraan. Lengah sedikit bisa-bisa mencium aspal tanah. Karena pada saat ini sedang ada pekerjaan saluran air di sepanjang jalur Flores Timur menuju Larantuka. 
Welcome to Flores Timur!
Hingga akhirnya kami pun tiba di Larantuka pukul 11.39 Wita. Sebuah tempat kudus bagi masyarakat beragama Katolik. Banyak yang bilang bahwa Larantuka adalah Vatikan bagi Katolik di Indonesia. Disini banyak berdiri gereja-gereja dan sekolah bagi calon pendeta. Sayang saya tidak memiliki banyak waktu untuk mengeksplore Larantuka. Karena saya harus pulang paling lambat jam 13.00 Wita dari Larantuka. Butuh waktu sekitar 3 jam untuk mencapai Maumere. Saya takut jika terlambat pulang dan terjebak di tengah jalan tak berpenghuni. Hiiii. Membayangkannya saja ngeri. >_<
Kami hanya beristirahat sebentar dan makan di warung nasi padang. Setelah selesai makan, saya pun langsung tancap gas menuju Maumere. All by myself (alah, kok jadi kayak judul lagu…. ). Hhahaha.
Selama perjalanan, saya nyanyi-nyanyi sendiri berusaha menghibur diri. Karena musik di handphone ga mau nyala. Menikmati perjalanan dengan kecepatan stagnan antara 40-60 km per jam. Saya menghitung kilometer yang telah ditempuh oleh sepeda motor dari Larantuka, 3651.0 tertera disana.
Saya terus bernyanyi-nyanyi ga jelas. Hingga akhirnya ketika saya sedang menyanyikan lagu Ebiet G Ade, seekor kucing melintas secara mendadak di depan. Tak bisa saya hindari, ia terlindas oleh ban depan sepeda motor. Seekor kucing berwarna keemasan belang-belang hitam. Ya Allah, maafkan saya. Masyarakat menyuruh saya untuk terus maju tanpa memperdulikan keadaan kucing tersebut. Maafkan saya cing. 
Alhamdulillah, pukul 16.30 Wita saya pun tiba di Maumere. Pengukur kilometer menunjukkan angka 3792.0. Artinya sudah 141 km saya tempuh dari Larantuka hingga Maumere. Rekor perjalanan paling jauh yang saya tempuh sendirian. ๐Ÿ˜€ Rekortersebut memecahkan rekor perjalanan paling jauh yang saya lakukan pada tahun
2010 adalah Bantimurung, Maros hingga Balai Perbenihan Ikan di Gowa. ๐Ÿ˜€
Thanks to Allah SWT yang tetap memberikan umur. ๐Ÿ˜€
Catatan perjalanan ini dibuat di Kost Wuring
Kamis, 27 Februari 2014 ; 7:07 Wita

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *