4 jam di Zagreb, Ngapain Aja?

Perjalanan saya menuju Zagreb, Ibu Kota Kroasia merupakan hal yang tak terencana, namun jadi salah satu perjalanan yang tak akan pernah terlupakan. 4 jam yang tak terlupakan. Nama Kroasia tenar setelah masuk dalam babak perempat final Piala Dunia 2018. Saya dan Arif awalnya bersepakat hanya mengunjungi negara yang terkenal karena naga, Ljubljana. Namun, di tengah perjalanan menikmati old town Ljubljana, kami melihat sebuah flyer promosi tentang perjalanan ke Zagreb. Flyer tersebut mengatakan kami hanya butuh waktu 2 jam, untuk bisa mengunjungi Zagreb dari Ljubljana.

Naik kereta ke Zagreb

Waktu telah menunjukkan pukul 13.00, saat itu sedang musim panas. Jadi waktu untuk menjelajah bisa berkisar hingga pukul 22.00. Kami sempat berdiskusi sebentar, lalu setelahnya kami sudah berada di loket pembelian tiket kereta api. Awalnya kami mencoba peruntungan untuk membeli tiket bis, karena harganya lebih murah. Namun jika menggunakan bis, waktu jelajah kami akan berkurang. Akhirnya opsi yang kami miliki adalah kereta api. Harga tiket kereta per dua orang adalah 30.30 euro untuk pulang pergi.

perjalanan menuju Zagreb

Perjalanan ke Zagreb, kami melewati pegunangan Alpen yang sangat indah. Terhampar pegunungan dan sungai dengan air yang sangat jernih. Belum lagi kompartemen kereta kita hanya berisi kami berdua. Karena menurut informasi di Google, kompartemen kereta biasanya penuh dan berdesakan. Kami bisa puas menikmati perjalanan yang indah. Sang kondektur juga memeriksa passport kami, dan memberikan cap bahwa kami masuk negara Kroasia menggunakan kereta.

Tiba di Zagreb

Setibanya di Stasiun Glavni Kolodvor, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kami pun bergegas turun dari kereta untuk segera melihat keadaan kota ini. Patung King Tomislav berdiri gagah menyambut kami. Tak jauh dari situ berdiri Gedung King Tomislav yang jadi salah spot turis disini. Di gedung ini memiliki halaman yang sangat besar, para warga lokal dan turis biasa menghabiskan waktu disini. Sering jadi tempat singgah untuk minum bir karena lokasinya yang tak terlalu jauh dari tempat perbelanjaan.

King Tomislav Building

 

Kami segera menukar uang euro kami yang kami punya dengan mata uang negara Kroasia, yaitu Kuna. 10 euro kami pun bertukar dengan 60 kuna. Negara pecahan Yugoslavia ini memiliki mata uang tersendiri. Sepertinya hampir semua negara pecahan Yugoslavia memiliki mata uang tersendiri, sehingga menukar mata uang euro adalah wajib hukumnya. Karena waktu kami yang sempit, akhirnya kami hanya menukar 10 euro.

4 jam di Zagreb, ngapain aja?

Kami hanya punya waktu 4 jam di Zagreb sebelum kereta terakhir menuju Ljubljana. Kami pun segera mengambil kesempatan dengan menuju tempat-tempat yang indah berdasarkan informasi dari sini. Daerah pertama yang ingin kami datangi adalah Upper Town Zagreb atau biasa disebut Gornji Grad–Medveščak. Bagian kota ini dibangun pada abad ke 13 dan 14, sehingga masih memiliki bangunan tua. Untuk memulai perjalanan, kami pun juga membeli sepotong jagung bakar untuk menemani waktu sore kami berkeliling Upper Town Zagreb.

Katedral

Awalnya kami ingin pergi ke Museum of Broken Relationship yang sering diperbincangkan oleh banyak orang. Sebuah museum yang memiliki barang-barang orang patah hati. Namun biaya masuk museum lumayan mahal, yaitu 30 kuna per orang. Sedangkan uang kuna kami tak terlalu banyak. Sehingga kami pun memutuskan untuk membatalkan keinginan untuk masuk kesana dan hanya melihatnya dari kejauhan.

Berjalan lebih jauh lagi, kami mengunjungi Katedral of Assumption of the Blesses Virgin Mary yang memiliki dua spiral yang terlihat dari kejauhan. Dibangun di abad ke 13, tapi direkonstruksi pada abad 20 karena gempa bumi. Selain itu jangan lupa untuk mampir di toko oleh-oleh. Waktu yang sempit membuat kami hanya membungkus dua buah magnet bertuliskan Zagreb. Tanpa terasa uang kuna di kantong hanya tersisa 22 kuna.

Pemandangan dari tower

Matahari pun mulai turun dari peraduannya, kami bergegas menuju ke Lotrščak Tower. Sebuah Menara yang dibangun sejak abad ke-13 sebagai penjaga gerbang selatan kota Gradec. Menara ini terkenal karena setiap hari pada pukul 12 siang ada kanon yang ditembakkan dan menjadi landmark di kota ini

Saya Belajar Keajaiban Sedekah

Di luar Lotrščak Tower kami mendengar alunan gitar dari seorang bapak tua yang ditemani oleh istrinya. Lebih dari lima menit kami hanya diam mematung disitu dan mendengar alunan musiknya. ‘All you need is lova’ kata di dalam kotaknya. Akhirnya kami memberi uang koin 2 kuna ke dalam kotak gitarnya. Ia tersenyum dan berterimakasih dengan tulus.

Setelah itu kami masuk ke dalam auditorium Menara Lotrščak untuk naik ke atas menara. Namun kami tidak tahu bahwa untuk naik ke atas menara, kami diharuskan membayar 20 kuna per orang. Sedangkan uang di kantong hanya tersisa 20 kuna. Tak ada waktu lagi untuk menukar euro dengan kuna. Kami pun segera berdiskusi siapa yang harus naik ke atas menara. Setelah menentukan siapa yang akan naik, saya pun menyerahkan satu lembar 20 kuna. Sang petugas mengatakan “20 kuna for each person”. Saya pun menjawab “this is our last kuna, so we just buy one ticket“, kataku. Lalu tanpa disangka petugas mengatakan “both of you can go upstairs, just pay 20 kuna,“.. Alhamdulillah. Dua kuna yang kami keluarkan untuk pengamen di depan tower langsung dibayar tuntas setelahnya.

uang kuna terakhir

Menara Lotrščak dengan Sunset menawan

pemandangan dari Lortscak Tower
pemandangan dari Lortscak Tower

Diatas Menara Lotrščak kami menikmati matahari terbenam. Pemandangan kota Zagreb dari ketinggian pun ternyata menakjubkan. Kami harus segera turun karena Menara ditutup pukul 6 sore. Setelah berterima kasih dengan petugas, kami pun pulang dengan gembira.

Di depan Menara Lotrščak, tiba-tiba seorang tua menyapa kami dengan ramah. “Where are you from?,” katanya. Kami menjawab dengan kompak , “we are from Indonesia,”. Bapak tua itupun langsung menjawab , “ah, you guys must know Soekarno, right? I read a lot about him, you had good president,” katanya. Kami pun menyempatkan diri bercerita dengan bapak tua tersebut, namun karena waktu yang sempit, kami pun berpamitan dan bergegas menuju stasiun.

Setibanya di stasiun, tak perlu menunggu waktu lama, kereta pun datang dan membawa kami pulang ke Ljubljana malam itu. Perjalanan 4 jam yang singkat namun berkesan selama di Zagreb.

 

ditulis di Makassar

10:28 WITA

 

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!