minat menulis Unhas saat ini

Dinamika minat menulis dan meneliti pada mahasiswa
Pendidikan, penelitian dan pengabdian adalah pedoman bagi perguruan tinggi kita biasa mengenalnya dengan Tri Dharma. Padat, singkat namun sarat makna.
Tri Dharma tersebut sudah sangat ‘keramat’ dan semestinya bisa diaplikasikan dalam kehidupan seorang mahasiswa. Dalam Tri Dharma perguruan tinggi, ada tiga komponen pokok yang harus dipahami oleh civitas akademika. Pendidikan, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat. Ketiganya penyokong kualitas dan bentuk nyata adanya perguruan tinggi.
Begitu memasuki perkuliahan, seorang mahasiswa baru akan melaksanakan hal yang pertama yaitu pendidikan. Bangku perkuliahan akan mengasah tingkat pendidikan secara teori. Tuntutan sebagai seorang mahasiswa tidaklah seperti siswa pada kelas menengah dan dasar. Kalau di sekolah dasar dan menengah, siswa dimanjakan dengan materi pelajaran yang telah tersedia, maka di bangku perkuliahan tidak. Dalam bangku perkuliahan, berlaku kemandirian dalam mengembangkan pola pikirnya.
Tapi, terkadang mahasiswa hanya dapat poin satu dan tiga. Poin ketiga pun dilakukan karena adanya tuntutan tugas akhir, skripsi. Poin kedua mungkin dilakukan sambil jalan dengan pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN). Penelitian belum menjadi suatu kebutuhan bagi kebanyakan mahasiswa. Penelitian didapat mahasiswa baru dari mata kuliah umum yang terbatas. Padahal, penelitian adalah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Juga sebagai hasil dari mahasiswa selama menjabat status mahasiswa.
Penelitian dimaksud disini adalah penulisan karya-karya tulis, artikel ilmiah, serta riset-riset yang dilakukan oleh mahasiswa, baik mahasiswa baru ataupun mahasiswa tingkat akhir. Tapi, mereka semua memiliki kesamaan yaitu menyukai penelitian. Menurut Syifa Fauzia yang pernah mengharumkan nama Unhas lewat karya tulisnya mengatakan bahwa kecintaan akan menulis tidak lahir dalam semalam, tapi membutuhkan minat terlebih dulu. “kalau sudah mendapatkan feel of sense-nya maka lama-lama bisa menjadi addicted (kecanduan, red),” terangnya lewat pesan singkat, Senin (18/1). Ketika kecintaan terhadap menulis sudah muncul maka tidak diragukan lagi, banyak hasil karya mahasiswa yang bisa kita saksikan pada saat ini. Tapi, jika kita lihat pada saat ini adalah kebalikannya.
Minat mahasiswa Unhas pada menulis dan meneliti umumnya masih sangat sedikit. Rasio antara jumlah mahasiswa keseluruhan dengan hasil penelitian tidak sebanding. Menurut pantauan Abd Rasyid selaku pembina karya tulis bagi mahasiswa , Unhas masih kurang dalam kegiatan penulisan. Seperti itulah memang yang terjadi. Sebagai penggambaran, jika ada 171 tim pada tahun 2009/2010 yang memasukkan proposal karya tulis ilmiah ke Bagian Minat Penalaran dan Informasi Kemahasiswaan maka kita kalikan empat orang per tim. Dan akan muncul hasil 513 orang, sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Unhas secara keseluruhan.
Setiap tahun Unhas sudah menganggarkan uang ratusan juta untuk memberikan uang pembinaan kepada pengaju proposal. Uang tersebut digunakan untuk meneliti kajian atau inovasi dari mahasiswa. Itu hanya tingkat universitas, tengok saja hadiah lomba Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) dianggarkan dua milyar dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). Untuk penelitian tingkat mahasiswa strata 1 yang dikanalisasi dalam PKM, Dikti akan membagikan dana penelitian Rp 3 juta sampai 10 juta. Kampus belum mendapat informasi beberapa banyak total. Sebagai gambaran tahun 2008, Dikti meloloskan 2.500 proposal.  Dengan cara seperti itu mungkin minat mahasiswa akan lebih terpacu. Karena setiap penelitian dibutuhkan biaya yang tidak sedikit dan dengan hadiah cukup besar membuat mahasiswa semakin terangsang untuk membuat riset.
Tidak hanya pihak universitas yang mencoba terus menggiatkan minat mahasiswa dalam kegiatan seperti itu, pihak fakultas pun ikut andil. Sudah banyak fakultas yang mendorong mahasiswanya untuk terus meneliti dan menulis. Misalnya saja dengan mengaktifkan lembaga penalaran ilmiah, seperti yang sudah ada di beberapa fakultas. Sebut saja Fakultas Kedokteran dengan Medical Youth Research Center (MYRC), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dengan Fisip Research Center (Fire C), dan Fakultas Hukum dengan Lembaga Penalaran dan Penulisan Karya Ilmiah (LP2KI). Menurut Rafiqa Nurdin, ketua Medical Youth Research Center (MYRC) mengatakan bahwa pihak fakultas selalu memberikan dana untuk setiap kegiatan penelitian yang dilakukan oleh anggota timnya. “mereka selalu memberikan bantuan sesuai dengan apa yang kami butuhkan” ujarnya kepada Identitas, Minggu (17/1). Tidak jauh berbeda dengan Fakultas Kedokteran, Drs Farida Patitingi sebagai Pembantu Dekan tiga di Fakultas Hukum mengatakan bahwa pihak fakultas siap mendanai kegiatan meneliti mahasiswa. “kami selalu mendukung kegiatan yang positif bagi mahasiswa, karena itu bisa mengharumkan nama Fakultas Hukum dan Unhas tentunya” terangnya. Menurutnya LP2KI, sudah bisa mengharumkan nama Fakultas Hukum dengan beberapa lomba yang pernah dimenangkan oleh anggota dari LP2KI.
Tapi, hanya sedikit fakultas yang bisa mewadahi mahasiswanya untuk terus melakukan penelitian. Tidak mencapai setengah dari jumlah seluruh fakultas di Unhas. Padahal Unhas sudah melakukan kegiatan untuk menggiatkan minat meneliti dan menulis. Salah satu contoh dengan mengadakan pelatihan-pelatihan penulisan kepada mahasiswa. Setiap fakultas di Unhas diwakili oleh tiga orang untuk diberi pengertian bagaimana membuat karya tulis ilmiah dan mengingkutsertakan ke perlombaan. Dan diharapkan mahasiswa per fakultas akan menularkannya ke teman-temannya di fakultas. Tidak hanya mahasiswa yang diberikan penyuluhan, dosen pun mendapat jatah. Unhas memberikan pelatihan kepada dosen pembimbing karya tulis.

Itulah beberapa yang sudah dilakukan Unhas untuk meningkatkan minat meneliti dan menulis. Penelitian adalah sebuah karya nyata yang disumbangkan selagi menjadi mahasiswa. Dengan budaya meneliti yang tinggi, mahasiswa telah berperan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Karena, dari hal-hal kecil, kemudian ditanyakan permasalahannya, mengajukan inovasi, mahasiswa dapat membahasnya sekaligus mencari solusi dari masalah tersebut.
Dan, hal itu tergantung dari keinginan dan gerak nyata seorang mahasiswa dalam memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan. Sedikit langkah itu akan memberikan secerah harapan bagi inovasi dalam pendidikan yang dapat dikembangkan pada bidang teknologi. Banyaknya penelitian dalam berbagai bidang studi mahasiswa adalah sebuah modal penting bagi pengembangan keilmuan. Sebagai langkah nyata dalam pengamalan Tri Dharma Pendidikan Tinggi. Nah, apa yang kita tunggu lagi ? Mari kita niatkan dari sekarang.
Budaya meneliti
Ada rumor yang beredar di kalangan awam bahwa mahasiswa (secara general) cuma asyik dengan aktivitas hedonisme dan bergaul di mal. Mahasiswa juga dituding tidak memandang kampus sebagai wahana ilmiah, melainkan sekadar tugas mengejar ijazah. Tudingan ini tidak berdasarkan pada bukti dan penelitian ilmiah. “Itu tidak benar seluruhnya seperti itu. Tidak semua kok mahasiswa seperti itu,” kata Adin ketika ditemui Identitas, Senin (17/1).
Adin mengatakan, tudingan itu tidak sepenuhnya benar karena masih banyak mahasiswa yang juga menyelami kampus sebagai ruang berkarya ilmiah. Hal itu, ia dasarkan pada komunitas di lingkup universitas. Mahasiswa berikut ini juga tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan itu. Haryanto Kadir, mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), mengatakan, tudingan mahasiswa itu bisa benar dan salah. Masalah harus dilihat dari sistem pendidikan Indonesia saat ini.tapi, memang pergaulan mahasiswa cenderung kearah foya-foya dan hanya nongkrong saja. “tapi, fasilitas sudah sangat mendukung, memang dari mahasiswanya juga” tambah mahasiswa angkatan 2008 ini.
Tidak bisa dipungkiri fasilitas yang sudah diberikan dalam mendukung penelitian sudah mengalami perubahan. Mungkin memang minat dan kesadaran individu masing-masing untuk menulis dan meneliti harus ditumbuhkan dalam diri mahasiswa. Melakukan penelitian sejak sekarang membuat mahasiswa menjadi terbiasa. Dan pembiasaan terus menerus akan menjadi budaya, dan mulailah dari membaca, berdiskusi, membuat gagasan-gagasan lalu mencari tahu lewat penelitian dan mengaplikasikan pada kehidupan.
Semoga saja Unhas bisa terus menghasilkan peneliti-peneliti muda berbakat yang mengharumkan nama Unhas tidak hanya nasional tapi di mata internasional. (Tra)
Identitas, edisi akhir Januari 2010

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *