Belajar di Teras Menghadap Laut

Mendidik adalah tugas setiap orang yang terdidik – Anies Baswedan
Kata-kata yang dicetuskan oleh penggagas Gerakan Indonesia Mengajar adalah salah satu motivasi kuat saya untuk menjadi seorang pengajar. Walaupun kemampuan dan ilmu saya masih cetek dan ecek-ecek, saya berusaha berkontribusi langsung terhadap pendidikan. Niatnya satu : ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Walaupun terkesan agak “ketinggian”, tapi toh walaupun kecil, bisa memberikan sedikit angin segar bagi anak-anak.
First of all, jangan membayangkan saya adalah orang yang pintar. Anda salah besar. Bayangkan, ketika anak-anak ini bertanya soal pembagian dan perkalian matematika, saya hanya geleng-geleng kepala. Tak mengerti. Jujur, di umur 23 ini, saya tidak sanggup menghafal perkalian satu sampe sepuluh! Jadi jangan heran jika saya agak lambat dalam melakukan perkalian atau pembagian. 
Karena itulah saya hanya mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan sedikit pelajaran-pelajaran yang bukan menghitung.  Pilihan subjek mata pelajaran ini malah membuat anak-anak ini tertarik. Mereka sangat suka dengan pelajaran bahasa inggris. Menurut mereka banyak bule-bule yang sering datang ke Wuring, karena itu mereka ingin berkomunikasi dengan para bule tersebut. Belajar bahasa inggris menjadi modal penting untuk bisa ngajak ngobrol seorang bule.
Kelas kami terletak di sebuah teras seorang nelayan yang berbaik hati untuk meminjamkan tempat ini setiap sore. Kegiatan ini saya lakukan sembari menunggu nelayan-nelayan yang akan saya data (pengukuran). Jadi, kelas ini tidak mengabaikan tugas utama saya di Wuring. πŸ˜€
Kelas pertama dimulai dengan membaca huruf alfabet dalam bahasa inggris. Setiap anak saya wajibkan untuk bisa melafalkan huruf-huruf. Awalnya mereka kepayahan, namun di minggu kedua ini, mereka sudah jago dalam melafalkan huruf-huruf tersebut. 
Saya membatasi kelas ini 10 orang saja, dikarenakan teras ini tidak terlalu besar untuk menampung kami semua. Belum lagi teras ini terbuat dari bambu, yang mungkin saja bisa roboh tiba-tiba karena terlalu penuh. Tapi saya tetap membuka kesempatan jika ada anak-anak yang ingin ikut belajar.
Kesepuluh murid saya memiliki latar belakang yang sama, semuanya adalah anak nelayan. Tapi setiap dari mereka memiliki keunikan masing-masing. Fauzan yang cengeng tapi jago menembak ikan, Rizki yang sangat kemayu tapi mahir dalam mata pelajaran apapun, Lopa’ yang sangat perhatian, Fadlan yang cerdik, Windi yang cerewet, Alfian yang seringkali malu-malu, dan Wawan yang berprofesi sebagai buruh pengangkut barang di usianya yang masih sangat belia. Tapi saya paling suka dengan  Irfan yang selalu menggendong adiknya ke kelas, ia harus menjaga adiknya yang paling bungsu. Bapaknya melaut, Ibunya berjualan, Irfan pun didapuk untuk menjadi baby sitter adik bungsunya, Fair.
mereka sangat antusias belajar komputer
Anak-anak ini memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Terkadang kegiatan mengajar terputus jika ada kapal nelayan yang datang. Wawan dan Fadlan bekerja sebagai pengangkut ikan-ikan dari kapal menuju tempat landing. Selain itu saya juga harus mengukur ikan-ikan tuna yang datang. Namun hal ini tidak mengurangi semangat anak-anak ini untuk terus belajar.
Tulisan ga jelas ini terinspirasi dari siapapun yang saya baca tulisannya di blog-blog.
ditulis di kamar kost
Rabu 23 April 2014, 1:20 Wita
ketika ga bisa tidur karena terlalu lama tidur siang.

ternyata mudah menggunakan laptop

hayooo, ada yang nyontek. XD

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *