Amankah Rawat Inap di Rumah Sakit saat Pandemi?

Di saat pandemi COVID-19 berlangsung apakah aman rawat inap di rumah sakit? Ayyash harus rawat inap saat pandemi COVID-19 berlangsung, khawatir pastinya.

Sebelum saya menceritakan kenapa saya ke RS, ada baiknya melihat saran dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI_IG) mengenai keadaan anak yang harus dibawa ke Rumah Sakit saat pandemi seperti ini. Dikutip dari akun Instagram @idai_ig, selama pandemi Covid-19, sebaiknya untuk menunda bawa anak Anda ke rumah sakit kecuali gawat darurat seperti:

  • Sesak napas atau biru pada bibir

  • Diare terus-menerus atau muntah-muntah disertai lemas (dehidrasi)

  • Nyeri perut hebat

  • Perdarahan terus-menerus

  • Kejang atau penurunan kesadaran atau kelumpuhan

  • Demam tinggi tiga hari atau lebih atau demam pada neonatus, yaitu bayi baru lahir usia di bawah satu bulan

  • Kecelakaan

  • Keracunan, menelan benda asing, digigit hewan berbisa.

Nah dalam kasus Ayyash, dia sudah demam selama 4 hari. Saya gak berhasil membuat demamnya turun walaupun sudah menggunakan banyak hal. Saya akan menceritakan step to step ke RS selama pandemi ini. πŸ™‚

Periksakan diri via aplikasi Online

Jika kondisi pasien yang sakit masih dalam batas yang wajar, ada baiknya periksakan diri apps online seperti Halodoc atau AloDokter. Saya menggunakan apps Halodoc saat memeriksakan Ayyash. Karena ia sudah demam tinggi selama tiga hari dan lemas. Awalnya saya berusaha mengobati dia menggunakan cara-cara yang selalu diajarkan oleh beberapa ahli saat anak mengalami demam. Misalnya mengompres dengan air hangat, melakukan skin-to-skin dengan bayi, berikan minyak bawang, selalu berikan ASI dan juga mandikan bayi air hangat.

Tapi demam Ayyash tak kunjung reda. Titik demam tertinggi adalah 39.8 dan kami pun memberikan paracetamol sebagai pencegahan kejang. Alhamdulillah Ayyash ak punya riwayat kejang. Tapi demam tetap tak kunjung mereda, alih-alih bisa berinteraksi dia malah semakin melemah.

Hasil dari periksa Ayyash melalui apps, dokter spesialis anak (DSA) merekomendasikan kami untuk memeriksakan darah Ayyash. Karena ada kemungkinan Ayyash terkena Demam Berdarah. Setelah konsultasi kami segera membawanya ke Laboratorium Prodia, namun lab Prodia tutup saat hari libur. Kebetulan saat itu sedang tanggal merah.

Kami pun memiliki dua pilihan rumah sakit yang memiliki laboratorium untuk cek darah. RS Hermina Depok atau RSIA Bunda Aliyah.

Pilih Rumah Sakit yang menerapkan Physical Distancing

Kami menelpon kedua RS tersebut, dari percakapan telepon kami memilih untuk membawa Ayyash ke RSIA Bunda Aliyah. Hal ini karena Rumah Sakit Ibu Anak lebih cocok untuk saat ini. Biasanya sih Ayyash pergi periksa kalau sakit di RS Hermina, tapi untuk saat ini, sepertinya kami pilih ke RSIA terlebih dahulu. Kami pun segera membawa Ayyash ke RSIA Bunda Aliyah di Depok Lama.

Alhamdulillah, di RSIA Bunda Aliyah sangat kosong. Kami dapat nomor antrian kelima, padahal saat itu sudah pukul 2 siang. Kami segera ke respsionis dan menjelaskan kondisi kami. Ternyata rujukan dari dokter di Halodoc bisa digunakan untuk meminta periksa darah. Pihak resepsionis segera mengarahkan kami ke bagian laboratorium.

Namun karena kami meminta periksa darah dari rujukan bukan dokter di RSIA, kami harus membayar 483.000 untuk tes darah NS1. Arif segera menyelesaikan pembayaran. Setelah itu Ayyash pun segera diambil darahnya. Kami diminta menunggu satu jam untuk melihat hasilnya.

Hasil pun keluar jam 4 sore, dari lembar kertas itu bisa dilihat bahwa Ayyash positif terkena virus DBD. Karena saat itu tidak ada dokter anak yang praktek dan hanya dokter jaga di IGD, kami pun urung untuk memeriksakan Ayyash. Kami segera membawa pulang Ayyash ke rumah.

Memutuskan Rawat Jalan atau Rawat Inap?

Setibanya di rumah saya segera menghubungi pihak dokter di Halodoc lagi. Dari hasil pembacaan dokter pada lembar pemeriksaan, Ayyash hanya butuh banyak asupan cairan. Tapi Ayyash terlihat lemas dan tak bertenaga. Untuk sekedar senyum saja susah sekali. Ia juga selalu memuntahkan obat paracetamol yang kami berikan melalui mulut. Akhirnya kami coba memasukkan obat penurun panas melalui anus, eh malah dia eek-in. Karena kondisi itulah kami berniat membawanya untuk pergi ke RSIA Bunda Aliyah lagi.

Pikiran saya waktu itu apakah aman untuk melakukan rawat inap di RS saat masa pandemi seperti ini? Kemarin udah diapresiasi sama teman yang dokter agar tidak masuk ke IGD. Karena kita tidak pernah tahu siapa saja yang pernah masuk kesana.

Tapi melihat kondisi Ayyash yang masih lemas dan tidak aktif. Kami pun mencoba membawa dia ke klinik dokter dekat rumah yang jadi rujukan BPJS kami. Namun ternyata di klinik tersebut dokter yang seharusnya mengambil darah Ayyash untuk tes tidak bisa menemukan jalur darah Ayyash. “Bayi Ibu terlalu gemuk, agak susah menemukan jalur darahnya,” katanya. Kami pun disuruh segera ke IGD sama dokter tersebut karena melihat kondisi Ayyash yang sudah lemas.

Pergi ke IGD

Kami pun tiba di IGD RSIA Bunda Aliyah, petugas memeriksa suhu tubuh kami sebelum kami masuk ke IGD. Arif segera menyerahkan hasil periksa darah Ayyash. Dokter jaga dan perawat di IGD menggunakan jas hujan dan sepatu boot. Masker medis juga digunakan dan sarung tangan. Kami agak ketar-ketir juga melihatnya. “apakah ini keputusan yang tepat membawa Ayyash ke rumah sakit?” pikir saya waktu itu.

Perawat juga mulai mengajukan pertanyaan mengenai riwayat perjalanan kami berdua.

Apakah kami pernah melakukan perjalanan ke luar negeri?

Apakah kami dalam keadaan batuk atau pilek?

Apakah kami pernah demam?

Apakah Bapak atau Ibu masih bekerja?

Setelah menjawab pertanyaan, dokter jaga yang melihat hasil NS1 pun menawarkan agar Ayyash diobservasi lebih lanjut. Ayyash diambil darah lagi untuk melihat trombositnya. Setelah menunggu satu jam, hasilnya keluar. trombosit Ayyash yang awalnya 134.000 turun drastis jadi 74.000. Dokter jaga pun memberikan dua opsi, rawat inap disini atau rawat jalan dengan catatan harus percaya diri untuk kasih asupan cairan.

Rawat Inap di saat Pandemi

Karena Ayyash sudah lemas tak berdaya kami pun memutuskan untuk memilih rawat inap di rumah sakit. Awalnya saya bersikeras untuk rawat jalan, tapi ketika menunggu satu jam hasil darah, Ayyash muntah dua kali. Hal inilah yang membuat saya akhirnya memilih untuk rawat inap.

Segera setelah Arif mengurus administrasi rawat inap di RS, Ayyash segera dipasangi infus oleh perawat. Saat itu masih jam 4 sore. Dua perawat mencoba mencari jalur infus di lengan Ayyash namun tidak dapat. Mereka juga mencari jalur infus di kaki juga tidak dapat. Alhasil Ayyash masuk ke kamar inap tanpa diinfus, kami menunggu perawat yang jaga malam hari. Alhamdulillah, perawat yang jaga malam, Pak Taufik, berhasil menemukan jalur infusan di kaki Ayyash. Kami berdua lega sekali. Karena jika tak dapat jalur infusan, ada kemungkinan harus operasi kecil untuk memasukkan infus ke tubuh Ayyash.

Kami mendapatkan kamar dengan 4 tempat tidur. Dari curi dengar, semua pasien di dalam kamar ini adalah pasien DBD.Β  Malam itu saya hanya tidur berdua sama Ayyash. Arif harus tidur di ruang tunggu, karena sejak pandemi, penjaga pasien hanya diperbolehkan satu orang. Pengunjung pun tidak diperbolehkan untuk mengunjungi pasien.

Perawat selalu datang menggunakan masker dan sarung tangan. Ini juga yang membuat saya merasa sedikit aman. Kontak antara pasien dengan perawat juga diminimalisir. Dokter yang menangani Ayyash baru datang keesokan harinya. Ia mengatakan jika trombosit Ayyash naik sedikit, dia akan memulangkan Ayyash sesegera mungkin. Karena kondisi pandemi seperti ini lebih baik melakukan rawat jalan jika kondisi pasien sudah lebih baik.

“Saya memulangkan pasien DB dengan trombosit 36.000, karena saat seperti ini lebih baik rawat di rumah,” ujar dokter Bram yang memeriksa Ayyash. Maka di hari keempat rawat inap, trombosit Ayyash naik hingga 61.000 kami pun diizinkan untuk pulang ke rumah. Dengan catatan HB Ayyash masih agak rendah, sehingga kami WAJIB memberikannya asupan makanan (MPASI) yang bisa jadi penambah darah. Misalnya buah naga dan hati ayam.

Kami pun pulang ke rumah setelah 4 hari dirawat inap di RSIA Bunda Aliyah dan diwajibkan untuk check-up setelah dua minggu waktu kepulangan kami. Ini merupakan protokoler baru sejak ada pandemi. Pasien diharuskan datang setelah dua minggu karantina mandiri dirumah.

Isolasi Mandiri 14 hari di rumah

Setibanya di rumah kami berdua langsung mandi dan mencuci semua pakaian dan barang-barang dari RS. Selimut, masker, baju, celana dan semua kain-kain yang kami gunakan selama di RS. Kami bertiga berada terus di dalam kamar. Hal ini kami lakukan karena di dalam rumah ada Ayah dan Bunda yang rentan dengan virus ini. Kami tak ingin menjadi carrier tanpa kami ketahui.

Selama masa karantina, Adik saya selalu membawakan makanan untuk kami bertiga. Sehingga kami benar-benar tidak keluar kamar selama 10 hari. Keluar kamar hanya untuk ke kamar mandi dan menggunakan masker ketika keluar dari kamar. Setelah dirasa bahwa kami tidak menunjukkan gejala COVID-19, kami pun mulai memberanikan diri keluar kamar tanpa menggunakan masker dan bisa bersosialisasi dengan penghuni rumah. Alhamdulillah

Kesimpulan

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat membawa anak ke RS di saat pandemi seperti ini. Selalu jaga jarak, gunakan masker, bawa hand sanitizer, bawa alas sendiri, jangan menyentuh muka, bawa tusuk gigi untuk pencet tombol lift, selalu cuci tangan, gunakan siku untuk membuka pintu. πŸ™‚

Oia, pilih Rumah Sakit yang menerapkan physical distancing ya. Itu penting. πŸ™‚

 

Semoga lekas pulih dan sehat selalu. Aamin ya rabbal alamin.

 

ditulis #dirumahaja

0:15 Rabu 13 Mei 2020

 

You may also like

1 Comment

  1. Terima kasih untuk tulisan ini, Kak. Beberapa hari lalu sempat ingin ke klinik untuk cek lab, tapi nggak jadi, sih. Penjelasan di tulisan ini bermanfaat banget supaya kita tetep bisa aman ketika pergi ke rumah sakit.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.