Sosok di Ujung Pulau Kodingareng Lompo

salah satu bagian pulau Kodingareng Lompo (sumber : pengenliburan.com)

Gara-gara membahas tentang cerita mistis di dalam obrolan grup Whatsapp Travel Blogger Indonesia (TBI), akhirnya disepakati untuk membuat posting bareng bertemakan Horor.  
Agak sulit sebenernya menceritakan pengalaman horor, karena selama ini saya sangat jarang mengalami pengalaman mistis. Saya akan jelaskan nanti kenapa, saya jarang mendapatkan pengalaman mistis di bagian bawah tulisan. πŸ˜€
Banyak pulau di Indonesia yang dikenal memiliki kecantikan alam yang memesona. Namun siapa sangka, jika banyak diantara pulau tersebut memiliki cerita mistis di dalamnya. Pengalaman mistis yang paling saya ingat ketika menginjakkan kaki di Pulau Kodingareng Lompo, Makassar, Sulawesi Selatan. 

Keinginan saya untuk meneliti tentang pola hidup masyakarat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan membawa saya ke pulau ini. Beruntung saat itu, Nur Ipa, teman angkatan saya di Ilmu Kelautan berbaik hati menemani perjalanan penelitian saya ke pulau yang dihuni oleh penduduk sekitar 5.000 jiwa. Saya sudah membayangkan jika harus bepergian sendirian ke pulau tersebut dan cuaca Makassar sedang sangat tidak bersahabat. 
Perjalanan kami mulai dari Pelabuhan Paotere. Dari sana kami harus menempuh perjalanan menggunakan kapal penumpang yang mampu mengangkut sekitar 20 orang sekali jalan. Saat itu harga tiketnya hanya berkisar 10 – 15 ribu rupiah. Entah sudah berapa harga tiketnya saat ini. Perjalanan ditempuh dengan waktu 3 jam, lebih lama daripada biasanya. Karena ombak sedang besar dan menggulung. Percikan air laut beberapa kali masuk ke dalam kapal. Beberapa ibu-ibu terlihat cemas melihat tinggi air. Saya dan Nur Ipa saling berpandangan sesekali, betulkah keputusan kami untuk berangkat di saat cuaca sedang buruk?
Alhamdulillah, kapal kecil ini tiba di Pulau Kodingareng dengan selamat. Baju masih terasa asin karena cipratan air laut. Setibanya di pulau, seorang bapak tua menjemput kami berdua. Mengenalkan kami sebagai Bapak Posko teman-teman KKN Unhas angkatan ke 59 yang menghabiskan waktu sekitar 2 bulan di pulau ini. Saya tidak akan menyebutkan nama pemeran di dalam cerita ini, agar menjaga nama baik mereka. Hahaha. #sokkodeetikjurnalistik
Rencananya, kami akan menginap selama sehari di rumah yang pernah digunakan oleh teman-teman. Sebut saja, H sebagai ketua KKN saat itu yang menghubungkan saya dengan si pemilik rumah. Jarak antara pelabuhan dan rumah tidak terlalu jauh, saya dan Nur Ipa hanya duduk diam di rumah hingga hujan mereda di sore hari. Kami pun bergegas untuk mewawancara nelayan. Karena cuaca sedang buruk, banyak nelayan yang tidak pergi melaut. Sehingga kami bisa mewawancarai mereka hingga malam hari. 
Dari hasil wawancara itu, banyak dari mereka yang mengenal si H. Mereka mengatakan bahwa H pernah kesurupan di ujung pulau dan hampir saja tenggelam. Mahasiswa yang KKN hampir tenggelam ternyata juga menjadi bahasan paling seru di masyarakat pulau. Menurut penduduk pulau, H tiba-tiba pergi ke ujung pulau dan tidak kembali hingga fajar tenggelam. Semua orang panik dan mencari keliling pulau, dan mereka menemukan H sudah semakin jauh ke arah laut. Ia pun segera ditarik ke daratan. Parahnya ia tidak mengingat apa yang ia lakukan. Entah cerita itu benar atau tidak, yang pasti kabar itu menjadi obrolan menarik di fakultas. 
Hingga setelah makan malam, kami berdua diminta tidur di lantai atas. Di Sulawesi Selatan, rumah panggung merupakan rumah yang lazim ditemui. Karena memang biasanya lantai atas yang digunakan untuk tamu menginap. Ada sebuah kaca besar terletak di pinggir ruangan. Kemudian sebuah kamar terletak di pojok ruangan. 
Pukul 10 malam, lampu mati. Hal ini dikarenakan generator hanya dihidupkan dari jam 6 sore hingga 10 malam. Setelah itu pulau akan gelap gulita. Semua pulau di daerah Sulsel akan gelap gulita. Nah, disinilah cerita menakutkan itu dimulai. 
Karena hujan siang tadi, membuat kamar terasa gerah dan pengap. Nur Ipa pun berinisiatif membuka pintu kamar. Tak lama kemudian, Nur Ipa pun tertidur. Beda dengan saya yang keringat dingin. Sejak lampu mati, saya merasakan sosok hitam di ujung ruangan yang terus melihat ke arah saya. 
Mau nutup pintu kok rasanya lebih takut. Akhirnya saya menutup muka saya dengan bantal. Menyelimuti kaki saya dengan kain yang dibawa oleh Nur Ipa. Agar saya tidak diganggu seperti di film-film. Namun ternyata sosok itu mengeluarkan bunyi-bunyian, seperti ketukan-ketukan. Keringat semakin mengalir deras. 
Dan benar saja, tubuh saya kaku. Seperti ada beban berat di atas tubuh saya. 
Sekitar 10 menit saya mengucapkan bacaan Ayat Kursi berkali-kali. Hingga akhirnya saya lelah dan tertidur. Ketika saya sadar, lampu masih gelap dan jam masih menunjukkan pukul 12.00. Ternyata saya tidak tidur terlalu lama. Insting saya mengatakan bahwa saya membutuhkan perisai. Saya pun segera mengambil laptop dan menyalakan Murottal Ayat Kursi. Beruntung masih ada sisa baterai yang tersisa di laptop. Saya nyalakan Ayat Kursi berkali-kali, hingga saya yakin sosok tersebut tidak mendatangi saya lagi. Dan akhirnya saya pun benar-benar tertidur pulas dan paginya saya menceritakan kejadian semalam ke Nur Ipa. Ia hanya tertawa-tawa. < /div>

Tapi kami berdua tidak menceritakan kisah tersebut kepada ibu pemilik rumah. Biarlah cerita ini kami simpan berdua dan sekarang siap dibagikan. Hahah. Sejak perjalanan itu, jika saya tidur di tempat baru dan sendirian, saya terbiasa membacakan Ayat Kursi terlebih dahulu. Hahaha. Jadi rahasianya saya tidak pernah diganggu oleh hal-hal aneh, karena setiap kali bersiap tidur di tempat baru, saya akan menyetel Murottal Ayat Kursi. πŸ˜€
NB : sayang banget laptop saya hilang dan dokumentasi perjalanan ini hilang sama sekali, tak berbekas. hiks. hiks.
ditulis di Kantor kak Agus, Pasar Minggu
22:11, Selasa 29 September 2015
Itu adalah awal dan akhir saya mendapatkan pengalaman mistis di dalam perjalanan. Bagaimana dengan teman-teman Travel Blogger Indonesia yang lain? Lihat cerita geng Travel Blogger Indonesia yang menceritakan kisah mistis yang pernah mereka temui di perjalanan. 
– Vika Octavia ~ Ketemu Hantu
– Rey Maulana ~ Terjebak Horor di Rinjani
– Mas Edy ~ Sisa Tragedi G30SPKI di Coban Talun 
– Danan Wahyu ~ Petanda dan Arwah
– Parahita Satiti ~ Kamu Takut Setan Nggak? 
– Titiw ~ Kisah Mistis Jeruji Pondok Baduy 
– Taufan Badai ~ Jangan Baca Sebelum Tidur
– Olive Bendon ~ Tentang Mereka

You may also like

15 Comments

  1. Kalo kata orang.. orang penakut itu biasanya apal ayat kursi kak. Aku.. apal.. *guilty as charged*
    Btw kondingareng lompo ini deket kodingareng keke ya? *lost fokes*

  2. iyaaa kak. Kodingareng Keke yang cantik itu dan skrg malah mau dibangun sebuah pusat pengamatan. hiks. jadi gak cantik lagi. πŸ™

  3. ini kali pertama yang kedua malah di kost-kostan sendiri kak. hiiiii. ngeri ah kalau inget. πŸ™
    semoga gak terulang. πŸ˜€

  4. Adlien, menurut kamu, kalau bayangan hitam itu mendekati kamu, apa pertanyaan pertama yang akan kamu ajukan padanya?

    Bihihik. Gw yakin dia takut ndeketin loe sih Dlien, takut ditanyain udah nikah belom. Hihihi.

  5. aku kemarin pas di kosan yg baru juga ngalamin kayak gitu kak ketindihan :((
    Sebelum tidur mmg lebih baik baca ayat kursi dulu ya kak biar tenang hehe *toss*

  6. Kalau dalam bahasa Sunda, sensasi seperti kaku dan dibebani benda berat itu namanya kaeureup-eureup. Dan aku adalah pelanggan setia. Yang bikin nyebelin adalah, kadang baru aja terbebas dari kaeureup-eureup setelah baca-baca ayat kursi. Sambung tidur, eh kena lagi. Cape deeeh πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *