Cerita Perjalanan Menuju Pantai Ora (Part 1 – start)

Namanya Pantai Ora, saya mendengarnya ketika orang-orang menyebut tempat-tempat keren yang harus saya kunjungi selama bekerja di Maluku. Namun ketika saya mensearching detail perjalanan dan biaya menuju Pantai Ora, saya pun mundur teratur. Pantai Ora memang keren, tapi apa daya dengan gaji buruh saat ini, saya tidak mungkin mencapai tempat tersebut. Harus menabung beberapa bulan untuk datang ke pantai itu. Saya pun memendamnya dalam-dalam, berharap ada malaikat baik hati yang membiayai perjalanan saya kesana.
Ternyata doa itu didengar oleh Allah SWT, lama setelah saya mengubur dalam-dalam impian saya untuk bisa kesana. Malam itu ketika sedang ngenet gratis di rumah teman yang kerja di Pelabuhan Perikanan Nusantara, saya diajak untuk ikut berlibur dengan mereka. Teman-teman kenalan dari Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta. Mereka kerja di kapal penangkap udang dan ingin bersantai sebelum kembali ke kampung halaman di bilangan Jakarta.

Ketika mereka mengajak saya, rasanya tidak mungkin saya bisa membayar biaya penginapan dan lain-lain. Kalender sudah menunjukkan tanggal tua, apalagi pengeluaran bulan ini cukup banyak. Tapi mereka mengatakan bahwa perjalanan ini ditanggung sepenuhnya oleh mereka. Huaaaa.. Saya mau nangis denger ajakan tersebut. Saya baru mengenal mereka sekitar 3 bulan yang lalu, tapi mereka sangat baik sama saya. Allah SWT selalu memberikan yang baik kepada hambaNya lewat tangan-tangan yang tidak diduga. Thanks Bang Arif dan Bang Rahmat. ๐Ÿ˜€

Kami pun menyiapkan diri pada hari Jumat malam. Berkoordinasi mengenai keberangkatan dan lain sebagainya. Menurut Om Rais, kami harus siap berangkat pada pukul 5.30 Wit dan mendapatkan kapal fery ke Pulau Seram yang pertama. Namun rencana tak semulus yang diduga, kami baru tiba di Pelabuhan Liang sekitar pukul 08.00 Wit. Otomatis kami mendapatkan antrian untuk berangkat jam 10.00 Wit. Tapi karena pengaturan yang parah, kami pun baru mendapat giliran berangkat pada pukul 11.30 Wit. Kapal menuju Pulau Seram tersedia setiap dua jam sekali.

Oia, saya harus mengenalkan anggota perjalanan kali ini. Ada Bang Arif, Bang Rahmat, Bang Romi, Azhar dan Om Rais, tour guide kita. Sebenarnya ada keluarga Om Rais yang bergabung dengan kita, namun beda mobil dan mungkin karena beda umur, jadi ga gabung. ๐Ÿ˜› Nah, dermawan nan baik hati kali ini adalah Bang Arif dan Bang Rahmat. Thanks ya. ๐Ÿ˜€

Oke, kembali ke topik. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk tiba di Pelabuhan Waipirit, Pulau Seram. Kami pun langsung berangkat menuju Salemang. Jam tangan menunjukkan pukul 13.05 Wit.  Jalanan sudah bagus dan tidak berlubang, namun ada beberapa spot perbaikan jalan sedang dilakukan. Secara keseluruhan, jalanan yang kami lewati tergolong bagus. Pemandangan hijau menghampar dan menentramkan hati.

Hingga akhirnya kami mulai melewati jalanan rusak menuju Desa Sawai. Kanan dan kiri hanya pohon-pohon besar yang ditebang demi pembangunan fasilitas listrik. Padahal itu pohon-pohon gede yang saya taksir umurnya sudah ratusan. Hiks. Kami sudah mulai lelah, saya pun sudah mulai mual-mual karena goncangan yang terus menerus. Jam di layar handphone menunjukkan pukul 14.50 Wit. Om Rais pun mengatakan bahwa sedikit lagi kami tiba di dermaga menuju Pantai Ora. Kebahagiaan kami pun terpancar ketika pemandangan indah menghampar di depan mata. Lukisan alam yang maha indah tergambar, serasa ada di dalam lukisan. Bukit besar dipadu padankan dengan jernihnya air berwarna biru dan bentangan pasir putih.

Untuk menuju ke Pantai Ora, kami harus menaiki kapal kayu dengan motor sebagai penggerak. Kapal ini mampu menampung hingga 10 orang. Kami berenam langsung menaiki kapal dan mengambil gambar tempat indah ini. ๐Ÿ˜€ Kami segera menaruh tas di kamar masing-masing. Saya dapat kamar sendirian, sedangkan yang lain bertumpuk jadi satu. Kami buru-buru menuju dermaga, sayang, matahari sudah mulai menghilang dari langit. Kami hanya mengambil beberapa gambar di kala senja. Karena matahari tertutup oleh bukit tinggi sehingga cahayanya cepat hilang.

Malam pun datang, langit dipenuhi bintang-bintang, bertaburan. Walaupun dengan mata telanjang, bintang-bintang dapat terlihat terang. Saya beruntung bisa melihat bintang jatuh pada malam itu. Seperti anak-anak, saya tiba-tiba melontarkan impian, โ€œkembalikan saya kesini dengan seseorang yang spesial di hati saya,โ€ hahaha. Terkesan melankolis, tapi tidak ada yang salah dengan mengucapkan harapan. ๐Ÿ˜€

Malam itu saya tidur kurang nyenyak, mungkin karena berada di tempat baru. Apalagi Bang Arif baru bercerita tentang sosok perempuan di kamar mandi. Mungkin perempuan itu mau kenalan sama saya. Hahaha. Good nite, Perempuan. ๐Ÿ˜€

Part 1 โ€“ end
Ditulis di kantor Harta Samudra sambil buat laporan mingguan
Jumat, 24 Oktober 2014 17.30 Wit

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *