Pekerjaan di Belanda Ketika Menemani Istri

Pekerjaan yang pernah dicoba ketika menemani pasangan kuliah di Belanda. Sudah tiga tahun berlalu ketika Arif ikut ke Belanda 2 bulan setelah kedatangan saya di Belanda. Dia berjanji untuk mendukung saya. Apapun yang terjadi.

Ia tiba di Bandara Schipol pada tanggal 16 Oktober 2017. Saya menjemputnya di Schipol menggunakan baju warna kuning. Eh ternyata dia juga pakai jaket warna kuning. Kami sehati ternyata. 🙂

Tiba di Belanda

Ketibaannya di Belanda merupakan hal yang paling saya tunggu. Biasanya kedinginan sendirian, eh sekarang udah berduaan. Haha. Ups, bukan itu intinya. Ketika dia tiba di Belanda, kami sempat bingung. Apa yang akan Arif lakukan selama di Belanda? Dia sudah melepaskan pekerjaannya demi menyusul saya disini.

Emang Arif bakalan ngapain kalau ikut kamu disana? Mending juga di Indo, Arif kerjaannya udah bagus.

Kira-kira begitulah banyak pertanyaan yang terlontar dari banyak orang. Kami juga awalnya bingung mau jawab apa. Wong, kita gak punya kenalan siapa-siapa. Pokoknya niatnya biar bisa bersama terus. Maklum, pasangan baru. Masih hot-hot nya. Eh sekarang juga masih hot kok.. 😛

Seminggu sebelum Arif berangkat ke Belanda, saya ‘curhat’ ke beberapa orang. Haha. emang Adlien anaknya suka curhat gak tau tempat. Cerita aja, supaya lepas pikiran. Eh gak taunya, curhatan itu disambut dengan baik oleh Allah SWT.

Pekerjaan Pertama di Belanda : Loper Koran

Saya diberikan informasi jika ada orang Indonesia yang sedang off untuk jadi loper koran. Namanya Kang Gerald. Suaminya Wenty. Katanya Wenty mau keluar Wageningen untuk penelitian. Nah Kang Gerald ini kerja sebagai loper koran. Dia butuh pengganti selama dia ikut Wenty penelitian. Begitulah kira-kira informasi yang saya dapatkan dari Mas Yitno.

Jadi setibanya di Belanda, Arif langsung mendapatkan pekerjaan sebagai loper koran. Alhamdulillah. Dia tiba hari Senin pagi, lalu Selasa subuh dia sudah berangkat bekerja. Disitu adalah waktu untuknya beradaptasi dengan perbedaan waktu.

loper koran ganteng

Jadi Loper Koran

Kami tinggal di Asserpark, sedangkan tempat loper koran terletak di Bennekom. Lumayan jauh juga. Itu adalah kali pertama kami berdua menginjakkan kaki di daerah Bennekom. Ternyata malah jadi rumah kami beberapa bulan kemudian. Haha.

Inget banget saat itu masih pagi-pagi buta, jam 4 pagi kita harus ngayuh sepeda dari Asserpark ke Bennekom. Jalan masih gelap banget, gak banyak orang. Kami mengayuh sepeda berdasarkan maps yang dikirimkan oleh Mas Yitno. Saat itu sedang musim gugur, jadi suhunya dingin banget.

Kami pergi ke tempat pengambilan koran. Jadi ada semacam biro gitu. Disitu berkumpul para loper untuk ngepack koran-koran yang akan diantarkan. Setiap loper mendapatkan area masing-masing. Setiap hari Senin – Jumat areanya sama. Tapi hari Sabtu areanya berbeda, plus ditambah dengan konsumen yang memesan majalah mingguan. Sehingga Arif harus mengayuh sepeda lebih kuat dari hari biasa. Biasanya dia selesai membagikan koran dan majalah di jam 8 pagi.

Mas Yitno yang temani kami nyepedah menjelaskan satu per satu rumah pelanggan koran. Arif punya tas sepeda besar yang dia gunakan untuk menjemput koran. Lalu mengantarkannya ke rumah-rumah. Pengantaran koran tidak boleh terlambat, karena biasanya orang Belanda suka komplain kalau korannya telat datang. Hahah. Arif pernah kena komplain.

Waktu kerjanya lumayan lama. Jam 4 pagi berangkat, jam 8 pagi Arif sudah di Asserpark kembali. Sekitar 4 jam bekerja.  Karena itulah, shalat subuhnya ia lakukan di trotoar. Awal pertama kali ngeloper, dia shalat Subuh di hutan kecil karena takut dengan stigma. Tapi lama-kelamaan dia akhirnya berani shalat di trotoar.

Berhenti jadi Loper Koran

Namun ketika musim dingin tiba, Arif memutuskan utuk berhenti. Dia gak kuat sama udara dinginnya. Saya juga gak keberatan kalau dia berhenti, mengingat dia punya penyakit GERD. Jadi ak suka kasian sama dia, tiba-tiba ngeluh perutnya sakit atau dadanya rasa seolah terbakar. Kan jadi serem, makanya ketika dia memutuskan untuk berhenti, saya iyain aja. Kita belum aware untuk bayar asuransi kesehatan pada saat itu. Mahal euy asuransi kesehatan. 75 euro per bulan. Haha. Karena itu, kita berusaha agar Arif gak boleh sampai sakit. FYI, kita pada akhirnya bayar asuransi kok. 🙂 Pakai asuransi AON untuk family member

Pekerjaan kedua : Nanny

Setelah akhirnya Arif berhenti jadi loper koran, dia sempat bingung mau ngapain. Tapi, ternyata Allah SWT masih sayang dengan kami. Karena tidak berapa lama, saya dipertemukan sama mba Icha, istri mas Raushan di depan Indrani. Saat itu saya SKSD aja, padahal baru ketemu sekali. Hahah. 🙂

Ternyata beliau adalah nanny anak-anak PhD orang Indonesia, mas Sahri dan mbak Amik. Kebetulan pada saat itu, mbak Icha sedang dalam program mau punya anak sehingga berniat untuk berhenti. Karena itulah mbak Icha menawarkan pekerjaan itu pada Arif.

Tanpa disangka Arif mau jadi nanny di rumah mas Sahri dan mba Amik. Arif diamanahi utuk menjemput Habil dan Brilan di sekolah serta menjaga mereka hingga kedua orang tuanya pulang dari kantor.

Arif dengan keluarga Mas Sahri dan Mbak Ami

Dia bekerja ketika kedua anak itu pulang dari sekolah, hingga orang tuanya tiba, biasanya pukul 5 sore. Hari kerjanya juga di weekdays, jadi weekend kami tetap bisa berduaan. Hehe. Pekerjaan ini ia lakoni hingga sampai mau pulang ke Indonesia. Dia betah banget main sama Brilan dan Habil.

Kalau ak tanya kenapa betah, dia bilang sih persiapan kalau punya anak laki-laki. Eh ternyata kami beneran diberikan kesempatan untuk memiliki anak laki-laki juga. Haha. Allah SWT memang Maha Pendengar kata-kata. 🙂

Pekerjaan ketiga : Resepsionis Hotel

Selama bekerja jadi nanny, di awal tahun 2019 Arif dapat kesempatan untuk jadi resepsionis hotel di Amsterdam. Nama hotelnya Vijaya, letaknya di kawasan Red Light District. Hahah. Kalian tau kan apa itu Red Light District? Ak gak bisa jelasin, sila google sendiri untuk cari tahu. 😛

Informasinya kali ini didapat melalui kak Alim. Tak perlu waktu lama, ia mendaftar dan langsung diterima. Kerja disana hanya dilakukan hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Kebayang dia kerja keras banget disana.

Pada hari Jumat, dia berangkat pukul 4 sore. Sebelum waktu orang pulang kerja. Karena nanti harga tiketnya lebih mahal dari biasanya. Lalu dia pulang naik kereta terakhir menuju Ede – Wageningen. Tiba di rumah biasanya pukul 1.30 pagi.

ngecek pekerjaan Arif. Hahah

Sabtu dan Minggu jadi jarang banget keluar berdua karena dia kecapean dan butuh istirahat. Tapi pekerjaan ini cuman bertahan selama tiga bulan. Karena masalah permit. Owner hotel sebenarnya suka sama cara kerja Arif yang sangat rapih dalam melakukan pendataan, menjawab masalah, mengantar tamu, dan lain sebagainya. Namun Arif datang ke Belanda terdaftar dengan visa non-workers (familiy dari student S2 gak bisa jadi worker legal di Belanda). Jadi walaupun sudah tiga kali owner mengajukan agar Arif bisa dapat working permit tetap gak bisa. Akhirnya dengan berat hati, Arif harus selesai kontraknya.

Pekerjaan Keempat : Travel Guide

Alhamdulillah, selama disana, dia juga dapat beberapa amanah dari travel Indonesia untuk jadi guide di berbagai negara. Bagian ini nih Aku suka ENVY BERAT sama dia. Hahah. Dia mengunjungi banyak negara karena ngeguide. Ia menjadi tour guide di beberapa travel agent seperti Zoera Tour and Travel, Family Traventure, dan Light and Bright. Ia juga pernah arrange trip sendiri untuk rombongan dosen sebuah universitas di Malang.

Dia pernah ikut sama nge guide sampai ke Swiss, Italia, Jerman, Belgia, dan beberapa tempat lainnya. Ih enak banget! Tempat-tempat kayak Zurich, Milan, Amsterdam, Brussels, Paris, dan lainnya sudah hafal di luar kepala. Masih inget banget, dia dulu minta ak ngeprint data-data tempat yang akan dikunjungi.

Dia bekerjasama dengan beberapa Tour Agent di Indonesia. Dan alhamdulillah, semua tour agent yang bekerjasama semuanya baik-baik dan kami masih kontak sampai sekarang. 🙂 Salah satunya tour agent Light and Bright yang pernah meminta kami untuk nge-guide keluarga Glen Alinskie dan Chelsea Olivia. 🙂

Guide keluara Chelsea Olivia dan Glen Alinskie. Nastusha lucu sekali

Tugas dia biasanya kasih minum ke para tamu, menjelaskan tempat tersebut, dan juga menjaga agar para tamu tak terpisah dari kelompok. Tapi yang kusuka, dia selalu bawa oleh-oleh dari para tamunya. Kalau dia pulang, ada rendang, kering kentang, beras, bumbu bumbu dan makanan Indonesia lainnya. 😘 Belum lagi suka dapat tips yang menurutku besar banget. Dia pernah datang ke rumah bawa uang sebesar uang beasiswaku sebulan. Masya Allah.

Pekerjaan Kelima : Jualan Makanan Indonesia

Pekerjaan lain yang dia lakukan adalah jual makanan Indonesia di mahasiswa Indo. Misalnya saja ayam bumbu lengkuas, mie ayam bakso, ayam geprek dan jual piscok. Wkwk. Gak sering banget sih. Soalnya dia suka gak pede dengan rasa masakan dia. Padahal masakannya enak.

Jualan makanan ini karena didorong oleh resep-resep enak dari Mbak Astin. Terima kasih ya Mbak. Arif dapat resep cara bikin bakso enak, mie ayam yang enak dan ayam geprek. Kumpulan resep Mbak Astin masih tersimpan di dalam lemari. 🙂

Dia juga pernah jadi Asisten masak chef di Amsterdam nemenin Kak Azzam, suaminya kak Nilma. Haha. Katanya dia sempet ketemu artis disana.

Kerjaan tambahan?

Dia pernah ditawari Fifi untuk jadi waiter di sebuah kedai Sushi. Tapi ternyata hanya bertahan satu hari. Haha. Karena dia gak tahan sama bau alkoholnya. Dia tepar selama dua hari setelah bekerja.

Selain itu dia pernah juga jadi translator dan masih berhubungan baik dengan tempat kerja sebelumnya.

Tapi overall waktunya juga sering dihabiskan bersamaku. Entah dia mengajarkan ku Advance Statistic, menjadi chef di rumah kami, leyeh-leyeh baca komik, ataupun bebersih rumah. Hahah.

Kesimpulan

Bagi sebagian orang, keputusan Arif ikut sama saya ke Belanda merupakan kemunduran bagi jenjang karirnya. Tapi ternyata Alhamdulillah setibanya kami di Indonesia, Arif langsung mendapatkan posisi yang baik. Kalau kata Arif sih, dia mau menemani saya untuk berjuang bersama-sama. Karena pernikahan diuji dengan beragam cara. Perjuangan dua tahun bersama bisa jadi jalan untuk mendewasakan kita berdua.

Thanks Abba sudah mau menemani ups and downs selama hampir 4 tahun ini. Tulisan ini didekasikan untuk kerja keras kamu selama ini. Terima kasih karena telah menemani ku bertumbuh. Semoga tulisan ini bisa dibaca Ayyash nantinya, agar ia tahu bagaimana perjuangan Abba nya.

ketika urus verblifjt di S’Hertogenbosch

ditulis di Tajurhalang

0:54 WIB

Selasa, 8 September 2020

sambil memandang Ayyash yang tengah tertidur pulas

2 Replies to “Pekerjaan di Belanda Ketika Menemani Istri”

  1. Mbak, beneran deh mataku tuh berkaca-kaca pas baca tulisan ini. Tuhan beneran baik banget, ya, dikasih kemudahan untuk dapet perkerjaan di Belanda. Meski gonta-ganti terus, justru di situlah letak pengalamannya. Bisa icip ini-itu. Kerasa banget gimana perjuangannya. Semoga Mbak dan suami selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan kelancaran untuk menjalankan segala rencananya, ya. Aku salut dan happy banget baca tulisan ini. :”)

  2. Iya mbak. Alhamdulillah bisa menjalani ini. Pas dijalani sih lumayan berdarah-darah, tapi ketika diingat kembali malah jadi ketawa-ketawa. 🙂 Terima kasih ya mbak atas doanya. Semoga doa yang sama kembali kepada mbak Sintia. 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!