Dua Minggu Isolasi Mandiri Sekeluarga Karena Covid-19

Ketika sekeluarga kontak erat dengan anggota keluarga yang didiagnosa positif Covid-19. Kami harus melakukan isolasi mandiri di rumah selama dua minggu. Alhamdulillah kami masih diberikan kesehatan, hasil swab menunjukkan bahwa kami negatif. Alhamdulillah.

Awal Mula Cerita

Tepat tiga minggu yang lalu, adik saya Milzam datang ke rumah Ayah dan Bunda. Saya dan keluarga masih tinggal di rumah orang tua saya. Milzam datang bersama anak dan istrinya. Ia tinggal di kontrakannya dan rutin datang ke rumah orang tua kami tiap bulan. Ia datang di hari Sabtu siang.

Seperti keluarga yang sudah tak lama bertemu, apalagi di masa pandemi seperti ini. Ketika Milzam datang, ia melepas maskernya lalu mencium tangan Bunda dan Ayah. Tumben saya lengah pada waktu itu. Biasanya saya yang paling keras mengingatkan orang yang datang dari luar untuk segera mencuci tangan. Namun kali itu saya alpa.

Kami pun bercengkrama layaknya keluarga seperti biasa. Tak ada firasat apapun.  Namun kali itu kedatangannya agak berbeda. Pada hari berikutnya, ia tiba-tiba demam tinggi, sesekali batuk dan agak sesak. Sore itu, ia tiba-tiba pamit kepada kami untuk kembali ke rumah. Tak ada pikiran apapun. Ia pamit. Saya masih membungkuskan oreo dan tempat minum kepada keponakan saya.

Gejala Khas Covid-19

Ketika pulang ke Depok, demamnya tak kunjung reda. Malah bertambah ia merasa seperti gejala tipes karena dia pernah ada riwayat tipes DBD berulang.

Istrinya yang khawatir pun segera membawanya pergi ke rumah sakit terdekat dari kontrakannya. Di rumah sakit, ia langsung masuk IGD. Namun disarankan untuk kembali ke faskes tingkat 1. Akhirnya mereka menuju klinik Brimob. Dari sana mereka dirujuk untuk rontgen paru-paru dan tes swab ke RS Brimob.

Dari hasil rontgen mengatakan ada bercak putih di paru-parunya. Dan itu lumayan mengkhawatirkan. Namun pada saat itu kamar isolasi di RS Brimob sudah epnuh. Sehingga ia dioper ke RS Universitas Indonesia. Hasil rontgen di RS UI juga mengatakan hal yang sama, ada gejala khas Covid-19 di tubuh adikku.

Ia lalu diminta untuk swab, kalau swab gratis baru keluar hasilnya dalam waktu lumayan lama. Akhirnya ia pun swab secara mandiri. Hasilnya? Ia positif Covid-19.

Karena adikku termasuk orang dengan gejala ringan, Pihak Dinas Kesehatan Kota Depok tak merujuknya ke rumah sakit atau tempat isolasi. Ia mengalami gejala khas Covid-19 yang sering diberitakan. Kehilangan indera penciuman, demam tinggi, batuk kering. Tapi overall dia memiliki gejala yang sangat sedikit. Alhamdulillah

Stigma Negatif

Ketika pihak Dinas Kesehatan Kota Depok memintanya untuk isolasi mandiri di kontrakannya, ada masalah yang terjadi. Hampir semua tetangga di kontrakannya mengusirnya. Istri dan anaknya didiagnosa negatif, namun sudah terlanjur terkena stigma dari lingkungannya. Istri adik saya mendapatkan terror berkali-kali agar segera memindahkan adik saya dari kontrakannya. Beban moril dirasakan oleh adik saya dan keluarganya.

Kami juga bingung, kalau Milzam harus isolasi mandiri di rumah Ayah Bunda, saya khawatir dengan kondisi Bunda yang komorbid (punya penyakit bawaan) dan Ayah yang mantan perokok aktif. Karena pada saat itu kami pun sedang menunggu hasil swab.

Belum lagi keponakan saya yang katanya harus diberhentikan dari Daycare tempatnya biasa dititipkan saat ibunya bekerja. Tak hanya itu, orang tua istri adik saya pun juga memiliki penyakit bawaan yang riskan dengan virus ini.

Hingga ditentukan bahwa Milzam tetap harus berada di kontrakannya selama 2 minggu. Untungnya masih ada orang baik menyertai mereka. Pemilik kontrakan tidak mempermasalahkan adik saya untuk isolasi mandiri disana. Tante dan Om saya selalu rutin mengirimkan makanan ke kontrakannya. Dia mendapatkan banyak suplai vitamin dan suplemen untuk mendukung kesembuhannya.

Tanggal 25 September 2020 kemarin ia kembali swab dan mendapatkan hasil negatif. Alhamdulillah.

Tes Swab Sekeluarga Karena Kontak Erat

Kami pun yang pernah kontak erat dengannya harus ikut tes swab sekeluarga. Termasuk Ayyash yang usianya masih 11 bulan harus ikut dalam proses swab juga. Kami di data sebagai klaster keluarga yang saat ini banyak terjadi di Indonesia.

Proses pendaftaran swab di Puskesmas Tajurhalang lumayan mudah.

  1. Meminta surat keterangan hasil swab pasien yang kontak erat dengan kita.
  2. Pergi ke Puskesmas terdekat untuk menjelaskan kondisi saat ini. Ingat untuk selalu pakai masker dan jaga jarak saat datang ke Puskesmas. Kebanyakan puskesmas tutup jam 9 pagi sejak pandemi.
  3. Mendaftarkan diri dan menceritakan kronologis kontak dengan pasien positif
  4. Menyerahkan identitas diri keluarga yang kontak erat dengan pasien positif. Dalam hal ini menyerahkan Kartu Keluarga dan KTP anggota keluarga.
  5. Menunggu waktu tes swab yang akan ditentukan oleh pihak puskesmas. Karena banyak sekali klaster keluarga yang terjadi akhir-akhir ini.

Setelah itu datang ke puskesmas di waktu yang telah ditentukan. Isi formulir yang disediakan oleh petugas.

Bagaimana Rasanya Tes Swab?

Kami berombongan pergi ke Puskesmas Tajurhalang pada Senin dua minggu lalu (14/09). Ayyash yang pertama kali di swab. Ketika di swab dia lagi tidur. Jadi agak kaget ketika dia tiba-tiba bangun dan menangis. Untungnya nangis cuman sebentar.

Kemudian giliran saya dan Arif setelahnya. Rasanya sakit, kayak ada yang mencolok ke hidung. Lalu petugas mengambil sampel di bagian tenggorokan lagi. Pada kasus Arif, dia agak kesakitan. Sampai dia pusing selama 4 hari berturut-turut. Entah kenapa.

Hasil swab di dapatkan pada 7 Hari setelahnya. Alhamdulillah hasil menunjukkan bahwa kami negatif Covid-19. Kabar itu datang ketika Bunda berulang tahun pada tanggal 24 September 2020. Namun yang membingungkan adalah hasil tes swab milik Arif, tulisannya Invalid. Padahal yang lain negatif. Ia pun harus mengulang tes swab lagi. Semoga beneran negatif. Aamin ya rabbal alamin.

Bantuan Mengalir

Ketika mendengar kabar bahwa Milzam positif, kami segera membeli bahan makanan selama dua minggu. Ayah dan Maulana bertugas untuk membeli sayur mayur dari Pasar Kemang. Saya bagian membeli suplemen dan vitamin C untuk menjaga stamina. Selain itu, saya juga membeli jahe merah, kunyit, empon-empon, kayu putih Pulau Buru, VCO, madu, lemon dan vitamin D. Masya Allah. Pas banget lagi diskon gratis ongkir dari Shopee 9.9 Hahah.

Namun yang tidak akan kami lupakan adalah bagaimana banjirnya makanan yang datang ke rumah kami selama kami isolasi mandiri menunggu hasil swab. Makanan dan lauk pauk bergantian datang setiap pagi dan sore.

Kadang lontong sayur, telur balado, kue bolu, bolen pisang dan lain sebagainya. Bentuk kepedulian warga dengan kami sangat menyejukkan. Walaupun ada juga yang masih memberikan stigma buruk pada keluarga kami, tapi overall semua orang masih baik terhadap kami.

Bahkan ada beberapa teman SMA yang berbaik hati dititipkan untuk membeli barang2 kebutuhan kami selama masa isolasi. Alhamdulillah.

Namun Ada yang Tak Berakhir Bahagia

Di dalam postingan ini masih berakhir bahagia, namun ada beberapa kisah teman saya yang pada akhirnya harus kehilangan keluarganya. Ketika saya menceritakan kronologis ini di Instagram, ada tiga orang teman yang bercerita bahwa mereka kehilangan kerabatnya karena Covid-19. Bahkan salah seorang kawan kehilangan istrinya karena virus ini. Meninggalkan suaminya dan anaknya yang berusia 16 bulan.

Tapi masih saja ada orang yang tak percaya dengan virus ini. Entah kapan pandemi ini berlalu, semoga kita semua diberikan kesehatan dalam menghadapinya. Aamin ya rabbal alamin. Stay safe. Stay sane.

ditulis di Tajurhalang

23:57 WIB Minggu, 27 September 2020

tepat tiga minggu setelah Milzam nginap di rumah

sambil dengar lagu di Spotify, entah lagu siapa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!