Berjalan di Pulau Buru dan Ambon Bersama Bule Gila

di Pantai Natsepa bareng2 kak Roy dan kak Godjali. ๐Ÿ˜€
Sebenarnya perjalanan ke Pulau Buru ini sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya. Namun ada yang terasa spesial, karena kehadiran seorang bule gila yang aneh banget. Namanya Margherita Zonro, namun saya lebih suka memanggilnya Zorro atau Margarin. Lebih menyenangkan menyebut namanya seperti itu. ๐Ÿ˜€

Pertemuan kami dikarenakan ia harus datang mewawancara beberapa stakeholder dalam alur pembelian ikan tuna di Ambon. Malam itu, Selasa 7 Oktober, kami berkenalan di atas kapal menuju Pulau Buru. Saya terkesan dengan gayanya yang blak-blakkan dan sangat โ€œIndonesiaโ€. Ia tidak merasa risih harus tidur bersama orang yang baru ia kenal. โ€œBakalan asik nih orangnyaโ€, itu adalah kesan pertama saya terhadap dia. But, weโ€™ll see. ๐Ÿ˜€
Hari pertama tiba di Pulau Buru, saya pun mulai melakukan banyak hal. Margarin tak lupa saya ajak untuk melihat keindahan Pulau Buru. Kami berempat bersama supervisor saya, Mbak Steph dan Ona menuju air terjun Waprea. Air terjunnya lumayan jauh, sekitar 20 menit dari tempat kami tinggal di Waplau. Yang lucu adalah saya lupa bilang kalau penduduk masih jarang melihat bule datang ke Pulau Buru. Walaupun pulau ini terkenal sebagai pulau pengasingan, tapi belum dipromosikan dengan baik. 
Ketika kami tiba di air terjun, tidak banyak orang yang datang. Namun ketika melihat Margarin bersama kami menuju air terjun, entah kenapa berbondong-bondong warga datang menuju air terjun. Haha. Parahnya si Margarin hanya menggunakan baju tipis dan celana berenang (ala bule, tau lahโ€ฆ ). Semakin banyaklah orang yang datang untuk melihat kami, eh maksud saya si Margarin. Kan jarang ada bule yang mau berenang di air terjun kecil di sebuah desa antah berantah. ๐Ÿ˜› Karena merasa risih, Margarin tidak keluar dari air sama sekali. Ia merasa malu dengan pakaian yang ia gunakan. Hahaha. lucu banget lihat dia agak kikuk ga jelas. ๐Ÿ˜› 
Setelah puas berendam di air terjun, kami pun menuju pantai yang memiliki gundukan batu seperti penyu. Karena itu disebut pantai batu penyu. Disana kami hanya berfoto-foto ria dan berkejaran dengan ombak. Saya juga memungut beberapa batu cantik. Pulau Buru memiliki kontur pantai berbatu berwarna. Setelah puas, kami pun pulang ke mess di Waplau. ๐Ÿ˜€
Tuh coba, dia dimana?? hahaha. Dasar Bule Gila!
Keesokan paginya saya mengajak Margarin melihat tempat pembuatan minyak kayu putih. Tapi sayang, kami tidak bisa membelinya. Karena dilarang oleh pemilik pertama ketel (tempat pembuatan minyak kayu putih) tersebut. Kami pun menuju pantai untuk menikmati pasir putih. Berbicara banyak hal mengenai Italia dan Belanda, karena ia sedang menempuh studi di Wageningen University. Saya semakin tertarik untuk kuliah ke luar negeri. Banyak hal yang harus saya pelajari sebelum kematian datang menjemputku. ๐Ÿ˜€ 
Kami banyak memiliki kesamaan. Entah itu dalam menyikapi keributan, easy going, dan juga dalam hal percintaan. Hahah. Kami membahas masalah cinta dan saling bertukar pikiran mengenai kehidupan percintaan kami masing-masing. Namun yang paling saya suka dari seorang Margarin adalah ia tidak risih dengan cara jalan-jalanku yang agak random. Haha. Dia mau aja kuajak makan mangga di pinggir pantai Losari yang jorok dan bau. Setelah itu makan durian di dekat kafe abal-abal yang berhasil membuat kami berbicara saling berteriak. Haha. Usut punya usut dia senang menjelajah, setelah selesai intern di kantor, ia akan menjelajah Thailand dan Flores sendirian. Kool! Saya saja belum mampu mendanai diri saya sendiri untuk jalan-jalan ke luar negeri. Hehe. Masih bercokol di dalam negeri dulu. ๐Ÿ˜€
Selain itu, si pecinta kopi ini juga jago masak. Kami dimasakkin makanan khas Italia, sungguh baik. Farfalle kalau ga salah namanya. Yang lucu, banyak bahan-bahan khas Italia yang tak bisa kami temukan di Ambon. Kami mencari bahan-bahan yang mungkin mirip dengan aslinya.  Karena daging sedang mahal, kami pun menggunakan ikan kembung sebagai campuran utama. Haha. Walaupun menurut Margarin rasanya beda dengan yang sering ia buat, tapi tetap saja rasanya enak.  
Setelah melewati waktu 1 minggu bersama si bule gila ini, saya merasa bahwa saya tidak akan sendirian. Selalu ada teman yang akan bersama kita.. Dimanapun.. ๐Ÿ˜€
Thanks for you dream catcher, Margarin.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€
 
Tulisan diselesaikan di kantor Harta Samudra sambil denger lagu Alesana
11 November 2014, 5:56 PM

di Pantai Natsepa

di Pantai Liang

di air terjun Waprea

masak Farfalle ikan kembung. ๐Ÿ˜€

Look’s…

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *