Yuk Mendongeng Bersama Let’s Read Indonesia

Menciptakan suasana yang menyenangkan ketika mendongeng adalah hak setiap anak. Let’s Read Indonesia ikut berkontribusi dalam menciptakan suasana yang menyenangkan antara orang tua dan anak. Apa saja yang bisa dilakukan orang tua untuk membuat kegiatan mendongeng menyenangkan?

Beragam Manfaat Mendongeng

Mendongeng memiliki ragam manfaat bagi anak, mulai dari menstimulasi otak anak, menambah kosakata, merangsang imajinasi, mengajar arti kata, mendorong rasa percaya diri, dan juga menambah bonding antara orang tua dan anak. Tak hanya itu, kita juga bisa mengenalkan bahasa Ibu kepada bayi. Begitu banyak manfaat yang bisa dicapai dengan mendongeng. Tak salah jika Joseph Addison mengatakan bahwa membaca adalah latihan bagi otak, termasuk otak anak.

“Reading is to the mind what exercise is to the body – Joseph Addison

Tapi bagaimana orang tua menciptakan suasana yang menyenangkan ketika belajar mendongeng? Karena semakin besar anak, semakin sering ia bergerak aktif kesana kemari. Belum lagi attention span atau waktu fokus anak usia 1-2 tahun hanya bisa fokus sekitar 5-7 menit. Jadi saya butuh waktu 5-7 menit untuk membacakannya dan membuatnya tertarik dengan bahan bacaan tiap harinya.

Karena itu, saya akan coba menceritakan bagaimana cara saya untuk membacakan cerita untuk Ayyash yang sedang berusia 15 bulan. Ada beberapa hal yang saya lakukan agar anak bisa fokus menyimak, apa saja?

Menggunakan Buku Cerita Bergambar

Cerita tak akan sempurna tanpa buku cerita. Buku yang penuh gambar dapat menarik minat anak-anak dalam mendengarkan cerita. Karena itu buku cerita anak dibuat dengan visual yang sangat menarik. Setiap buku cerita biasa menggunakan warna-warna cerah untuk menanamkan informasi kepada anak.

Penggambaran dari buku cerita bisa membuat imajinasi anak ikut dalam alur cerita. Salah satu hal yang dimiliki oleh aplikasi membaca Let’s Read. Aplikasi ini memiliki tim ilustrasi yang mendesain gambar di setiap buku. Jadi jangan heran jika semua ilustrasi yang dibuat dalam aplikasi ini sangat menarik minat baca anak sesuai dengan umur.

Mendongeng dengan Menggunakan Alat Peraga

Selain buku bergambar, ketika mendongeng, ada baiknya orang tua menggunakan alat peraga yang lain. Untuk Ayyash di usianya setahun, saya membiasakan menggunakan alat peraga berupa boneka jari atau boneka besar. Tapi karena boneka jari mudah dibawa kemana-mana, saya selalu menyiapkan 10 jenis hewan di dalam tas.

Boneka jari ini merupakan kado dari seorang teman. Sepuluh hewan-hewan yang jamak ditemui dalam cerita fabel. Saya juga selalu siap membawa print out Let’s Read Indonesia di dalam tas. Dua benda ini menjadi penyelamat saya ketika Ayyash mulai rewel di dalam perjalanan.

Karena saya berusaha mengurangi penggunaan gawai pada Ayyash, Let’s Read memperbolehkan kita untuk mendownload dan mencetaknya di kertas. Saya biasa mencari fabel di dalam Let’s Read apps. Sangat membantu sekali 🙂

Mengganti suara sesuai dengan tokoh cerita

Menirukan suara hewan atau mengganti suara sesuai dengan tokoh cerita juga bisa membuat anak tertarik dengan cerita yang Anda bacakan. Misalnya ketika sedang memerankan seekor tikus, suara orang tua bisa dibuat cempreng. Kalau sedang memerankan harimau, suara orang tua dibuat lebih berat.

Jika memerankan seekor burung, gunakan tambahan kata cuit-cuit setelah kata usai. Ini bisa membuat imajinasi anak membayangkan seekor burung yang bertengger di luar rumah. Sama seperti memerankan tokoh tokek, kita bisa menirukan suara tokek dibelakang kata-kata si tokek.

Saat ini Ayyash paling suka menirukan suara mooo jika melihat sapi di kotak susu. Ataupun ia mulai mengeong saat melihat kucing. Hal ini dikarenakan saya sering melakukan repetisi suara hewan-hewan tersebut saat dibacakan buku. 🙂

Membacakan cerita saat anak dalam keadaan senang

Karena waktu fokus anak sangat rendah, orang tua harus menyediakan kondisi yang kondusif untuk membaca. Misalnya jangan paksa anak ketika ia tidak mau membaca. Ajak anak baca buku ketika ia sedang dalam keadaan kenyang, bahagia, atau sedang bermain.

Pernah dengar istilah mengenai “Happy Tummy Happy Baby”? Istilah ini mengacu pada kebiasaan anak yang senang ketika perutnya merasa nyaman. Ketika kita bisa menyenangkan perut bayi, ia pun bisa jadi baby yang happy 🙂

Membuat Area Membaca Menjadi Menyenangkan

Selain itu kita juga bisa mengkondisikan rak buku yang mudah dijangkau oleh anak. Ayyash biasanya saya minta untuk memilih buku yang ada di dalam rak. Setiap buku yang ia ambil, saya akan berusaha untuk membacakannya. Karena saya tau artinya ia sedang membutuhkan suara ibunya untuk didengarkan.

Memilih lokasi yang strategi merupakan hal yang penting dalam mengenalkan buku pada anak. Saya membuat perpustakaan mini di dalam kamar, lalu ada juga rak buku besar dan mainan di luar kamar. Hal ini membuat Ayyash akrab dengan buku-buku.

Berinteraksi mata tiga arah (orang tua, anak, buku)

Interaksi dengan orang tua merupakan hal yang penting dilakukan. Ajak anak ikut masuk dalam kisah di dalam buku. Selalu temani anak sesuai dengan usianya. Jika ia masih berusia dibawah dua tahun akan ada kecendrungan untuk membolak balik halaman. Memukul-mukul buku bahkan berusaha menggigit buku.

Ikuti saja bagaimana anak memperlakukan buku. Jangan dimarahi, tapi ajak berdiskusi dan bercerita tentang isi buku tanpa perlu terganggu oleh tingkah polah anak Anda. Kita yang perlu mengontrol emosi dalam membacakan cerita. Ketika orang tua lelah, kita bisa meminta orang lain untuk membacakan buku cerita buat anak.

Memilih buku yang sesuai dengan usianya

Memilih buku yang sesuai dengan usianya merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua. Saat ini penerbit mulai mencantumkan rentang usia anak di dalam setiap terbitan buku. 0+, 1+, 3+, 7+, 10+ dan seterusnya. Hal ini menunjukkan bahwa penerbit dengan sadar merekomendasi buku-buku sesuai dengan umur anak. Sama seperti yang ada di dalam aplikasi Let’s Read Indonesia, ada kisaran jenis umur yang direkomendasikan untuk cerita tersebut.

Pengenalan buku kepada bayi sebenarnya bisa dilakukan secara bertahap. Misalnya buku dengan suara (soundbook) bagus diperkenalkan pada anak usia 1 tahun ke atas, soft book cocok untuk new born, board book untuk 6 bulan keatas, busy book untuk 3 tahun keatas, dan lain sebagainya.

Setiap buku membiasakan untuk memberikan informasi umur anak yang bisa menggunakan buku tersebut. Nah, saran saya,  anak dibawah dua tahun jangan dulu diperkenalkan dengan buku di dalam smartphone. Usia dua tahun kebawah butuh banyak stimulasi sentuhan. Jenis buku yang bermacam-macam bisa memperkaya indra peraba nantinya. Karena itulah Let’s Read Indonesia memperbolehkan kita untuk mendownload dan mencetak buku. Asik banget kan?

Let’s Read Indonesia

Dari tadi saya selalu menyebut aplikasi Let’s Read. Apa sih sebenarnya aplikasi Let’s Read ini?

Let’s Read merupakan aplikasi yang berisi buku-buku anak. Sesuai dengan judulnya, aplikasi ini mengajak kita untuk membaca. Isi buku dalam aplikasi Let’s Read dikhususkan untuk anak-anak. Aplikasi ini menjadi andalan saya untuk membacakan cerita untuk Ayyash.

Namun karena saya agak strict soal penggunaan gawai, saya membiasakan diri untuk mendownload buku di aplikasi ini. Lalu kemudian saya akan mencetak di kertas A4. Jadi Ayyash tidak terpapar banyak screen time. Terima kasih Let’s Read yang telah mengijinkan kami para ibu-ibu untuk mendownload dan mencetak ulang buku cerita bergambar.

Sebagai seorang orang tua, pasti ingin membuat anak mencintai proses membaca. Karena itulah, Let’s Read hadir dengan solusi tersebut. Jadi jangan sampai gak punya aplikasi Let’s Read ya di dalam smartphone ibu-ibu. 🙂

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Let’s Read Indonesia sila unduh aplikasinya melalui link ini

Membaca Merupakan Hak Anak

Kegiatan membaca merupakan hak anak untuk optimalisasi tumbuh kembangnya sedari kecil. Membaca juga memiliki fungsi dan manfaat bagi perkembangan otak sang buah hati. Jadi tak salah jika membaca merupakan hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua.

Karena saya sendiri telah merasakan sendiri bagaimana proses membaca nyaring Read Aloud pada Ayyash sangat bermanfaat. Saya mulai membacakan ia cerita sejak usia 0 bulan. Alhamdulillah. Di usia 15 bulan, ia sudah bisa mengucapkan lebih dari 20 kata. Ia juga sering ekolalia atau meniru kata-kata orang lain. Selain itu ia pun memahami benda-benda yang ia tunjuk. Ayyash sudah dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh seperti mulut, hidung, mata, kepala, tangan, perut, dan kaki. Masya Allah. Tak hanya itu, ia berhasil menunjuk hewan-hewan atau sayuran yang sering ia baca di dalam buku melalui kartu flash cards.

Ini adalah salah satu bentuk nyata bahwa membacakan untuk anak bisa berpengaruh pada masa keemasannya. Namun saya memang sangat ketat mengenai pemberian gadget. Ayyash belum saya perbolehkan mengenal gadget seperti HP ataupun TV sampai usia 5 tahun. Karena saya tau bahwa periode emas anak adalah usia 0 – 5 tahun, dimana otak anak berkembang dengan sangat pesat di usia tersebut. Memang berat, tapi ini adalah sebuah hal yang bisa saya lakukan kepadanya untuk masa depannya.

Mengutip kata Victor Hugo dalam buku Les Miserables

“To learn to read is to light a fire” — Victor Hugo, Les Miserables

Anak adalah milik masa depan dan membaca dongeng bersama anak merupakan salah satu bentuk stimulus terbaik yang bisa kita berikan kepada anak. Karena itulah, membantunya mencintai kegiatan membaca merupakan hak anak menuju masa depan. Selamat Hari Anak!

 

ditulis di Tajurhalang,

Jumat, 8 Januari 2021

#LetsReadAsia #AyoMembaca #LetsReadxBloggerPerempuan

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!