Kenangan Setahun Covid-19 di Sekitar Kita

Ketika pertama kali Covid-19 tiba di Indonesia, semua orang menjaga diri. Masih lekat dalam ingatan, virus yang awalnya muncul dari Wuhan tiba-tiba hadir di Indonesia. Semua orang kaget dan mulai mencari tahu soal virus ini. Virus yang ditengarai bisa membunuh orang dengan sangat cepat. Kenangan saya dengan Covid-19 selama setahun, rasa-rasanya laik dikenang dalam sebuah tulisan panjang.

Ketika Covid-19 Datang di Indonesia

Saya, termasuk dalam orang yang sangat aware mengenai virus ini. Karena menurut beberapa sumber berita di awal, virus pernafasan ini sangat rentan menimbulkan kematian jika diderita oleh kalangan lanjut usia (lansia). Hal inilah yang membuat saya berhati-hati untuk bergerak, di dalam rumah ada Ayah dan Bunda yang termasuk dalam kategori yang rentan terkena virus. Mereka berdua sudah berusia diatas 55 tahun.

Apalagi Bunda punya penyakit asma turunan yang membuatnya semakin rentan.Saya masih ingat sekali ketika virus ini hadir, adik kedua saya akan melangsungkan pernikahannya. Virus masuk ke Indonesia pada bulan awal Maret, sedangkan pernikahan adik akan dilangsungkan pada tanggal 22 Maret 2020. Sebagai kakak pertama saya pun memperingatkan akan bahaya virus ini. Jujur, saya seringkali membuat IG Story mengenai virus ini.

Saya mencari banyak informasi melalui media luar negeri. Lalu yang bisa saya lakukan selanjutnya adalah selalu mengingatkan orang terdekat agar selalu mencuci tangan dan memakai masker.Karena saya terpapar banyak informasi mengenai virus ini, saya pun mensugesti keluarga agar pernikahan dilakukan tertutup hanya keluarga besar. Lumayan lama berdebat dengan Ayah karena beliau punya banyak sekali kolega dan teman yang mau diundang dalam acara ini.

Berbagi Informasi dengan Sekitar

Ketika itu, saya juga aktif membagikan informasi kepada tetangga terdekat mengenai penyakit ini. Kami tinggal di sebuah desa yang kebanyakan warga bekerja sebagai pekerja serabutan, pekebun, dan pembantu rumah tangga.Saya berusaha memberikan edukasi awal kepada warga dengan mendatangi rumah mereka satu per satu. Jarang sekali saya bersilaturahmi ke rumah tetangga, karena saya sering merantau sejak kuliah di Makassar.

Kalau inget, rasanya lucu banget. Silaturahmi ke tetangga karena bawa undangan dan juga mengedukasi warga sekitar.Saya datang membawa masker kain dan hand sanitizer ke tetangga dekat rumah. Sebelumnya, saya mendapatkan booklet cara pencegahan virus SARS Cov-2 dari sebuah komunitas beasiswa. Booklet ini lalu saya print sekitar 15 buku dan saya bundle.

Setiap kali saya pergi ke rumah tetangga, saya sambil menjelaskan virus ini dan memberikan mereka booklet untuk mereka baca.Karena saya aktif membagikan kegiatan saya ke media sosial, seorang wartawan Kompas meminta izin untuk membuat berita tentang ini. Judulnya Pejuang Informasi tentang Korona di Pemukiman Warga, bisa dilihat di link ini.

Kaget banget ketika minta diwawancarai, karena ini murni sebagai salah satu ikhtiar menjaga diri dan keluarga. Dari pertemuan sama tetangga inilah, saya jadi akrab dengan Pak RT yang nantinya akan menjadi satu kesatuan cerita yang akan saya jelaskan nanti.

Pernikahan Adik Tetap Dilaksanakan Saat Epidemi

Hingga akhirnya pernikahan adik saya pun tetap dilakukan, namun menggunakan protokol yang sangat ketat. Dan alhamdulillahnya, kami dapat lokasi pernikahan secara outdoor jadi lumayan mengurangi spreading virus. Karena dari beberapa sumber, ketika di dalam ruangan indoor, virus lebih mudah menjangkiti.

Masih lekat dalam ingatan, kami buat banner besar mengenai protokol kesehatan. Lalu makanan yang awalnya ingin disediakan dalam bentuk prasmanan, berubah menjadi nasi kotakan. Souvenir pernikahan pun berganti menjadi masker dan biji tanaman. Kami membeli banyak hand sanitizer sebagai bentuk pencegahan. Wastafel dibangun oleh pemilik tempat pernikahan. Baik banget. 🙂

Masker medis disediakan untuk berjaga-jaga agar para orang tua dan lansia. Ayah dan Bunda, serta orang tua ipar memakai face shield selama acara berlangsung. Tak ada salam-salaman seperti pernikahan biasanya. Untungnya di depan pelaminan, tersedia dua buah wastafel. Hahah. Jadi setelah bersentuhan, bisa langsung cuci tangan.Selama tamu datang, tak henti hand sanitizer dipakai dan termometer tembak selalu menyala.

Saat itu kasus belum tinggi seperti sekarang, namun kami berikhtiar supaya tak ada keluarga yang kena. Imbasnya adalah biaya pernikahan jadi bengkak lebih besar karena masker, hand sanitizer dan vitamin C. Tak hanya itu perubahan rencana yang lumayan banyak, membuat pengantin harus merogoh kocek lebih dalam. Tapi kan semua bentuk ikhtiar demi keselamatan orang tua 🙂

Selama acara berlangsung, semuanya khidmat. Adik resmi menjadi salah satu pengantin yang diadakan pada musim Covid-19, sampai masuk ke berita. Hahah. Ini beritanya. Gegara virus ini, saya dan Adik jadi masuk ke dalam berita di dua media.

Lockdown Bersama Keluarga, Mengenang Masa Kecil Bersama

Setelah melangsungkan pernikahan, kami pun melakukan isolasi. Karena kami agak takut jika ada tamu yang membawa virus selama acara. Dan alhamdulillah setelah dua minggu, tak ada gejala aneh yang dialami oleh keluarga kami.

Namun setelah acara pernikahan itu, kami benar-benar melakukan lockdown mandiri. Kami membeli sayur dan buah di pasar Kemang dalam jumlah banyak. Karena semua anggota keluarga kami tinggal di rumah. Adik kedua yang tinggal di Depok kehilangan sumber pendapatannya karena pandemi. Cafe yang ia rintis sejak tahun 2019 harus tutup karena beban operasional yang tak bisa ditutupi selama masa pandemi.

Adik yang baru menikah juga tak bisa pulang ke tempat suami karena pengetatan perjalanan. Lagipula kami juga takut jika nantinya mereka akan membawa virus selama perjalanan pulang ke Pangandaran. Adik ketiga dan keempat, karena kampusnya di tutup, mereka pun pulang ke rumah.Akhirnya di dalam rumah orang tua ada 4 keluarga. Haha. Jika ditotal ada 13 orang di dalam rumah kami. Seru banget.

Ayah dan Bunda berbahagia sekali, karena sebelumnya anak-anaknya merantau di tempat jauh. Ada yang tinggal di Belanda, Bandung, Papua dan Depok.

kumpul selama pandemi di rumah

Tiba-tiba semuanya berkumpul jadi satu di rumah. Seperti kembali ke masa-masa kanak-kanak dulu. Haha.Setiap hari kami melakukan kerja bakti. Ada waktu setiap orang untuk melakukan bersih-bersih di rumah. Mulai dari kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, dapur, hingga halaman. Ada yang bagian cuci piring setelah makan bersama, membuat komposter, buat kolam ikan, dan kegiatan lainnya.

Selain itu kami melakukan shalat berjamaah di dalam rumah. Karena masa Ramadhan pun kami masih taat untuk shalat di rumah saja. Taraweh berjamaah, baca Al Quran sama-sama, majelis taklim sekeluarga, dan hal positif lainnya.

Membantu Tetangga

Alhamdulillah kami masih memiliki penghasilan tetap selama pandemi berlangsung. Namun ternyata tidak dengan tetangga di sekitar rumah kami. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, kebanyakan mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pekerja serabutan, tukang kebun, tukang ojek dan pekerjaan kasar lainnya.

Efek social distancing yang diterapkan oleh pemerintah membuat banyak orang terpaksa kelaparan.Karena pandemi banyak ART yang terpaksa diberhentikan dengan alasan kesehatan, pekerja serabutan tak bisa mendapatkan nafkah karena tak ada orang yang keluar dari rumah, tiba-tiba semuanya terhenti.

Pak RT yang kebetulan tinggal di depan rumah kami bercerita jika ada tetangga kami yang tak bisa makan nasi selama dua hari. Atau ART yang sudah tak bersuami, tapi tak punya pemasukan lagi karena virus ini. Tak hanya itu, memang di daerah saya ini termasuk desa yang banyak mendapatkan bantuan sosial (terus dikorupsi sama mantan Menteri tak tahu diri. ihik)

Karena hal ini, saya pun kepikiran untuk menggalang dana untuk para tetangga yang kena dampak dari virus ini melalui media sosial. Awalnya dari jualan tumblr yang saya beli di Belanda dan sisa bibit tanaman hasil souvenir pernikahan. Hasil penjualan tumblr semuanya dibelikan bahan makanan.

Lalu semakin banyak yang nitip untuk beli bahan makanan. Masya Allah. Ramai sekali yang nitip. Hingga akhirnya terkumpul dana sampai 5 jutaan. Kemudian semuanya dikonversi menjadi bahan makanan untuk 30 KK yang terdampak. Dan ternyata kegiatan berbagi ini rutin dilaksanakan setiap Jumat. Teman-teman selalu menitipkan rejekinya melalui saya untuk dibagikan kepada mereka yang terdampak.Kalau ditotal selama 2020, kebaikan teman-teman berhasil membantu lebih dari 250 KK yang terdampak selama pandemi berlangsung.

Kegiatan sedekah rutin Jumat berlangsung dari bulan April hingga bulan Oktober 2020. Sebelum saya pergi ke Makassar. Terima kasih semua Orang Baik. Doa saya bersama kalian..

Walaupun Sudah Berusaha, Korona Tetap Datang Menghampiri Salah Satu Anggota Keluarga

Bulan Agustus, keluarga adik laki-laki mulai keluar dari rumah. Ia mendapatkan pekerjaan baru di kota Jakarta, sehingga mobilitas lebih mudah jika dilakukan dari Depok. Adik perempuan yang baru menikah pun pulang ke Pangandaran setelah tinggal disini selama 5 bulan bersama suaminya.

Ikhtiar kami lakukan hingga pemerintah pun mulai melonggarkan PSBB. Adik mulai bekerja naik kereta pulang pergi. Ayah mulai pergi ke masjid dekat rumah. Suami juga mulai kerja namun memilih menggunakan motor ke Jakarta. Selang seling tiap dua hari sekali.Namun kabar tak enak datang dari Adik di satu hari medio September.

Ia kehilangan penciuman di satu hari, ketika ia sedang berkunjung ke rumah kami. Ia mendadak demam tinggi, badannya terasa linu, batuk kering dan gejala persis seperti yang sering kami baca di internet. Ketika ia pulang dari rumah kami, ia segera memeriksakan diri. Awalnya ia pikir ia terkena tipes seperti biasa, namun petugas RS memintanya melakukan rontgen dada. Hasilnya terlihat ada kabut putih di bagian paru-parunya.

Dari situlah dugaan terkena Covid-19 menguat, ia pun diminta melakukan swab. Dari hasil swab yang keluar 24 jam kemudian, ia didiagnosa positif Covid-19. Kami yang pernah kontak diminta untuk melakukan swab. Ia melakukan isolasi mandiri di kostnya. Sendirian, tanpa anak dan istri di sisinya.

Isolasi Mandiri selama 2 Minggu

Pada saat itu stigma negatif pada penderita Covid-19 masih sangat terasa sekali. Ia kena di bulan Agustus ketika pandemi belum semassif saat ini. Ia berkali-kali diusir oleh tetangga kontrakannya. Dijauhi oleh orang di sekitarnya. Sampai para penghuni kontrakan di sebelahnya membuat teror untuknya dan keluarga. Sedih banget kalau denger ceritanya. Belum lagi ketika ia ingin isolasi mandiri di rumah, saya ‘mengusir’nya juga.

Karena takut jika isolasi dilakukan di rumah dengan Ayah dan Bunda disini. Karena pada saat itu informasi mengenai isolasi di rumah belum terlalu banyak. Jadi saya memintanya untuk isolasi mandiri di kontrakannya saja. Tapi kalau dipikir-pikir, saya jahat banget. Haha. Maaf ya Zam..

Kami pun yang pernah kontak dengannya diwajibkan melakukan swab nasofaring. Kami berombongan pergi ke Puskesmas Tajurhalang untuk mendapatkan swab gratis. Itupun setelah menunggu dua minggu sejak pertama kali kontak dengan adik saya. Katanya sih karena alat swab terbatas namun banyak yang butuh untuk diswab.

Jadi antrian panjang untuk swab pun terjadi.Setelah swab, hasil pun baru bisa keluar setelah dua minggu. Jadi selama 4 minggu kami hanya diam di rumah. Alhamdulillah, banyak orang baik di sekitar kami. Untuk semua kebutuhan diberikan oleh orang-orang. Masya Allah. Ada teman yang mau dititipi beli bahan makanan, tetangga juga patungan beli bahan makanan, murid ngaji Bunda pun juga ikut memberi makanan tiap harinya.

Kami di dalam rumah, deg-degan juga menunggu hasil dari Puskesmas. Ketika akhirnya Puskesmas memberikan kabar bahwa semua orang negatif, kami pun bisa lega. Alhamdulillah.

Perjuangan Masih Panjang, Pandemi Belum Usai

Sudah setahun Covid-19 menghantui negeri ini. Kondisi ekonomi yang semakin carut marut karena kebijakan yang terus berganti. Tapi semoga Pemerintah melakukan kerja terbaiknya untuk melindungi warganya. Kita sebagai warga yang baik, bisa melakukan hal-hal sederhana demi menjaga diri dan keluarga.Melakukan 5 M , yaitu menghindari kerumunan, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, menjaga jarak, dan mengurangi mobilisasi dan interaksi.

Memang agak sulit di bagian menghindari kerumunan, karena undangan pernikahan sudah semakin panjang listnya. Belum lagi keinginan untuk jalan-jalan meronta-ronta. Kangen berkumpul dengan keluarga nun jauh disana. Tapi ingatlah, pandemi masih belum usai. Vaksinasi yang digadang-gadang menjadi anti penyebaran masif, ternyata masih belum berfungsi sempurna.

Selain virus yang terus berduplikasi dan berreplikasi, strain virus baru terus muncul tiap hari. Jadi tingkat efikasi vaksin pun masih dipertanyakan.Hal yang bisa kita lakukan adalah bersabar dan melakukan 5 M dengan ketat sekali. Biar saja dibilang parno, karena memang pandemi belum usai. Mari saling menjaga diri dan keluarga dengan menaati peraturan yang sudah ada.

Bismillah.

Semoga Covid-19 cepat hilang dari muka bumi. Husssh.. hushhhh…

 

ditulis di Tajurhalang, Bogor

22:50 WIB Senin 22 Februari 2021

Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021” dan mengenang setahun kejadian pandemi Covid-19 di Indonesia. Semoga segera berlalu. Aamin ya rabbal alamin..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!