Selamat menggenap, Isti

Selamat menggenap, Isti…

Gadis mungil ini memperkenalkan dirinya sebagai Istiqamah Shariati Zamani. Dia langsung mengajakku berbicara setelah kami pertama kali bertemu. Katanya, ia mengingat saya pernah di satu tempat les yang sama, TEST English School Pare. Namun ingatan saya tidak terlalu bagus tentang gadis mungil ini.

Dia selalu bercerita dengan intonasi setengah berteriak “Kak Adlien, tohhh…”, begitu selalu dia mengucapkan namaku. Selalu dengan panggilan kakak, padahal umur kami tak beda jauh. Sama tahun kelahiran pula, tapi entah kenapa anak ini selalu berusaha memanggilku kakak. Saya pun pernah bertanya, tapi saya lupa jawabannya. Intinya dia mau terdengar lebih muda. Haha. Dasar..

Awal perkenalan dengan Isti

Kembali ke masa-masa awal perkenalan, Isti ini anaknya sangat ceria. Ribut sekali. Kayaknya kalau gak ada dia, gak akan ada foto bagus. #eh. Maksudnya kalau gak ada dia, acara jadi krik-krik sepi begitu. Dia selaksa api di dalam kompor. Panas! Eh maksudnya menghangatkan suasana.

Belum lagi anak ini sangat antusias sekali. 11-12 sama mahluk mungil bernama Richa. Dua orang ini selaksa wajik merah dan wajik putih. Harus beriringan jika ingin mengadakan upacara pergantian nama. Tak ayal kondominium Asserpark selalu ramai dengan kehadiran dua mahluk ini. Setiap acara makan, pasti ada mereka yang jadi seksi sibuk.

Saya lupa kenapa Isti tiba-tiba hadir di dalam hidupku. Ciee. Ini anak mendekat terus. Hahah. Mungkin dia ikut terkena pelet seperti yang sudah saya tanamkan kepada Arif. #eh. Lalu selanjutnya yang kutau hidupku selama 2 tahun selalu diwarnai oleh senyumnya, ceritanya, celotehannya, dan juga masakannya.

Setiap kegiatan yang mengikutsertakan Isti pasti jadi seru. Apalagi kalau mahluk mungil pembawa keceriaan, seperti Richa, Oka, Lia, Kiko turut serta. Ramai seperti berada di dalam kereta. Ada saja yang mereka ceritakan. Seperti bahan cerita yang tak akan pernah habis. Entah cerita soal kuliah, cerita soal thesis, cerita tentang kejadian di kampus dan lain sebagainya.

Life is about Ups and Downs

Setelah selesai dengan kehidupan di Wageningen, kami pun berpisah jalan. Isti mengabdi di sebuah universitas di Kendari. Saya menjadi ibu rumah tangga di Bogor. Jarak pun memisahkan, namun Isti menyempatkan datang ke Bogor saat Ayyash lahir. Thank you for that..

Hingga di bulan ketujuh, kabar duka menghampiri kami semua. Ayahmu tercinta pergi ke haribaanNya. Menghadap Ilahi lebih dulu daripada kita semua. Kamu sangat terluka. Masih jelas suara tangisanmu terdengar. Saya bisa membayangkan betapa tegarnya kamu dan Ibu mu dalam menghadapi kenyataan. Insya Allah beliau saat ini sudah berada di surgaNya. Al fatihah.

Hidup pun bergulir berjalan lambat di tahun ini. Januari – Februari – Karantina – eh udah November – Desember.

Tepatnya bulan November ia bercerita bahwa seseorang telah melamarnya. Seseorang yang datang dari desanya berasal. Perkenalan yang cukup singkat. Lalu tiba-tiba sudah bersiap untuk menyambut hidup baru bersamanya. Ia pun berbahagia. Maka benar firman Allah SWT :

“Sesungguhnya bersama kesusahan terdapat kemudahan,” – Al Insyirah : 5

Perasaan orang tua

Saya dan Arif turut berbahagia. Karena jujur saja, mahluk-mahluk mungil yang dekat dengan kami selalu kami pikirkan keadaannya. Entah, kami merasa menjadi orang tua mereka selama disana. Ada rasa lega ketika mendengar kabar bahagia, tapi turut bersedih karena ‘anak’ kami akan diambil orang. Ternyata begini perasaan orang tua melepas anaknya menikah dan dibawa orang. Haha.

Singkat cerita, saya dan Arif berniat untuk menghadiri hari bahagianya. Namun ternyata keadaan keuangan kami tak memungkinkan untuk pergi kesana. Mau ngobrol banyak sama calon pengantin pria, ingin sekali tanya-tanya. Biar jadi wawancara eksklusif orang tua ke calon mantu. Haha. Tapi ternyata tidak mungkin. Karena itu, kami mengirimkan ribuan doa. Kebetulan di Makassar hujan sedang deras-derasnya. Bukankan doa yang diucapkan saat hujan turun bisa menjadi sangat makbul? 🙂

Isti dan mas Ari, selamat menggenap. Selamat menempuh puluhan ribu langkah kehidupan berdua. Hingga nanti akhirnya Allah SWT memberikan pasukan ketiga, keempat, kelima atau keenam. Kami berdua mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Selalu..

Doa

“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” Artinya: “Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.

Aamin ya rabbal alamin

 

Cieee,, ihiiirrr.

 

duh, kenapa ak gak bisa kalem sih.. maafkan ya.. hahaha

ihhiiiirrr

 

eh mulai lagi..

 

udah ya.. 🙂

selamat menikmati hidangan 😉

 

Ditulis di Makassar

12:20 WITA Jumat, 3 Desember 2020

Saat hujan sedang deras-derasnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!