Ketika melahirkan dengan operasi caesar

Proses persalinan yang harusnya dilewati dengan bahagia, malah menjadi petaka buat saya. Ayyash lahir melalui operasi Caesar, sebuah tindakan medis yang saya benci habis-habisan. Kenapa? Karena saya merasa bahwa saya mampu untuk lahir dengan keadaan normal (pervaginam). Selain itu saya trauma mendengar kata caesar karena Bunda saya pernah hampir kehilangan nyawanya saat melahirkan adik bungsu saya melalui operasi tersebut. Saya banyak membaca bagaimana cara agar saya bisa lahiran secara normal. Saya ikut kelas yoga. Saya rajin olahraga. Bidan di Belanda juga mengatakan bahwa persalinan saya akan lancar karena ibu dan janin sehat. Namun ternyata pada kenyataannya, saya harus menjalani operasi caesar.

Bagaimana ceritanya?

Pada hari Kamis, 3 Oktober 2019, saya sudah merasakan mulas yang lumayan menendang-nendang ulu hati. Pada saat itu saya benar-benar mulas, kami pun pergi ke Puskesmas (gak perlu disebutkan lah namanya). Bunda ikut dalam proses pemeriksaan. Arif juga ikut pada saat pemeriksaan. Vagina saya dicolok dengan kertas untuk melihat sudah sejauh mana pembukaan yang saya alami. Hasilnya sang bidan menyatakan bahwa belum ada pembukaan sama sekali.

Si bidannya gak ngomong langsung sama saya, ngobrolnya sama Bunda. Mereka berdua bicara di luar ruangan. Hanya ada saya dan Arif di dalam ruangan. Kemudian si bidan masuk kembali ke dalam ruangan, tapi, bidannya tidak memberikan kesan positif. Saya malah dibuatnya seperti ada yang salah. Bidan tersebut mengatakan sama Bunda saya bahwa saya tidak tahan sakit “Sepertinya anak ibu ini gak tahan rasa sakit,”. Beuh,, siapa yang tahan kalau vagina dicolok. Jarinya bidan tersebut kayak lancip banget.

It hurts me. Bukannya dibesarkan hatinya, malah dibilang gitu. Itu udah jadi penilaian buruk buatku. Semua yang saya baca dan bayangkan tentang informasi petugas kesehatan baik yang membantu persalinan, tiba-tiba buyar seketika. Saya benci sekali. Dan pesan terakhir si bidan ke Bunda adalah “Jangan kesini kalau ketuban belum pecah”, kata bidan kepada Bunda. Eh gimana??? Saya jadi ikutan bingung, tapi Bunda sepertinya pegang kata-kata si Bidan.

Malamnya kami berdua gak bisa tidur. Terjadi kontraksi berulang sepanjang malam yang menyebabkan saya kesulitan untuk tidur. Arif pun demikian karena khawatir sama saya. Esok paginya, ketika rutinitas pipis di pagi hari, saya melihat bercak kemerahan. Saya pun lapor ke Arif, dia akhirnya bersiap membawa saya ke Puskesmas lagi. Bunda sebenarnya keukeuh kalau gak usah ke Puskesmas kalau belum pecah ketuban. Ada yang aneh rasanya. Saya pun makin kesal pada saat itu. Kesal pada omongan bidan yang dipegang teguh sama Bunda.

Keesokan harinya…

Arif juga bodoh banget rasanya. Dia seperti gak paham apapun. Selama ini saya mohon-mohon sama dia untuk baca bagaimana persiapan jadi ayah. Bagaimana cara menemani istri dalam masa persalinan. Tapi sialnya dia gak mau tau sama sekali. Saya masih ingat sekali kalau dia bilang “Semuanya bakalan baik-baik saja,”. Saya masih marah kalau ingat saat-saat itu. Dia menggampangkan sekali situasi persalinan. Hiks.

Ketika tiba di Puskesmas, saya langsung diperiksa. Katanya sudah bukaan 3. Saya pun berolahraga pada saat itu. Saya lakukan squat seperti yang disarankan. Saya berjalan kaki. Hingga akhirnya kontraksi semakin banyak. Pukul 12, bukaan naik perlahan. Masuk ke bukaan 4. Saat itu cuaca sedang panas sekali. Ayah saya berinisiatif untuk menyalakan kipas angin. Saya merasakan nyaman pada saat itu, tapi malah disuruh dimatiin kipasnya sama bidannya. Gila! “Pak, itu anaknya malah jadi relaks bukan kontraksi. Dimatiin aja kipas anginnya”. Gak ada akhlak! Akhirnya saya kesakitan lagi. Bukaan naik ke 5, tapi ketuban saya pecah. Petugas menampung ketuban saya di sebuah wadah alumunium.

Kesalahan Petugas Puskesmas

Lalu sejam kemudian ada seorang bidan senior yang menyarankan untuk mengambil sampel urin saya. Perawat mengambil sampel urin saya, di tempat yang sama untuk menampung ketuban. Akhirnya hasil dari sampel urin keluar dan menurut pengamatan mereka ada protein di dalam urin. Mereka mengatakan bahwa janin berada dalam keadaan bahaya, “bisa keracunan bayinya,” ujar petugas.  Arif yang gak paham apapun, berdiskusi dengan Ayah dan Bunda.

Saat sedang panas-panasnya dan sakit-sakitnya, petugas mengambil tensi saya. Hasilnya seperti yang bisa diprediksi, tekanan darah tinggi. Selain itu mereka mendiagnosa bahwa kaki saya bengkak menunjukkan bahwa ada yang salah dari kehamilan saya. Padahal kaki saya bengkak karena perjalanan dari Belanda ke Indonesia selama 16 jam perjalanan. Ckckc.

Dari tiga diagnosa pihak Puskesmas, bahwa saya mengalami pembengkakan kaki, ada protein di urin dan hasil tensi mereka merujuk saya ke rumah sakit. Saya dibawa ke RS Swasta di Kab. Bogor dengan ambulance. Setibanya di rumah sakit yang ber AC, saya merasa lebih tenang. Tidak ada perasaan mules yang begitu menyiksa. Petugas Kesehatan di RS menilai dengan alat bahwa gerakan bayi normal dan tak ada masalah yang berarti.

Operasi Caesar

Tapi karena rekomendasi kuat dari Puskesmas, Arif, Ayah dan Bunda berembuk. Puskesmas menyarankan agar saya dioperasi. Saya pun diukur tensinya dan dari catatan petugas bahwa itu normal. Saya diminta mengambil sampel urine dan baru keluar hasilnya setelah di ruang operasi. Arif menguatkan hati saya dan ia berkata “Hun, kamu akhirnya dioperasi ya,” ujarnya sambil mengusap tangan saya.

Setelah mengambil sampel urin, saya pun dibawa ke ruang persiapan operasi. Saya sendirian. Saya diminta untuk membuka baju. Pada saat itu saya mendengar bisik-bisik perawat yang mengatakan bahwa operasi saya sudah siap dilakukan tapi hasil sampel urin belum keluar. Dan ada satu ibu yang mendaftarkan diri untuk operasi caesar setelah saya.

Masuk ke Meja Operasi

Tapi saya sudah keburu masuk ruang operasi. Ada empat orang di dalam ruangan tersebut. Dokternya menyapa saya ramah. Kemudian, suntikan penghilang rasa sakit pun mulai dinjeksi. Di titik itu saya sudah merasa bahwa mungkin ini yang terbaik. Dan tiba-tiba ketika dokter membacakan hasil pemeriksaan, saya langsung lemas seketika. Tensi darah normal. Hasil sampel di urin saya juga normal. Tidak ada protein seperti yang didiagnosa oleh pihak puskesmas. Dokter memegang kaki saya yang bengkak. “Ini sepertinya karena perjalanan ya, kakinya bengkak”

Dokter yang memeriksa saya pun mengatakan kepada perawat

“Kenapa ibu ini harus masuk ruang operasi? Semua hasilnya normal?”

lalu dibalas sahutan dari perawat

“Petugas Puskesmas yang bawa kesini, katanya kondisi pasien gawat darurat,”

……..

Hidupku langsung hancur saat itu. Suntikan penghilang rasa sakit sudah terlanjur disuntikkan. Tidak bisa diulang kembali. Karena itu dokter yang memimpin operasi mengelus pundak saya dan bilang “Sabar ya bu, istirahat saja,”.. Saya mencium bau khas ruang operasi, tapi samar kucium bau amis darah. Saya mendengar suara denting besi dilatarbelakangi cerita para dokter yang sedang berencana liburan. Ada suara tawa disana. Tapi saya menangis. Air mata terus keluar tanpa bisa saya bendung… (ketika menulis inipun, saya masih menangis)

Saya menangis saat itu. Gambaran persalinan di kepalaku yang didampingi bersama Arif hilang sudah. Gambaran Ayyash diadzankan oleh Arif dan disaksikan saya juga pupus. Harapan saya tentang persalinan seperti di kelas bersalin langsung memudar. Tiba-tiba saya jadi memiliki rasa benci dengan anak yang akan saya keluarkan.

Oek-oek-oek.

Ayyash keluar saat saya membuka mata. Dokter membangunkan saya. “Selamat ya bu, bayinya sehat. Laki-laki” ujarnya sembari menyerahkan bayi kepada suster. Itu adalah momen dimana benci dan cinta menjadi satu. I can’t describe it with words. Setelah saya mencium keningnya, saya diminta istirahat lagi.

Pasca Operasi

Tidak berapa lama, saya pun dibawa ke ruang pasca operasi. Disana saya terbaring sendirian. Hanya dengan selimut tipis. Saya menggigil kedinginan. Gigi saling bergemertuk. Badan tak bisa saya kontrol dengan baik. Dengan terbata-bata saya meminta selimut tambahan. Tapi dokter malah menjawab “Itu efek anastesi aja, nanti juga hilang sendiri,” begitu katanya. Jadilah saya menikmati dingin itu sambil menangis. Sendirian.

Baru setelah 20 menit berlalu, saya meminta agar suami saya dipanggil. Lalu Arif masuk ke dalam ruangan. Rasanya pengen kucabik-cabik dia. Apalagi dia datang dengan wajah tersenyum bahagia dan dia gak sadar kalau saya sedang berada di titik terendah saat itu. “anak kita sehat, sekarang lagi dibawa ke dalam ruang perawatan,” ujarnya dengan senyum.

Saya diam saat itu. Masih tak mampu banyak berkata-kata. Lalu saya bilang kepadanya kalau saya kedinginan. Akhirnya dokter pun memindahkan saya ke ruang perawatan. Setibanya di ruang perawatan, saya ditempatkan di dalam kamar dengan dua tempat tidur.

Masih ingat dengan ibu yang dijadwalkan operasi setelah saya? Ternyata ibu itu gak jadi operasi Caesar, tapi lahiran normal. Padahal dia mendaftarkan diri untuk operasi Caesar.. Tambah nyessss hati saya. Nangis lagi..

Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Bunda dan Ayah pamit untuk pulang ke rumah. Tinggal saya, Arif dan Baso yang bersiap untuk menyambut Ayyash. Namun ternyata itupun juga tak mudah. Karena saya telah membaca soal Inisiasi Menyusui Dini (IMD), saya meminta agar Ayyash tidur bersama kami malam itu. Bukannya didukung dan diajarkan untuk IMD, kami malah diminta untuk menandatangani surat persetujuan. Secara garis besar di dalam surat itu, pihak RS akan melepas tanggung jawab jika terjadi hal yang tidak diinginkan saat Ayyash berada di dalam pengawasan kami.

Menurut suster, hal ini dikarenakan saya sehabis menjalani operasi Caesar yang dimana ada kemungkinan besar ASI saya hanya muncul sedikit. “Kami takut bayinya kuning kalau kehausan, nanti di ruang perawatan akan ada susu formula yang dikasih ke bayi,” jelas suster. Tapi saya bergeming dan meminta Arif untuk menandatangani surat tersebut. Selama menunggu Ayyash datang, saya dan Arif membuat sebuah video yang diambil oleh Baso. Di dalam video saya bilang kalau memang saya merasa bersalah sama Ayyash karena membencinya.. Sedih banget rasanya punya rasa benci sama anak sendiri. Astagfirullah..

Setelah itu Ayyash didatangkan bersama box plastiknya. Ia terlihat lucu dan menggemaskan. Ia terlahir dengan berat badan 3.3 kg dan panjang 47 cm. Dan saya kembali menangis.. Malam itu penuh dengan airmata rasanya. Air mata karena bekas luka yang sakit. Air mata karena sedih membayangkan nasib saya ke depannya. Air mata karena kesal sama anak sendiri. Astagfirullah.

Ayyash pun saya paksa untuk menyusu di payudara. Karena bekas luka Caesar yang sakit, saya hanya bergerak sedikit. Arif yang berperan banyak untuk membantu Ayyash mencari perlekatan yang sempurna. Dia yang memegang Ayyash agar bisa menyusu dengan baik. Sedangkan saya hanya menangis dan ikut berusaha agar ASI keluar. Kita belajar sambil memutar video pemijatan laktasi. Sambil banyak berdoa agar anak ini tidak kehausan seperti yang dikatakan oleh suster tadi.

Untungnya Ayyash kooperatif saat diletakkan oleh Arif. Ia mencari-cari puting hingga mendapatkan pelekatan yang baik. Setelah menyusu, ia tertidur. Tapi hanya sebentar. Mungkin karena ASI saya masih sedikit. Sepanjang malam kami terjaga dalam gelap. Karena pasien di sebelah saya gak bawa bayinya masuk ke kamar, jadi mereka butuh istirahat.

Hari bersama Ayyash

Kami berusaha menjaga Ayyash hingga pukul 7 pagi. Pada saat itu adalah waktu ganti jaga, ada suster yang melihat keadaan Ayyash. Alhamdulillah Ayyash baik-baik saja, tapi kami berdua sepertinya agak babak belur karena gak tidur dua malam. Karena kami butuh tidur, kami pun menyerahkan Ayyash kepada suster agar dibawa ke ruang perawatan. Suster meminta Arif untuk membeli susu formula. Saat itu pilihan kami jatuh ke sufor SGM yang berwarna merah. Setelah membeli sufor, kami berdua pun tertidur pulas. Sampai-sampai Ragel, salah satu kawan baik saya datang dan kami tidak menyadarinya. Maaf ya, gel..

Pukul 10.00 Ayyash datang lagi. Saat itu saya berusaha untuk menyusuinya. Tapi lagi-lagi saya menangis. Rasa kesal itu masih belum hilang. Ayyash juga menangis, karena dia gak mau sufor yang disediakan oleh suster. Untungnya Bunda sudah datang membawakan pompa ASI manual. Siang itu saya memompa ASI, keluarnya sedikit dan berwarna kekuningan. “Alhamdulillah, itu kolostrum, bagus untuk bayi,” ujar Bunda. Hasil perahan yang tidak seberapa pun dimasukkan ke dalam botol. Ayyash menghisapnya dengan baik.

Ayyash pun terlelap kembali. Di saat seperti ini sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Saya masih belum dilepas infusnya. Entah kenapa, tapi saya masih pakai infus hingga malam hari. Hingga suster yang menyadari kalau saya belum lepas infus.. ckckc.

Di hari ketiga, saat pagi hari, suster kaget karena saya belum lepas kateter. Lah ini kenapa susternya bingung terus dah rasanya. Akhirnya setelah dilepas kateter, saya pun mulai belajar berjalan di sekitar ruangan rawat. Saya berusaha mandiri sendiri, tapi lukanya terasa perih. Kemudian dokter jaga melihat keadaanku dan menyatakan bahwa saya sudah siap untuk pulang. Dokter berpesan agar luka caesar jangan sampai kena air. Tidak bisa sembarangan untuk bergerak secara serampangan. Harus minum obat agar luka cepat tertutup dengan sempurna.

Saat itu, semua keluarga inti sedang menghadiri acara pernikahan sepupu. Sehingga hanya kami bertiga yang bersiap pulang. Haha. Sedih amat ya.. Untungnya ada Nikanor yang membantu kami untuk packing pulang. Setibanya di rumah, saya langsung membaringkan diri bersama Ayyash. Teman-teman Kelautan datang ke rumah. Mereka memberikan tips cara menyusui hingga membelikan bantal menyusui. Terima kasih yaa. It means a lot to me. 😊

Kesal dengan Ayyash

Namun ternyata drama kesel sama Ayyash belum selesai. Saya masih sering kesal sama Ayyash, hingga akhirnya Arif yang harus mengurus Ayyash. Setiap kali saya mengingat runtutan kejadian dari puskesmas hingga ke rumah sakit, saya pasti menangis. Saya benci sekali. Hal inilah yang membuat saya sadar bahwa saya kena syndrom baby blues selama 2 minggu. Untungnya Arif ‘membayar kesalahannya’ dengan mengurus Ayyash secara penuh di 2 minggu pertamanya. Saya benci sekali melihat Ayyash. Saya kesal. Saya gak suka sama dia. Karena telah merusak hidup saya.

Saya sempat mogok untuk menyusui Ayyash secara langsung. Saya memerah ASI dan memberikannya melalui botol. Saya gak mau memandikan dia. Saya gak mau ajak dia berbicara. Arif yang lebih banyak berbicara tiap hari. Ayyash lebih sering berada didalam pelukan Arif dibandingkan saya.

Bekas jahitannya sakit sekali. Saya langsung membayangkan hidup saya berubah setelah operasi Caesar. Saya gak bisa angkat sesuatu yang berat. Sebuah hal yang paling saya sukai dalam hidup saya. Saya membayangkan penyembuhan yang agak lama agar saya bisa kembali menjadi Adlien yang sama. Luka di perut dan traumanya yang membuat saya masih sulit memaafkan kejadian tersebut hingga saat ini.

Saya benci melihat tatapan orang yang melihat saya sebagai ibu-ibu gemuk di bagian perut. Saya kesal dengan diri saya sendiri. Sampai detik ini kadang saya belum bisa memaafkan diri saya. Kenapa pada saat itu saya tidak melawan? Kenapa pada saat itu saya malah diam dan berharap agar Arif menghentikan operasi. Kenapa pada saat itu dia tidak menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari rumah sakit. Kenapa? Kenapa?

Saya benci karena momen persalinan yang saya idamkan harus berganti menjadi sebuah ketakutan. Itu adalah momen yang paling saya benci. Ketika melihat Ayyash keluar dan menangis, saya bukannya berbahagia tapi  malah mencampurnya dengan benci. Allah SWT tahu dan itu adalah momen yang menakutkan buat saya. Semoga Allah SWT mengampuni saya.

Healing

Hingga saat ini jujur saya masih sering menangis mengingat masa-masa di puskesmas dan di rumah sakit. Untuk berdamai dengan diri sendiri rasanya sulit. Saya banyak membaca buku-buku parenting hingga psikologi untuk berusaha menyembuhkan trauma dengan meminjam kata-kata orang.

Kalau memang pada saat itu saya dioperasi karena masalah medis, mungkin saya tidak akan seterpukul saat ini. Tapi hal ini karena murni kesalahan petugas kesehatan di puskesmas tersebut. Hasil pemeriksaan yang dilakukan secara tidak professional dan membuat hasil rekomendasi yang tidak benar sehingga membuat seseorang merasa diperlakukan tidak adil.

Hingga di detik inipun, saya masih sering kesal sama Arif. Walaupun dia sudah meminta maaf berkali-kali, tapi rasanya tetap tidak cukup. Saya masih sering menangis dalam diam. Saya merasa insecure hingga saat ini. Karena memang rasa sakitnya masih muncul tiap hari. Tiap rasa sakit itu muncul, saya kesal kembali. Hahah.

Tapi rasa kesal itu bukan lagi diarahkan kepada Ayyash, tapi ama Arif. Haha. Andaikan dulu…eh tapi gak boleh berandai-andai. Saya akhirnya menuliskan ini agar luka hati ini cepat sembuhnya. Capek juga menyimpannya sendirian. Haha.

Penutup

Ayyash, kalau suatu saat kamu membaca tulisan ini, mohon dipahami ya nak. Amma minta maaf pernah kesal sama kamu. Amma minta maaf karena pernah kesal juga sama Abba. Insya Allah Amma sudah ikhlas harus melakukan operasi caesar demi kamu lahir di dunia ini.

Terima kasih untuk segalanya ya, Nak. You are my sunshine, my only sunshine.

 

Ditulis di Tajurhalang

23:41, 7 Juli 2020

sambil dengar Love Story – Taylor Swift

You may also like

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.