Rencana di Jogjakarta Setelah Corona Tiada

Β  ke jogjakarta setelah corona tiada menjadi opsi yang ingin saya lakukan pertama kali. berbulan-bulan di rumah saja, ingin sekali rasanya pergi kesana – isi hati

 

Masa pandemi COVID-19 ini berat bagi semua orang. Ribuan orang kehilangan pekerjaan. Ribuan orang kekurangan makan. Ribuan orang hidup dalam ketidakpastian. Semua orang wajib berubah, karena semua hal jadi berbeda. Tapi harapan itu masih ada. Kita semua berdoa agar corona cepat berlalu dan tiada. Sehingga kehidupan akan normal seperti sedia kala.

Aamin ya rabbal alamin…

Pergi ke Jogjakarta

Terbawa lagi langkahku ke sana

Mantra apa entah yang istimewa

Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja

Dengar lagu lama ini katanya

Izinkan aku pulang ke kotamu

Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja

Aditya Sofyan – Sesuatu di Jogja

Lagu milik Aditya Sofyan ini paling sering mengingatkanku tentang Jogja. Sama seperti yang tersirat, bahwa ada sesuatu di Jogja yang membuat saya ingin selalu kembali kesana. Setelah pandemi COVID-19 ini saya ingin sekali berkunjung ke Jogjakarta. Sebuah kota yang penuh dengan kenangan suka dan duka. Padahal saya sudah berkali-kali pergi kesana, tapi entah kenapa kota ini selalu menawarkan sesuatu yang berbeda.

Manusia yang selalu ramah, kota yang penuh dengan warna, makanan hangat yang membuat nyaman, dan juga kerabat yang tinggal disana dan menunggu dengan tangan terbuka.

Rencana di Jogjakarta setelah Corona Tiada

Perjalanan ke Jogjakarta pertama kali saya lakukan saat solo traveling. Bersama kereta api kelas ekonomi yang membawa saya tiba di stasiun Lempuyangan. Perjalanan pertama yang sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan.Β Pergi ke kota itu sendirian menikmati setiap sudut kota bersama teman yang saya temui disana. Membuat saya mengingat setiap keseruan yang saya temukan di Jogjakarta.

Ada beberapa rute yang ingin saya ulangi bersama keluarga.

  1. Silaturahim ke rumah kerabat di Jogjakarta
  2. Pergi ke Bukit Bintang
  3. Makan Sop Pak Min
  4. Pergi ke alun-alun
  5. Makan gudeg di jalan Wijilan
  6. Belanja di Malioboro dan berfoto di tiang legend
  7. Mengunjungi candi Borobudur dan Prambanan

Kenapa tempat-tempat tersebut? Karena masih mudah dijangkau dengan kendaraan umum ataupun sewa motor. Sekarang sejak punya Ayyash sudah harus mulai memikirkan kemana tempat yang dituju ataupun kemana tempat yang aman membawa bayi dibawah satu tahun. πŸ™‚

Rencana besarnya adalah saya akan pergi bertiga bersama Abba dan Ayyash. Kami akan menaiki kereta ekonomi menuju kesana. Karena saya ingin memperkenalkan Ayyash hal-hal yang mungkin tak dia suka. Atau mungkin akan menjadi hal yang favorit buatnya. Karena Amma dan Abbanya paling suka jalan-jalan dan kami berharap ia juga suka dengan hal yang sama.

Menginap di Jogjakarta

Setelah tiba di Jogjakarta harus memilih tempat tinggal. Pastinya banyak pilihan hotel di Jogja yang tersedia di internet. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah hotel ketika membawa bayi. Pertama, apakah hotel tersebut aman? Kedua, apakah hotel menyediakan kamar mandi yang bersih? Ketiga, apakah lokasinya tak jauh dari tempat yang akan kami tuju? Keempat, apakah hotel tersebut sesuai dengan budget travelling yang sudah kami siapkan?

Lumayan banyak ya syaratnya. Hehe. πŸ™‚ Setelah membaca banyak review di internet, sepertinya hotel nyaman dan juga hotel murah di Jogja banyak sekali pilihannya. Salah satu review yang menarik datang dari Hotel Red Doorz di Jogjakarta. Dengan review hampir 1000, hotel Red Doorz di Jogja menjadi salah satu hotel murah namun nyaman.

Harganya yang ramah di kantong untuk pilihan keluarga. Tempat yang nyaman dan aman bisa menjadi opsi saat liburan bersama anak. Jika masih bisa mendapatkan harga murah dan bersahabat dan cocok dengan kantong, yuk let’s go!

Pergi kemana?

Sama seperti yang pernah saya lakukan dahulu, saya ingin sekali pergi mengunjungi beberapa tempat yang mungkin saat ini sudah berubah jauh. Misalnya saja pergi ke pasar Malioboro yang terkenal dengan pusat belanja rakyatnya. Mungkin nanti saat saya kesana orang akan melakukan physical distancing sehingga tak ada kios yang berjarak dekat. Mungkin saja disana saya akan melihat perbedaan yang sangat besar saat kesana. Tak ada angkringan untuk minum kopi joss yang diseduh dengan batu arang.

Saya rindu dengan kesan Jogjakarta yang ramah, semoga corona tak mengubah semuanya. Saya juga rindu dibawa keliling oleh bapak pengayuh becak pergi ke tempat pembuatan oleh-oleh khas Jogjakarta. Walaupun sempat beradu harga, tapi saya paham bahwa mereka membawa para turis kesana untuk mendapatkan persenan sebagai penyambung hidup.

Makan apa disana?

Jogjakarta penuh dengan makanan yang enak dan menyenangkan. Tapi kuliner yang paling saya rindukan adalah makan sop ayam Pak Min. Harganya yang tak menguras kantong terlalu dalam juga rasanya yang enak. Saya suka sekali ketika sop ayam dihidangkan masih hangat. Apalagi ketika nasi yang dihidangkan ditaburi bawang goreng. Wangi sedap. Saya bisa nambah kuah sop sampai dua kali tanpa malu. Hahah.

Makanan kedua yang ingin saya makan adalah gudeg di jalan Wijilan yang terkenal. Disana ada banyak penjual gudeg yang enak-enak dan bikin ketagihan. πŸ™‚

Inti Utama Perjalanan ke Jogjakarta

Tapi sebenarnya inti utama perjalanan ke Jogjakarta adalah melakukan silaturahim bersama kerabat dan teman dekat. Karena corona, saya hanya bertatap muka secara daring. Tapi karena saya orangnya paling suka tatap muka, jadi kurang banget rasanya kalau gak ketemu langsung.

 

Semoga kami masih memiliki waktu untuk melakukan silaturahim πŸ™‚

Semoga COVID-19 cepat berlalu dan kami semua bisa saling bertemu . .

 

ditulis di Tajurhalang

23:55 WIB 31 Mei 2020

sambil dengar lagu-lagu Aditya Sofyan

You may also like

6 Comments

  1. Boleh tau apa yang bikin “berfoto di tiang legendaris” tetap masuk ke dalam wish list nya mba? πŸ™‚ Soalnya kan rame ya kudu ngantri biasanya kalau mau foto di spot yang satu itu hehehe.

  2. Kalo ke Jogja, aku kepengin mampir ke Museum Ullen Sentalu. Belum pernah ke sana soalnya. Ah, jadi rindu banget sama kota yang satu ini.

  3. Wah ak malah baru dengar ada museum dengan nama seperti itu. πŸ™‚ bagus juga nih masuk bucket list. πŸ™‚ Terima kasih atas informasinya kak πŸ™‚

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.