mikroplastik
2020,  2021,  bahaya,  indonesia,  Opinion

Resensi Jurnal : Mikroplastik dalam Produk Ikan

Saya membaca sebuah jurnal dengan topik mikroplastik ada di dalam ikan konsumsi. Jurnal melakukan penelitian di dua daerah, yaitu Makassar dan California. Scientific Report berjudul Anthropogenic debris in seafood: Plastic debris and fibers from textiles in fish and bivalves sold for human consumption yang ditulis oleh Chelsea M. RochmanAkbar TahirSusan L. WilliamsDolores V. BaxaRosalyn Lam, Jeffrey T. MillerFoo-Ching TehShinta Werorilangi, and Swee J. Teh diterbitkan oleh Nature tahun 2015.

Tapi saya hanya akan membahas mengenai penelitian yang dilakukan di Makassar, Indonesia.

Sampah Lautan di Indonesia

Seperti yang telah kita ketahui, Indonesia masuk dalam kategori penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Peringkat pertama diduduki oleh Cina, lalu disusul oleh Indonesia sebagai peringkat kedua. Sampah yang dihasilkan pun tidak main-main jumlahnya. Sekitar 0,48 – 1,29 juta ton per tahun.

Kebanyakan sampah berasal dari daratan yang kemudian mengalir ke laut. Tercatat sebanyak 31% terjadi kebocoran sampah darat ke laut. Hal inilah yang membuat Pemerintah Indonesia mulai mencanangkan program nasional memerangi sampah plastik. Target yang ingin dicapai adalah mengurangi 75% sampah di laut.

Berbagai program dilakukan sejak tahun 2018 hingga 2025, salah satunya adalah membuat Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2018 yang membuat lima kerangka program kerja yang ingin dicapai.

Ukuran Sampah di Laut

Di dalam website milik KKP diketahui bahwa ada lima kategori jenis sampah laut, yaitu :

  • Sampah Mega (mega debris) yaitu ukuran sampah yang panjangnya lebih dari 1 m dan umumnya didapatkan di perairan lepas. Jenis sampah ini bisa puing kayu, bekas jaring ikan, dan lainnya.
  • Sampah Macro (macro debris) yaitu ukuran sampah yang Panjang berkisar >2,5 cm hingga <1 m. Sampah jenis ini pada umumnya didapatkan di dasar maupun permukaan perairan. Sampah jenis ini paling banyak ditemukan, seperti botol plastik, alat makan, gallon, sepatu, popok sekali pakai.
  • Sampah Meso (meso debris) yaitu sampah yang berukuran >5mm hingga <2,5 cm. sampah ini biasanay terdapat di permukaan perairan maupun tercampur dengan sedimen. Jenis sampah ini biasanya seperti tutup botol, plastik bungkus makanan seperti permen, sobekan plastik, cotton bud, dan lainnya.
  • Sampah Mikro (micro debris) merupakan jenis sampah yang sangat kecil dengan kisaran ukuran 0,33 mm hingga 5,0 mm. Sampah dengan tipe ini bisa seperti pecahan Styrofoam, pecahan jaring (fiber), pecahan plastik yang sudah lama berada di laut, dan lain sebagainya. Parahnya sampah jenis microplastik sangat berbahaya karena dapat masuk ke organ tubuh organisme laut seperti ikan dan kura-kura.
  • Sampah Nano (nano debris) merupakan jenis sampah laut yang ukurannya dibawah dari mikroplastik. Sampah kecil ini bisa masuk ke dalam organ tubuh organisme laut seperti copepod yaitu notabene merupakan makanan ikan.

Sampah Mikroplastik Jadi Makanan Ikan, Kenapa Bisa?

Karena sampah ini mencapai ke laut, ada kemungkinan menjadi makanan ikan. Kenapa bisa? Karena sampah yang terbawa ke laut pada akhirnya seiring waktu akan pecah menjadi komponen-komponen yang lebih kecil.

Tak hanya itu, ada juga produk plastik yang memang dalam ukuran kecil. Misalnya saja microbeads yang ada di dalam sabun muka. Tanpa kita sadari, hal tersebut merupakan sampah plastik yang bisa membahayakan biota di laut.

Di dalam kedua penelitian ini menunjukkan bahwa ada pecahan plastik yang ada di dalam tubuh ikan. Berikut ini adalah hasil penelitian yang dilakukan di Makassar.

Penelitian di Makassar

Penelitian ini melibatkan 76 ikan utuh yang dibeli dari Pasar Ikan Paotere, Makassar. Ada 11 jenis spesies yang berbeda yaitu 5 ikan nila (Oreochromis niloticus), 9 ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), 9 ikan tenggiri (Rastrelliger kanagurta), 17 ikan layang (Decapterus macrosoma), 10 ikan hering bundar bergaris perak (Spratelloides gracilis), 7 dari famili Carangidae. (tidak dapat diidentifikasi genera), 7 ikan baronang (2 Siganus argenteus, 3 Siganus fuscescens, 2 Siganus canaliculatus), 5 ikan kakap merah (Lutjanus gibbus) dan 7 ekor selar (Selar boops).

mikrplastik

Dari hasil yang didapatkan ada 21 dari 76 sampel ikan memiliki sampah plastik di dalam saluran pencernaan ikan atau sebanyak 28%. Partikel yang teridentifikasi (>500 μm) di dalam perut ikan semuanya terdiri dari plastik. Partikel berukuran kecil dengan Panjang rata-rata 3,5 mm (

Puing-puing antropogenik yang teridentifikasi (> 500 μm) pada sampel dari Indonesia, semuanya terdiri dari plastik. Semua puing berukuran kecil: panjang rata-rata semua puing 3,5mm (± 1,1 SD) dan lebarnya berkisar antara 0,1–4,5 mm tergantung pada bentuknya.

Ditemukan total 105 fragmen sampah mikroplastik yang terdiri dari 63 pecahan plastik (60%), 39 busa plastik (37%), 2 film plastik (2%) dan 1 monofilamen plastik (1%).

Kemungkinan besar mikroplastik ini masuk ke dalam ikan melalui jalur makan, karena ditemukan di dalam sistem pencernaan.

Rantai Makanan Sudah Tercemar Mikroplastik

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa plastik sudah masuk di dalam rantai makanan. Karena ikan yang diteliti merupakan ikan dengan tingkat trofik yang berbeda yaitu jenis herbivora dan predator. Selain itu ikan-ikan ini menempati habitat yang berbeda, yaitu lamun, terumbu karang dan pelagis.

jenis mikroplastik yang ditemukan di dalam tubuh ikan

Ikan yang dibudidayakan melalui proses akuakultur yaitu ikan nila tidak ditemukan fragmen plastik di dalam pencernaannya. Namun empat spesies ikan pelagis, tiga diantaranya memiliki fragmen plastik di dalam tubuhnya. Sedangkan enam spesies lain yang hidup di terumbu karang, empat diantaranya mengandung sampah plastik.

Menurut penelitian ini, ditemukan kemungkinan bahwa ikan-ikan ini memakan fragmen keras dan tali pancing diketemukan di dalam tubuh mereka.

Kesimpulan

Penemuan sampah di dalam perut ikan merupakan hal yang tidak mengherankan, mengingat Indonesia merupakan negara penghasil sampah dan salah Kelola terbesar kedua di dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi sampah di dalam perut ikan di Indonesia lebih banyak dibandingkan di Amerika.

Hal ini bisa berarti bahwa sampah yang salah Kelola (mismanagement) di Indonesia masih lebih besar. Indonesia memiliki sampah salah Kelola sekitar 3,22 jutan ton per tahun, beda jauh dengan Amerika Serikat yang hanya 0,28 juta ton per tahun.

Selain itu perbedaan paling mencolok dari kedua hasil penelitian adalah jenis sampah yang terdapat di dalam perut ikan. Di Indonesia banyak ditemukan fragmen plastik. Hal ini bisa diaminkan karena sekitar 30% limbah padat dari daratan dibuang langsung ke sepanjang pantai, sungai dan ke saluran drainase. Dan sampah-sampah inipun terurai seiring dengan waktu menjadi fragmen-fragmen plastik.

Penutup

Penelitian di atas membuka mat akita bahwa plastik sudah masuk ke dalam rantai makanan. Tanpa kita sadari, setiap kali kita mengonsumi seafood, ada kemungkinan partikel kecil plastik ikut masuk ke dalam perut kita. Bisa jadi ini menjadi bioakumulasi plastik di dalam tubuh dan membuat tubuh kita bermasalah di kemudian hari.

Karena itu mari mulai memilah sampah, mengerem pembelian barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan, selalu membawa tempat minum sendiri, dan hal-hal yang bisa menyelamatkan bumi demi masa depan.

 

Ditulis di Tajurhalang

21:54 WIB Selasa, 19 Januari 2021

Sambal dengar playlist harian

writer

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!