2020,  indonesia,  Opinion

Apresiasi dalam Bertanya

Apresiasi dalam bertanya. Selama saya belajar di Belanda, ada satu hal yang paling saya sukai. Setiap kali kita bertanya, dosen atau pengajar akan mengatakan :
“That’s a good question to ask”
“That’s a nice question, let me explain…”
“Good question”
Mereka mengapresiasi pertanyaan dari siswa. Ini yang membuat mahasiswa tidak merasa takut untuk bertanya. Bahkan mendebat dosen yang sedang mengajar di depan.
Sama seperti Bu Kim Bonine yang sedang mengajar di kelas CSF yang saya ikuti. Pertanyaan saya mungkin terdengar sepele, tapi ia memulai menjawab pertanyaan saya dengan :
“That’s a good question to ask”

Budaya bertanya di Indonesia

Nah, balik ke Indonesia, kadang ada pengajar yang secara tidak sadar menciptakan ketakutan di kalangan mahasiswa untuk bertanya. Karena pernah ada kata-kata yang dilontarkan seperti :
“Kamu tidak perhatikan apa yang saya bilang tadi?”
“Ini sudah saya jelaskan di dalam presentasi saya, tapi saya akan jelaskan lagi”
Akhirnya murid pun gak berani bertanya karena pernah dapat pengalaman seperti itu. Saya gak tau apakah sistem pembelajaran sekarang sudah berbeda atau tidak.
Tapi Arif dulu pernah punya trauma untuk bertanya kepada gurunya. Karena ketika ia bertanya, malah linggis yang melayang ke kepalanya. Iya. Linggis kecil dipukul ke kepalanya. Anak kecil yang duduk di kelas 2 SD. Hingga akhirnya trauma ini pun masih ada hingga saat ini. Ia tak berani bertanya di tempat umum. Karena ia pernah terluka karena guru SD nya.
Mungkin guru SD nya sudah melupakan hal itu, tapi Arif tidak bisa melupakannya hingga saat ini. Sedih sih, tapi ia berusaha agar bisa bertanya di tempat umum dan mengemukakan pendapatnya.

Cerita dari Netijen

Tulisan saya yang masuk ke dalam FB sudah dishare oleh 900 an orang. Dan hampir semuanya mengalami hal yang sama. Mereka pernah ‘terluka’ karena perlakuan guru di masa sekolahnya. Mereka tidak mendapatkan apresiasi yang bagus saat bertanya. Malah dianggap cari muka atau dianggap menantang sang guru.┬áPadahal, mereka benar-benar tidak mengerti. Huhuh.
Tugas guru sangatlah berat, masa depan seseorang ada di tangannya tanpa ia sadari. Semangat kepada para pendidik! Semoga cerita ini bisa diambil ibrahnya. Aamin ya rabbal alamin

writer

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!