2014,  indonesia,  Journey,  Opinion

Mengintip Proses Pembuatan Kain Tenun di Desa Sikka

Kain Flores yang sangat cantik. Love it! ๐Ÿ˜€
Mengintip proses pembuatan kain tenun di Desa Sikka.ย Sekali melihat keindahan kain tenun khas Flores, pasti langsung jatuh cinta. Itulah yang saya rasakan ketika melihat kain tersebut digunakan oleh seorang mama ketika akan berangkat ke gereja. Pada zaman dulu, kain tenun ini menjadi salah satu hal penting sebagai barang seserahan. Acara seperti pernikahan, beribadah dan juga acara kematian. Hingga saat ini kita masih sering melihat mama-mama (panggilan untuk Ibu) ketika mereka pergi ke Gereja di minggu pagi. Baju serba hitam dan sarung tenun khas Flores membuat mereka terlihat cantik.

Corak Kain Tenun Sikka

Coraknya yang beragam dengan dominasi warna-warna gelap, membuat saya jatuh cinta. Oia, coraknya ini berbeda-beda di setiap daerah. Ada corak Ende, Maumere, Ngada, Manggarai, Alor dan berbagai tempat lainnya di Flores. Karena itu, corak-corak ini sangat beragam dan menarik. Bagi orang awam seperti saya tidak bisa mengenali asal kain tenun, namun bagi orang-orang dengan mata terlatih, mereka bisa tau asal kain tenun tersebut.
alat pemintal kapas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kain yang bercorak besar dengan proses pembuatan yang lebih lama maka harganya akan mahal. Berbeda dengan kain yang punya corak kecil dan coraknya yang berulang tidak terlalu mahal. Kain tenun ini dibanderol dari harga 250 ribu โ€“ 1 juta. Ada juga jenis produk lain seperti syal, taplak meja, tas, seragam, dan lain-lain.

Berkunjung ke Maumereย  melihat tenun Sikka

Kalau berkunjung ke Maumere, kain tenun ini bisa ditemukan di pasar Alok ataupun Pasar Tingkat. Harganya bervariasi, sesuai dengan lama pembuatannya, corak, dan lebar kainnya. Saya suka dengan syal dari kain tenun, karena warnanya yang keren dan bisa jadi ikat kepala. Saya membelinya dengan harga 60ribu. Terdengar mahal ya? Tapi itu sesuai dengan proses pembuatannya yang sangat lama dan menggunakan tenaga manusia.ย  ๐Ÿ˜€
Nah, saya berkesempatan untuk melihat proses pembuatan kain tenun khas Maumere di Desa Sikka. Di daerah tersebut dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan kain tenun khas Maumere. Jadi, kalau datang ke Maumere, harus datang ke tempat ini dan melihat secara langsung proses pembuatan kainnya.
Proses pembuatan kain tenun ini dilakukan secara manual, dari proses ikat untuk pembentukan motif, proses pencelupan warna yang dilakukan berulang-ulang karna satu warna saja butuh waktu selama 2-3 hari untuk pengeringan. Kemudian benang-benang yang sudah diikat ini akan ditenun untuk menjadi sebuah kain sarung.ย Itu baru proses awalnya, untuk membuat menjadi bentuk sebuah kain dibutuhkan waktu hingga 3 bulan. Jadi bayangkan bisa dibayangkan harga yang sepadan untuk sebuah kain tenun asli.

Membeli Tenun di Pasar Alok

Selama ini saya membeli kain di Pasar Alok, saya membeli sebuah kain besar untuk baju ketika seserahan pernikahan saya nanti (yang entah kapan. Hahahaha). Selain itu saya juga membeli syal dengan warna merah hitam, warna favorit saya. Dan yang membuat saya terharu adalah ketika saya akan berangkat ke Ambon, ย mama di Pasar Alok memberikan saya sebuah syal dengan warna coklat secara gratis. โ€œMama minta doa dari kamu aja,โ€ ujarnya sambil memberikan kain itu ke saya. #speechless
Jika kita membeli kain ini, bisa dikatakan kita menghargai sebuah proses pembuatan sebuah produk dari negeri sendiri. Dari setiap bulir keringat mama-mama yang tersebar di penjuru Flores. Ayo, cintai produk Indonesia! ๐Ÿ˜€
Saya jatuh cinta dengan kain tenun ini.
Ditulis di kantor Harta Samudera

Rabu, 18 Juni 2014, 3:06 PM

 

syal cantik harga 60 ribu. ๐Ÿ˜€

writer

5 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!