Tak Berjalan Sendirian di Banda

Gunung Api Banda dari kejauhan
Banda Neira menjadi salah satu destinasi tujuan yang sangat ingin saya wujudkan. Selain nama Banda Neira masih banyak daerah destinasi lain di Maluku yang ingin saya lakukan, tapi saat ini saya memprioritaskan travel ke Banda. Sebuah pulau yang memiliki sejarah kelam tentang pendudukan kompeni Belanda di Indonesia. Cerita sedih banyak bertebaran ketika Belanda menduduki pulau ini. Mulai dari pembunuhan massal orang kaya Banda, budak-budak belian yang didatangkan dari penjuru Indonesia, dan lain-lain. Banda memiliki nilai history yang sangat menarik untuk dipelajari. Itulah kenapa saya memprioritaskan pulau ini untuk saya kunjungi. 
Setelah mendapatkan izin cuti selama 2 hari (23-27 Desember 2014), saya pun nekat menuju Banda. Dengan uang seadanya, karena tiba-tiba ada kebutuhan mendadak pada bulan itu. Setelah membeli tiket seharga 250 ribu untuk pulang pergi, sisa uang di ATM hanya 300 ribu. Tiket dengan harga tersebut untuk kelas ekonomi dan bakalan berebutan tempat untuk tidur. Mungkin saya akan tidur di dek 5 seperti yang sudah-sudah. Hahaha. Walaupun dengan pikiran penuh dengan hal yang tidak-tidak, saya tetap nekat menuju Banda, berharap saya akan bertemu banyak orang baik. 😀
Berantem dengan Pencuri dan Bertemu Orang Baik part 1
Tanggal 23 Desember, saya diantar oleh Kak Roy menuju Pelabuhan Ambon untuk menaiki kapal K.M Tidar. Saat itu hari sudah malam, jam tangan menunjukkan pukul 19.00 Wita. Saya pun mulai naik ke atas kapal dan berdesak-desakan seperti naik kereta. Saya diminta menunggu di depan ruang informasi lantai 5 oleh seorang teman, karena ia akan menjemput saya dan mencari tempat bersama-sama. Namun karena berdesak-desakan, saya tidak memperhatikan bahwa tas kecil saya sudah terbuka.
hahaha. pukul, pukul!
Entah kekuatan darimana, saya tiba-tiba menarik baju seorang bapak-bapak dan menuduhnya sebagai pencuri. Ia mulai membentak-bentak saya,  dengan sangarnya saya langsung membuka tasnya dan mencari-cari handphone saya. Mungkin ia mulai panik dan menjatuhkan handphone saya. Hahaha. ibu-ibu dan bapak-bapak disitu semuanya diam, karena saya melawan pencuri. Hahah. Pencurinya langsung pergi begitu saja. Padahal pengen banget aku foto mukanya, terus ditempel di kapal pelni, biar semua orang lebih berhati-hati. 
Setelah kejadian tersebut, saya sempat shock. Saya tetap menunggu teman tersebut selama 2 jam lebih, tapi ia tidak muncul-muncul juga. Untungnya saya mendapatkan informasi dari Kak Nilam bahwa ada temannya, namanya Kak Julham yang mau ke Banda juga. Alhamdulillah. Ak pun menuju kamar yang ditunjuk oleh kak Julham. Disana saya bertemu dengan kak Dian yang juga baru pertama kali ke Banda dan juga sendirian. Lucu rasanya ketemu orang yang berasal dari daerah yang sama, Bogor di sebuah tempat jauh seperti ini. 😀  Kami pun berbagi kamar di kapal. Alhamdulillah, ga perlu tidur di luar dan berdesak-desakkan. Kami berbagi cerita malam itu, dan ketika pemeriksaan karcis saya pun menuju kantin untuk mengelabui petugas. Takut diusir. Hahah. Malam ini berakhir bahagia. 😀 Alhamdulillah..
Banda, I’m coming! Bertemu dengan orang baik part 2
Kak Dian, kakak yang baik, 😀
Pagi hari, saya melihat daratan  dan segera saya identifikasi sebagai Pulau Banda. Kami pun bergegas menuju pintu keluar. Sekarang saya lebih hati-hati dengan tas kecil saya. Mengambil handphone dan segera menghubungi Pak Ali, temannya kak Roy yang bekerja di Banda. Beliau sudah menunggu kami di pelabuhan dan dengan sigap mengantarkan kami ke sebuah hotel kecil. Saya sudah deg-degan, wah, mati nih kalau tinggal di hotel, bisa-bisa pengeluaran membengkak. Karena awalnya saya berpikir bisa menginap di kantor PSDKP Banda.
Saya menatap dompet saya yang hanya berisi 3 pecahan 100 ribu. Hahah. Bener-bener deg-degan saat itu, hingga akhirnya Kak Dian mengusulkan untuk ke penginapan yang sudah disewa lewat online. Alhamdulillah, bisa dapat kamar gede berdua. Harga kamarnya 150 ribu per malam, tanpa makan. Karena sharing, jadi cuman bayar 75 ribu. 
Tapi nasib baik datang lagi, karena kak Nilam pernah tinggal disini sejak lama dan kenal dengan orang-orang disini. Jadinya ia menghubungi kak Ayu dan kak Lili dari TWP Banda. Dan hasilnya, kami berdua dapat tawaran untuk tinggal di kantor TWP. Ada kamar kosong di lantai atas yang bisa digunakan selama 4 hari. Alhamdulillah! Bisa hemat dan hunting makanan nih. 
Keliling Banda, Party at Banda dan bertemu orang baik part 3
Setelah tiba di Banda, dan berkenalan dengan ibu dan bapak penginapannya. Saya dan Kak Dian pun mulai menjelajah Banda. Berjalan di Banda seperti berada di Eropa zaman dulu. Namun sayangnya banyak bangunan lama yang sudah tidak dirawat. Padahal ini bisa menjadi daya tarik bagi pariwisata Pulau Banda. Orang-orang disini juga sudah lebih peduli terhadap kebersihan. Mereka selalu menyapu halaman depan rumah dan tidak membuang sampah sembarangan. Salut!
di reruntuhan Benteng Nassau
Kami berjalan menuju Benteng dan melihat bagaimana konstruksi bangunan sudah mulai rusak disana-sini. Tidak ada perawatan yang dilakukan. Banyak gundukan tanah menutupi tembok asli bangunan ini. Hamper tak Nampak ada bangunan megah disini. Seperti lapangan rumput untuk sapi mencari makan. Setelah puas mengambil gambar, kami pun mengunjungi Istana Mini, VOC kala itu membangun kota Banda Neira dengan mendirikan bangunan istana bernama Istana Mini Neira. Istana tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal Gubernur VOC. VOC lebih dahulu membagun istana ini setahun sebelum pembangunan Istana Merdeka di Batavia atau Jakarta. 
Saya merasa agak aneh di dalam istana ini. Seperti ada yang mengetuk-ngetuk kulit. Dan akhirnya saya pun ngobrol dengan petugas kebersihan disana. Ia mulai bercerita kisah-kisah mistis di dalam istana ini. Ia menunjukkan kamar yang dulunya pernah ada seorang Perancis yang ditahan. Ia merasa depresi dan akhirnya bunuh diri. Sebelum ia bunuh diri, ia menuliskan tulisan wasiat bagi keluarganya dalam bahasa Perancis. Uniknya, ia menuliskannya di jendela. Sampai saat ini, kita masih bisa melihat tulisan tangan tersebut di jendela. Seorang Prancis yang kami kenal di Banda mencoba menerjemahkannya dalam bahasa Inggris, kira-kira seperti ini artinya,  “When the bell ring, it remained me on my hometown. Wish the parent were healthy and blessed.”
Tak dinyana ketika di dalam Istana Mini, ada seorang bapak yang kemudian kita kenal sebagai pemilik Guest House Mutiara yang terkenal. Pak Abba mengajak kami untuk menghadiri undangan makan malam di guest house miliknya. Berkah makan gratis. Haha.
saya selalu suka dengan senja di Banda. hiks. magis!
Malam itu kami pun menuju Guest House Mutiara yang terkenal dan mendapatkan makan malam. Tak lupa dengan grup musik yang menyanyikan lagu-lagu kenangan. Saya dan kak Dian hanya berdua di meja makan, berbeda dengan dua grup lainnya. Tapi Pak Abba seakan mengerti dan mengajak kami berdua ngobrol. Beliau baik sekali. 😀
Lava Flow, Gunung Api dan bertemu orang baik part 4
Setelah diguyur hujan seharian kemarin, kita pun merencakan untuk pergi snorkeling di Lava Flow. Berbekal biscuit dan minuman, kami pun menuju kapal sewaan. Kami tak ingat untuk sarapan saking bersemangatnya. Untuk harga kapalnya, Pak Ali membayar sekitar 150 ribu untuk tiba di Lava Flow. Si empunya kapal membawa kami menuju belakang Gunung Api. Sejauh mata memandang tidak ada pasir berwarna putih yang menghampar, hanya batu-batuan hitam bekas muntahan gunung api yang meletus tahun 1988.
Lava Flow. 😀
Ketika kapal mulai mendekat ke bibir pantai berbatu, saya mulai melihat ke bawah. Air jernih yang menyimpan gugusan terumbu karang yang sangat indah. Keren sekali! Saya langsung menceburkan diri bersama Kak Dian. Ombak kecil mengoyang-goyang. Awalnya saya masih duck dive melihat terumbu karang dari dekat, dan ikan-ikan kecil. gugusan terumbu karang jenis Acropora mendominasi wilayah ini. Ikan-ikan juga terlihat bergerombol. Saya benar-benar takjub dengan pemandangan yang disediakan oleh tempat ini. Tak perlu diving, cukup snorkeling saja dan gugusan terumbu karang di depan mata. 
Setelah 20 menit snorkeling saya mulai merasa pusing.  Sebenarnya memalukan sih, saya sebagai anak kelautan tapi punya riwayat mabuk laut kalau tidak sarapan pagi. Hahah. Saya sempat menyerah tapi karena Pak Ali mengeluarkan senjata pamungkas, Kamera Underwater, saya pun kembali menceburkan diri. Haha. Ketahuan banget pengen narsis di depan kamera. 😀
Setelah siang kami pun mulai kembali ke Pulau Banda Neira mencari sepiring nasi untuk meredakan mual. Setelah itu kami pun beristirahat dan bersiap akan melakukan perjalanan ke Gunung Api jam 3 sore nanti. #aku siap!

Dengan berbekal tenaga setelah tidur siang, kami pun berangkat berempat. Saya, Risto, kak Dian, dan Pak Ali sebagai guide utama. Untuk menyebrang ke Pulau Gunung Api, kita naik kapal kecil dan membayar 5 ribu per orang. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Kami langsung mulai merambat naik dengan cepat.
Penampakan Banda dari bandara.
Beberapa kali kita agak tersendat tapi masih terus maju dengan semangat. Kak Dian memiliki masalah dengan keletihan, jadi kami memberikan suplemen dan nutrisi berupa mangga untuk menjaga staminanya tetap lancer. Semangat kak Dian! Kami berusaha mengejar sunset di atas gunung, namun apa daya, kami tak mendapatkannya. Saya hanya melihat sunset dari pinggir puncak (belum sampai muncak, hiks. Alasan ini harus membuatku kembali kesana. :D)
Rute yang lumayan terjal untuk ditempuh pada pukul 8 malam. Kami memutuskan untuk mulai menuruni gunung. Matahari sudah tak nampak lagi. Digantikan dengan lautan bintang-bintang di atas kepala. Dari kejauah terdengar suara dangdut yang diputar besar-besar. Namun tetap tak menyurutkan rasa dingin mencekam. 
Kami menuruni gunung api dengan tertatih, saya sudah merasa seram, apalagi ketika kak Dian berteriak karena kakinya sakit. (Awalnya saya pikir ia kesurupan, tapi untungnya dugaan saya salah). Bener-bener horror pada saat itu. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 10 malam dan kami belum juga tiba di pos 1. Saya memutar ayat-ayat AlQuran untuk mengusir rasa takut. Karena mereka bertiga jauh dibelakang dan saya di depan untuk memimpin jalan. 
Selama perjalanan kami beberapa kali berhenti untuk menguatkan kak Dian dan mulai mengupas mangga. Saya tidak akan pernah melupakan peran buah mangga pada saat itu. Terima kasih mangga. 😀 Karena buah mangga cepat
menggantikan energi yang sudah keluar. Dan Alhamdulillah kami pun tiba di pos 1 pada pukul 11 malam. Ahaha. Masih ada beberapa puluh menit untuk tiba di Pulau Banda Neira, kami harus mencari seseorang yang bisa membawa kami ke pulau seberang. 
Pukul 12 malam kami pun tiba dan saya langsung merebahkan diri di kasur. Perjalanan yang sangat menyenangkan!
#bersambung
travel diary kayaknya nih. hahah. 
ditulis di Harta Samudra, 15 February 2015
model keceh!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *