Menikmati pagi di Pinggir Sungai Rhine

Sungai Rhine merupakan sungai yang melintasi beberapa negara di benua Eropa. Ia berawal di Swiss, kemudian melintasi Swiss-Austria, Swiss-Jerman, hingga ia berakhir di North Sea yang berada di Belanda. Karena selama ini saya selalu mendengar tentang sungai ini, terbersitlah ide untuk menghabiskan minggu pagi disana.

Sebelum tidur, saya menyempatkan diri untuk mengajak teman-teman WUR 2017 untuk bertualang esok hari. Awalnya saya mengajak untuk menikmati sunrise di pinggir sungai Rhine pukul 06.00 pagi. Keesokan harinya, ketika saya melihat jendela jam 06.00 masih pagi buta. Matahari belum menunjukkan dirinya sama sekali. Ditambah hari ini sedang mendung.

Saya sempat mengecek aplikasi Buienradar sebelum memutuskan untuk pergi. Katanya hari ini akan mendung terus sepanjang hari. Suhu di luar juga menunjukkan angka 13-14 derajat celcius. Lumayan dingin. “Pasti teman-teman masih pada ingin tidur,” gumam saya. Akhirnya saya pun menunda keberangkatan hingga pukul 08.00 pagi.

pencari sinar mentari

Ternyata yang ingin merasakan Sungai Rhine bukan hanya saya. Terkumpul 4 orang dengan saya yang punya keinginan untuk menikmati pagi di pinggir sungai. Kami pun mencari jalan untuk tiba disana. Sudah beberapa kali kami sempat nyasar dan malah menemukan spot foto baru di dekat pelabuhan kecil.

Setelah itu berdasarkan panduan dari seorang teman yang sudah pernah ke Sungai Rhine, kami mencari lokasi foto. Di dekat Moskee Wageningen, ada sebuah pabrik pasir. Dari pabrik pasir, kami mengikuti jalan setapak kecil yang terbuat dari batu bata merah. Hamparan lading hijau sudah di depan mata, tapi kami belum tahu dimana langkah ini akan berhenti.

Jalan setapak berakhir di sebuah rumah tua. “Wolfgaand” tulisan di depan rumah itu. Kami memarkirkan sepeda kami disana. Setelah itu melewati padang rumput yang dipenuhi oleh sapi-sapi berwarna coklat, hitam dan kelabu.

Tak berapa lama, kami pun tiba di pinggir sungai. Bentuknya mirip seperti pinggiran pantai, tapi tak berombak. Pasir yang ada pun sangat halus, hampir menyamai sedimen. Hahha. Jadi bisa dikatakan partikel sungai disini sangat halus.

pinggir sungai

Ketika kami datang, matahari tiba-tiba muncul. Ia bersinar sangat cerah. Ternyata aplikasi bueinradar pun bisa salah memprediksikan cuaca. Kami menikmati sinar matahari di pinggir sungai. Bagi anak-anak dari negara tropis, sinar matahari seperti ini sangat dirindukan. Apalagi ketika matahari sudah mulai jarang terlihat di musim gugur. Entah bakalan seperti apa keadaan di musim dingin nantinya.

Tapi paling tidak kami masih bisa merasakan panas walaupun hanya sesaat. Karena 30 menit kemudian, sinar matahari kembali redup dan bersembunyi di balik awan. Tapi beruntungnya ia tak mengundang hujan, sehingga kami pun melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat di pusat kota. Seperti taman dan gereja tua.

Sunday is well spent. 😊

Ditulis di Living Room 10 C

10:51 CET Minggu, 8 Oktober 2017

Sambil dengar lagu Don’t look back in anger – Oasis

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *