The Grande Mosquée, Masjid di Kota Paris

Jika sedang menikmati Paris ada baiknya datang ke The Grandee Mosquée. Masjid ini terletak di Latin Quarter – 5e Arrondissement, tak terlalu jauh dari Paris Natural History Museum. Ketika berada di pintu depan masjid, tidak terlihat seperti masjid yang sering saya temui di Indonesia. Sebuah pintu kayu besar menjadi pembatasnya. Sebuah lambang bulan sabit dan bintang menghiasi atap masjid.

Memasuki area masjid, kita pun dibuat terkagum-kagum. Ada sebuah teras yang dibangun sebagai pengganti selamat datang. Menurut beberapa sumber, masjid seperti ini sama seperti desain masjid Alhambra di Spanyol. Sebuah menara tinggi menjadi pembeda antara gedung-gedung di sekitarnya.

Masjid yang dibangun pada tahun 1922- 1926 menjadi masjid tertua di Kota Paris. Karena itulah, masjid ini menjadi simbol umat muslim di Perancis. Di saat banyaknya larangan untuk tidak menunjukkan identitas keagamaan di Perancis, masjid ini laiknya oase bagi pejalan Muslim di Paris. Kami datang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 15.04 CET.

pintu masuk masjid
bagian depan masjid

“Assalamualaikum,” kata bapak-bapak di bagian depan front office. Kami menjawab serempak salam bapak tersebut dan setelah itu berpisah jalan. Saya dan Lisa mencari tempat shalat perempuan.

Bapak Berjubah Putih

Diantara banyak orang, tiba-tiba seorang bapak berjubah putih menyapa kami dalam bahasa yang tak kami pahami. Sambil berpandangan, saya dan Lisa mengikuti langkahnya. Ia menunjuk sebuah papan petunjuk yang ada di pinggir pintu. ‘Femme’ begitu tulisannya.

Beliau tanpa banyak bicara langsung turun tangga dan berjalan cepat. Beliau membuat gestur tubuh sambil menunjuk sebuah pintu. Ternyata ia menunjukkan tempat shalat bagi wanita. Ia pergi dan kami segera berkata “Syukran”. Karena kami kebingungan harus berkata apa dalam Bahasa Perancis. Setelah melepas sepatu, kami pun kebingungan mencari tempat wudhu. Tiba-tiba seorang nenek dengan tergopoh-gopoh menunjukkan jalan menuju tempat wudhu.

Setelah membersihkan diri, kami segera kembali ke bagian perempuan. Setelah shalat ashar dan dhuhur, kami pun menunggu hingga adzan maghrib berkumandang. Walaupun tidak terlalu besar suara adzan, tapi hati kami bergetar. Karena sudah lama sekali tak mendengar suara adzan secara langsung.

Tak lama setelah mengucap takbir, hati saya berdesir. Benar-benar berdesir. Surat Al Fatihah dibaca dengan lantang, hingga akhirnya masuk ke surat Maryam. Saya menangis. Entah kenapa air mata saya tak bisa dibendung. Dua orang disamping saya merasakan hal yang sama. Kami bertangisan. Dan saya mendengar seluruh orang di dalam shaf menangis.

Hingga di rakaat kedua ketika dibacakan surat Ar Rahman, saya semakin sedih. Entah bagaimana sang Imam berhasil membuat saya tersedu. Setelah selesai shalat dan berpamitan kepada nenek yang baik hati, kami pun mengelilingi masjid ini.

Ternyata setelah kami pulang, kami baru tahu bahwa bapak berjubah putih tadi adalah Imam Masjid ini. Masya Allah… Betapa baiknya, mau turun tangan ketika melihat ada dua orang yang kebingungan. May peace be upon you..

corak dinding di masjid

Dibangun Sebagai Tanda Jasa Muslim di World War I

Perang selalu menghabiskan banyak nyawa untuk membela negara. Karena itulah, Perancis mendirikan masjid ini sebagai tanda jasa bagi martir yang beragama Islam di masa Perang Dunia I ketika Perancis berhadapan dengan Jerman. Ketika di masa Perang Dunia II, masjid ini menjadi tempat persembunyian bagi orang-orang Yahudi yang sembunyi dari tentara Nazi. Dokumentasi ini bisa dilihat dalam film berjudul Free Man yang keluar pada tahun 2011.

bagian shalat laki-laki

Masjid ini terdiri dari bagian shalat laki-laki, perempuan, perpustakaan, restaurant, dan taman. Masjid ini terbuka bagi umum, jadi jangan heran ketika banyak sekali orang yang berseliweran di dalam area masjid. Bagi pengunjung yang non-Muslim bisa masuk ke dalam masjid dan membayar uang masuk sekitar 3 Euro.

Tapi bagi para pengunjung ada waktu-waktu tertentu jika ingin masuk ke dalam masjid ini. Ketika musim panas (summer) dimulai dari jam 9 am – 12 am / 2 pm – 7 pm. Sedangkan musim dingin (winter) 9 am – 12 am / 2 pm – 6 pm.

Pusat atraktif bagi turis adalah bagian taman dan ruang shalat bagi laki-laki. Dekorasi ala masjid Al Hambra di Spanyol menjadi hal yang tak boleh dilewatkan.

Banyak Masjid di Paris

Selain Grande Mosquee ada beberapa masjid besar yang ada di Paris. Menurut sumber, ada sekitar 100 masjid yang terletak di kota Paris. Jika ingin melakukan wisata masjid di Paris ada beberapa daftar masjid di Paris yang bisa dikunjungi, yaitu :

Addawa Mosquee

Al Ihsan,

Mosquée d’Evry-Courcouronnes,

Association Culturelle des Musulmans de Sartrouville,

Mosquée de Levallois,

Mosquée de Gennevilliers Ennour,

Mosquée de Javel,

UOIF,

Masjid Pontoise,

Association Culturelle Islamique de Clichy

Mosquée de Clichy Ibn Khaldoun.

 

Kota Paris mungkin tidak romantis tapi ia menjadi salah satu kota yang membuat saya bergetar hebat karena mengingat Allah SWT. Terima kasih. 🙂

 

Ditulis di Asserpark

22:16 CET, Sunday 7 January 2018

Sambil menikmati suara angin kencang

You may also like

7 Comments

Leave a Reply