Membacakan Buku Untuk Anak, Apakah Benar Berdampak?

Membacakan buku untuk anak, emangnya beneran ada dampak? Pertanyaan ini pernah terlintas di dalam kepala ku. Lalu tiba-tiba, malam tadi saya ditegur oleh Bunda.

“Dlien, kamu udh ngabisin berapa juta nih untuk beli bukunya Ayyash?”

Membeli Buku Anak

Saya terdiam, lalu menarik nafas panjang. Karena memang pertanyaan ini juga pernah terlontar oleh Arif ketika saya seringkali membeli buku untuk Ayyash. “investasi buku dari sekarang,” pikirku waktu itu. Saya sampai membawa lebih dari 6 kilo buku dari Belanda.

Kalau dipikir-pikir, memang saya sangat royal dengan yang namanya buku untuk Ayyash. Sejak saya tahu bahwa membaca itu menjadi salah fondasi untuk perkembangan otak anak. Saya benar-benar percaya akan hal itu. Saya pun mulai hunting informasi mengenai pentingnya membacakan buku untuk anak, bahkan sejak bayi. 

Dan voila, ternyata perkembangan otak anak paling pesat terjadi di saat anak berumur dibawah 5 tahun. Nah ini yang disebut dengan Golden Age. Periode inilah yang jika dimaksimalkan dengan baik, otak anak akan berkembang dengan baik.

Menjawab Pertanyaan Bunda tentang Buku Anak

Lalu bagaimana saya menjawab pertanyaan Bunda? Saya menarik nafas, lalu mulai menerawang bagaimana buku yang saya bacakan selama ini membentuk kebiasaan Ayyash.

Setiap dia mau tidur, pasti akan ambil satu buku. Lalu ia akan duduk di pangkuan saya lalu minta dibacakan buku yang ia bawa.

Sehabis makan, dia akan ambil buku. Lalu menunjuk-nunjuk sesuatu di buku tersebut sambil mengucap “woooww” atau benda-benda di dalam buku tersebut. Ia dengan bahasanya akan mengucapkan kata “keta, peda, nuna, nintang, nulan,” dan lain sebagainya.

Kalau dia menangis, saya tinggal memberinya buku. Maka dia akan diam dan asik dengan bukunya. Ia akan tenggelam dengan gambar dan warna yang ada di dalam buku tersebut.

Dan yang paling fascinating dari perkembangan Ayyash adalah ia mampu berbicara dengan tiga kata lengkap dan juga mampu berdialog dengan kami. Bahkan ia sudah mampu mengatakan kata hingga 100 kata. Masya Allah.

Lalu, saya pun mulai menjawab “Bun, bunda lihat gak bagaimana Ayyash sudah berbicara 3 kata? Bunda sudah melihat dengan kebiasaan Ayyash yang mampu diajak berdiskusi mengenai sesuatu? Bunda juga kaget dengan Ayyash ketika ia berbicara kata tolong, maaf dan terima kasih di waktu yang tepat?,”

Bunda saya pun terdiam dan mengangguk-angguk.

Hingga dalam diskusi itu, kami pun sepakat bahwa ada hal yang turut dibeli ketika saya membelikan Ayyash banyak buku. Saya ikut membeli pengetahuan, saya pun membeli informasi, saya turut membeli perilaku sebaiknya Ayyash bersikap, saya turut membeli isi kebun binatang, dan pengalaman dari buku bacaan.

Tips Membacakan Buku untuk Anak

Berdasarkan pengalaman saya membeli buku selama 18 bulan ini. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Pertama, jenis buku apa yang cocok untuk anak usia tersebut. Sebagai contoh, anak usia 6 bulan sedang senang memasukkan sesuatu di dalam mulutnya sebagai sarana sensorinya. Jadi pilih buku dengan kondisi soft, agar tidak sakit ketika ia gigit.

Kedua, kapan waktu yang tepat untuk membacakan buku kepada anak. Ada beberapa waktu yang paling tepat ketika membacakan buku. Misalnya saat makan atau setelah makan, sebelum tidur siang, sebelum tidur malam, atau saat ia sedang antusias mengambil buku sendiri. Anak biasanya akan terbangun kebiasaannya jika diperkenalkan lebih dulu oleh orang tuanya.

Ketiga, sering bacakan buku dengan nyaring atau dengan metode Read Aloud. Hal ini membuat anak merasa dekat dengan orang tua karena bisa mendengar suaranya. Ini juga membuat otak anak berkembang dengan pesat ketika menyamakan antara mata dan suara ketika kita membacakan buku.

Say No To Gadget, Lebih Baik Baca Buku

Bagi banyak orang tua, membelikan buku anak menjadi sangat berat dibandingkan memberikan gadget. Padahal buku adalah salah satu wadah agar otak anak berkembang pesat. Sudah banyak penelitian yang meneliti mengenai dampak pemberian gadget kepada anak-anak apalagi di saat tumbuh kembang anak sangat pesat.

Dampak yang paling sering disebutkan adalah terlalu banyak gadget dapat berdampak negatif pada otak anak pada fungsinya, dan bahkan dapat menyebabkan defisit perhatian, keterlambatan kognitif, gangguan belajar, peningkatan impulsif, dan penurunan kemampuan untuk mengatur diri sendiri.

Salah satu yang seringkali ditemukan pada bayi yang terpapar gadget adalah late talker atau bahkan speech delay. Jika ini sudah terjadi, butuh terapis tumbuh kembang untuk membantu orang tua.

Selain itu perubahan perilaku anak yang bisa jadi cenderung agresif karena terpapar pada video games yang berisi konten kekerasan. Selain itu obesitas juga mengintai anak yang lebih suka duduk di depan gawai seperti HP ataupun TV. Banyak sekali penelitian yang menunjukkan hal itu, tinggal bagaimana orang tua bersikap dalam masalah gadget pada anak.

Untuk bayi dibawah 5 tahun, usahakan agar tidak pakai gadget. Jika ingin bernyanyi, ibu atau bapaknya yang bernyanyi. Jika ingin belajar bahasa, usahakan jangan menggunakan gambar, tapi hanya suara. Saya kadang kala memutar lagu menggunakan Spotify untuk lagu anak-anak yang saya lupa liriknya.

Penutup

Masa depan anak tidak bisa diulang, jangan sampai kita menyesal dengan perkembangan anak. Karena sudah banyak cerita sedih orang tua yang menyesal karena memberikan gadget pada anaknya sejak dini. Semoga kita bisa menghindarkan anak menggunakan gadget hingga ia mampu membatasinya.

Saya berusaha agar Ayyash bisa mengenal gadget saat usianya sudah selesai dari periode Golden Age. Teknologi bisa jadi alat bantu, tapi bisa jadi perusak masa depan. Tinggal orang tua yang mengarahkan bagaimana penggunaan bijak untuk gadget kepada anak. 🙂

Semangat, smart parents 🙂

 

ditulis di Tajurhalang

23:38 WIB, 6 April 2021

Setelah habis diskusi dengan Bunda mengenai pembelian buku yang mahal-mahal.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!