Tarian Bumi, Epik Cinta Perempuan Bali

Membaca Tarian Bumi (Dance of The Earth) milik Oka Rusmini seakan larut dalam hidup 3 perempuan bali. Luh Dalem, Luh Sekar, dan Telaga. Cerita yang menyanjung tinggi sebuah kehormatan kasta. Dalam agama Hindu ada empat kasta yang mereka junjung, Kasta Brahmana yaitu kasta pendeta atau orang suci, Kasta Ksatria yaitu kasta kepala lembaga atau pemerintahan, Kasta Waisya yaitu kasta para kesatria atau prajurit dan Kasta Sudra kaum buruh atau pembantu bagi ketiga kasta diatas. Biasanya bagi kasta sudra mereka tidak memiliki gelar terhormat.
Oka Rusmini berhasil membawa saya hanyut dalam epik romantik namun sarat makna. Cerita yang penuh dengan tradisi Bali ini sangat menarik. Di awal cerita kita akan disuguhkan tentang Luh Sari yang bermanja pada ibunya, Telaga. Seorang anak kecil berumur 7 tahun yang sangat senang mendapatkan hadiah dari seorang kakek tua di sekolahnya.
Cerita pun bergulir ketika Telaga mengingat bagaimana cerita hidupnya sehingga bisa mendapatkan Luh Sari dan cerita dibalik seorang kakek yang baik hati. 
Telaga, ia adalah seorang putri Brahmana, seorang penari Oleg yang sangat piawai. Nama lengkapnya Ida Ayu Telaga Pidada. Ida Ayu biasanya digunakan untuk anak perempuan Brahmana. Ayahnya seorang Ida Bagus Pidada yang selalu mabuk-mabukan. Kerjanya menyabung ayam, bermain perempuan dan suatu saat tubuhnya ditemukan tewas. Neneknya seorang keturunan Brahmana yang menikahi laki-laki biasa. Nyantanein.

Kehidupan neneknya yang sangat menjunjung tinggi adat, bahwa kaum Brahmana menikah dengan Brahmana. Karena itulah ia sangat tidak menyukai Luh Sekar yang menikah dengan anak semata wayangnya. Menurut adat, jika kaum Sudra menikahi kaum Brahmana maka namanya harus diganti. Luh Sekar menjadi Jero Kenanga.

Luh Sekar memiliki keluarga yang harus ia nafkahi. Seorang ibu yang buta, dua adik perempuan kembar yang selalu menyakiti hatinya. Namun setelah ia menikah dan naik menjadi kasta Brahmana, ia tidak bisa berdekatan lagi dengan ibunya sendiri. Adat melarang hal itu dan dianggap sebagai penghinaan.

Jero Kenangan mendidik Telaga agar menjadi penari yang paling baik. Agar Telaga bisa menikah dengan kaum Brahmana juga. Tapi ternyata Telaga jatuh cinta pada pelukis, Wayan Sasmitha. Seorang anak dari kaum Sudra. Wayan berhasil mencuri hati Telaga. Ia pun mengingat pesan neneknya dalam memilih pasangan hidup. 

“Kelak kalau kau jatuh cinta dengan seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang harus kau simpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memiliki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu?? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kau munculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sebuah sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih..”

Bagian yang paling saya suka adalah ketika neneknya Telaga memberikan petuah tentang memilih pasangan hidup. Menikahlah dengan orang yang kamu cintai. Melawan adat dan itulah yang dipilih oleh Telaga ketika ia menerima cinta yang ditawarkan oleh Wayan.. Mereka akhirnya menikah dan pergi. Namun nasib berkata lain, setelah enam tahun, Wayan meninggal. Ia meninggalkan Telaga dan Luh Sari.

Cerita yang diangkat penuh dengan adat Bali. Jelas saja, Oka Rusmini adalah seorang jurnalis yang bekerja di Bali. Jika anda membaca buku ini, anda akan disuguhkan alur maju mundur. Terkadang berbicara tentang masa kini, kadang masa sekarang. Tapi itulah yang membuat buku ini semakin menarik.

Membaca buku ini membuat saya memahami cinta berdasarkan adat. Semoga cinta atas nama mempertahankan adat bisa dihilangkan, tapi benar-benar memilih sesuai hati.. Ciieeee.. πŸ˜›

Di dalam hidup ini kita sering menginginkan peran orang lain. Kita selalu merasa dengan menjadi orang lain kehidupan jadi lebih mudah. Nyatanya? Bermimpi untuk jadi orang lain justru membuat kita semakin menyulitkan diri kita dan membenci peran yang kita mainkan, yang sudah jadi hak kita. Kita tidak bisa menukar peran – Wayan Sasmitha

Rumah Mbah,
Depok, 10 September 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *