Berkenalan Dengan Suku Naulu di Seram

upacara penyambutan Simina dan temannya. source : duba.ro
Sebenarnya saya tidak bertemu langsung dengan suku ini, namun menceritakan kembali apa yang dialami oleh teman saya, Simina Cernatketika berpetualang di Pulau Seram. Ia seorang antropologist berasal dari Rumania. Kami diperkenalkan oleh dunia maya, Couchsurfing.com. Dari sanalah, kami saling bertukar informasi dan Simina pun tinggal di kamar saya. Setelah tiga hari berkeliling Ambon, ia pun memilih untuk pergi ke Pulau Seram. 
Beberapa kali kami bertukar kabar dan dari Simina lah saya baru tahu bahwa ada suku pedalaman di Pulau Seram. Namanya Suku Naulu, tidak sering terdengar seperti suku Rimba Anak Dalam di Jambi, Suku Kajang di Bulukumba, atau suku Baduy di Banten. Suku ini memiliki ciri khas memiliki ikat kepala berwarna merah bagi laki-laki dewasa. Sedangkan perempuan menggunakan selendang di pinggangnya. 

berburu bersama Buang. Source : duba.ro
Sebenarnya selain suku Naulu adalagi suku primitif di Pulau Buru dan Seram, yaitu Suku Alifuru. Pim Boute teman saya dari Belanda, pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki tanduk di hidungnya. Sosok tersebut memegang tombak dari arah hutan, sepertinya mencari sesuatu untuk diburu. 
Oke kembali ke topik. Komunitas Suku Naulu terletak di bagian utara Pulau Seram. Suku ini tersebar di dua wilayah yaitu di Dusun Nuanea dan Dusun Sepa. Dibanding suku asli Pulau Seram, Suku Alifuru, Suku Naulu sebenarnya lebih fleksibel menerima modernisasi sebab suku ini sudah mengenal pakaian, bahan bakar minyak dan sebagainya. Namun tradisi yang tak lazim membuat suku ini sering dicap suku primitif.
Simina bersama dua orang temannya melakukan perjalanan untuk lebih mengenal Suku Naulu. Mereka memulai perjalanan dengan menggunakan mobil untuk mencapai dusun Suku Naulu. Mereka disambut dengan upacara yang hangat. Tarian-tarian sebagai ucapan selamat datang. Di rumah tetua adat yang berbentuk rumah panggung, disanalah mereka bertemu dengan Buang, salah satu warga Suku Naulu. Melalui Buang, mereka mendapatkan kesempatan untuk ikut berburu dengan Buang. 
Perjalanan Simina dan kedua temannya terasa seru. Buang dengan ketiga anjingnya masuk ke dalam hutan lebat di Pegunungan Manusela. Dari sana lah para Suku Naulu hidup dan bergantung. Mereka berburu babi hutan, burung, dan rusa untuk memenuhi rasa lapar mereka. Mereka juga memakan ikan dan ular sesekali untuk santapan. Sepanjang perjalanan mereka lebih sering menggunakan bahasa tubuh, karena suku Naulu menggunakan bahasa Alifuru (bahasa tanah) dalam berkomunikasi. Namun Buang memiliki kemampuan berbicara bahasa Indonesia yang patah-patah. 
makan ikan  source : duba.ro
Suku Naulu didominasi oleh Pemeluk Naurus. Namun, mereka juga mengikuti agama Hindu, karena ditemukan dalam ritual mereka. Sangat unik bukan? Duluuuuu sekali, Suku Naulu ini memiliki ritual yang sangat menyeramkan. Pernah dengar dengan tradisi memenggal kepala untuk persembahan? Nah suku Naulu ini dikenal sebagai โ€œhead hunterโ€, hingga akhirnya pada tahun 1900-an tradisi ini dilarang. Saat ini Suku Naulu tidak lagi melakukan head hunting sejak tahun 2005 karena pernah ditangkap oleh polisi. 
Para laki-laki di Suku Naulu menggunakan ikat kepala merah. Ketika anak laki-laki telah tumbuh dewasa, ada sebuah ritual yang harus dilewati, yaitu ritual Pataheri. Kain merah yang disebut kain berang ini tidak mudah didapatkan. Dulu sekali, jika ingin mendapatkan ikat kepala merah ini sang anak harus memenggal kepala orang lain dulu barulah ia diperkenankan memakai ikat kepala merah. Namun sekarang tradisi ini sudah tidak terjadi lagi. Saat ini ritual telah berganti yaitu dengan menyembelih hewan kuskus sebagai persembahannya.
Sepanjang perjalanan mereka di dalam hutan, mereka tidur menggunakan sleeping bag. Namun Buang memiliki tradisi sendiri, ia membangun gubuk kecil sebagai tempat istirahat. Gubuk yang terbuat dari bambu ini, berfungsi sebagai penanda. 
gubuk bambu milik Buang, source : duba.ro
Dari perjalanan Simina, dapat dipastikan bahwa Buang dan suku Naulu benar-benar bergantung dari Pegunungan Manusela sebagai mata pencahariannya. Semoga saja mereka tetap bertahan di tengah kerasnya persaingan manusia. Karena saat ini telah terjadi penjarahan ribuan hektare hutan di Taman Nasional Gunung Manusela. Diperkirakan 750 ribu hektare hutan di Pegunungan Manusela akan mengalami kerusakan. Apalagi pihak Dinas Kehutanan yang tidak tanggap dengan masalah ini. Jika terus dibiarkan, cerita seperti Suku Rimba Anak Dalam akan terjadi lagi disini.
Semoga tidak.
Ikuti perjalanan Dragos Dubina di beberapa tempat di Indonesia disini. Menggunakan bahasa Rumania, tapi foto-fotonya keren abis. ๐Ÿ˜€
Semoga semakin ada perhatian mengenai suku-suku terasing di sekujur tubuh Indonesia. Amin ya rabbal alamin.. 
Buang bersama tiga anjing. Source : duba.ro
Buang bersama anjingnya. source : duba.ro
Ditulis di Kantor Kak Agus, Pasar Minggu
22:52 WIB Senin 11 Oktober 2015

You may also like

7 Comments

  1. boleh tanya, ada tidak ya tradisi / tarian / ritual yang sering dilakukan di pulau seram? selain memenggal kepala, pengasingan wanita hamil dan gadis haid, ataupun manusia bati. Saya sedang melakukan research mengenai pulau seram :):) terimakasih, jawaban anda akan sangat membantu saya :):)

  2. boleh tanya , ada tidak ya ritual-ritual atau tarian atau tradisi di pulau seram yang sering dilakukan? selain memenggal kepala, pengasingan wanita hamil dan want haid??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *