Pospak Bayi, Anugerah atau Musibah?

Penemuan popok sekali pakai (pospak) bisa terhitung sebagai anugerah karena kepraktisannya. Namun, ada musibah besar mengintai jika kita tak melakukan sesuatu untuk mengubahnya.

Seorang ibu yang bernama Yulia Dwisetyaningrum membagikan kisahnya melalui media sosial Facebook. Kisah tentang anaknya yang rutin menggunakan popok sekali pakai terkena Infeksi Saluran Kemih (ISK) menjadi ketakutan tersendiri bagi orang tua baru seperti saya. Di zaman modern seperti ini, kehadiran popok sekali pakai atau bisa disingkat pospak menjadi sebuah anugerah. Tipikal ibu yang senang berkutat dengan bejibun aktivitas sangat mengandalkan pospak untuk menahan ompol pipis anak. Namun seringkali kita lupa bahwa ada environmental impact (dampak lingkungan) yang bisa menjadi musibah di masa depan turut hadir dengan adanya kemudahan pospak.

Pospak, anugerah atau musibah?

Ketika Ayyash lahir sebelas bulan yang lalu, saya menggunakan pospak karena operasi Caesar yang saya jalani. Pada saat itu, saya merasakan bahwa kehadiran pospak sangat membantu saya. Sebenarnya Bunda saya sudah menyiapkan banyak popok kain sebelum Ayyash lahir, katanya dulu anak-anaknya tak pernah ada yang pakai pospak kecuali sedang bepergian. Karena itulah, beliau memberikan saya hadiah selusin popok kain untuk cucunya.

Namun, karena operasi Caesar, saya tak bisa bergerak dengan leluasa. Suster yang merawat Ayyash meminta suami saya untuk membelikan pospak ukuran newborn. Setelah saya telusuri, sang suster memakaikan pospak sebanyak lebih dari 5 kali dalam rentang sehari. Selama saya di RS untuk pemulihan tiga hari, berarti Ayyash sudah menggunakan 15 pospak. Kalau kata suster karena Ayyash masih selalu mengeluarkan kotoran yang ada di dalam perutnya.

Ternyata balada penggunaan pospak masih berlangsung, selama tinggal di rumah, kami menyediakan pospak untuk Ayyash. Karena saya mengingat wejangan dari suster untuk mengganti popok Ayyash selama 3 jam sekali, alhasil sampah popok sekali pakai pun menggunung di tempat sampah. Setiap Ayyash pipis sedikit saja, saya langsung dengan sigap menggantinya. Pada saat itu, pospak seakan tak terpisahkan dengan kehidupan Ayyash sehari-hari. Di satu sisi saya sangat tertolong dengan adanya pospak karena tak perlu mencuci, tapi di sisi lain ada perasaan bersalah pada bumi. Hal ini berlangsung selama 4 bulan. Jadi selama 4 bulan Ayyash sudah menghasilkan sampah yang lumayan banyak.

Menghitung Penggunaan Pospak pada Bayi

Agar bisa melihat dampak dari pospak, mari kita hitung seberapa banyak sampah pospak yang Ayyash hasilkan selama 4 bulan:

Saya selalu membeli pospak ukuran newborn dengan isi 44 pcs. Setiap harinya Ayyash bisa menghabiskan 4 – 5 pospak per hari. 4 x 30 hari = 120 pospak selama 1 bulan. Bisa dibayangkan sebanyak apa sampah yang dihasilan Ayyash selama 1 bulan. Whattt.. Jadi selama Ayyash belum menggunakan clodi, dia sudah mengonsumsi 480 pospak. Padahal 480 pospak itu baru untuk satu bayi.

Jika mengambil data dari BKKBN, bahwa setiap hari ada 10.000 orang per hari, bisa dibayangkan berapa banyak pospak yang digunakan oleh bayi baru lahir di Indonesia setiap harinya.

Selain dampak lingkungan, dampak ke kantong juga sangat terasa. Mari kita kalkulasi secara sederhana.

Harga pospak premium ukuran newborn dengan isi 44 adalah Rp. 49.800 : 44 = Rp. 1.132.

Lalu jumlah uang yang saya keluarkan untuk membeli pospak Ayyash adalah Rp. 1.132 x 480 pcs = Rp. 543,360 selama sebulan. Waaaww. Terasa sangat besar setelah dikalkulasi. Padahal ketika digunakan, kayak gak kerasa akan sebesar itu pengeluarannya.

Fakta tentang Pospak

Merujuk pada hasil riset World Bank tahun lalu, komposisi sampah di laut didominasi oleh sampah organic (44%), pospak (21%), tas kresek atau plastic (16%), sampah lain (9%), pembungkus plastic (5%), beling kaca, metal (4%), dan botol plastic (1%).

Jadi sebenarnya pospak merupakan salah satu masalah besar bagi perairan di Indonesia. Tak hanya itu saja, laporan Tirto menyatakan bahwa pospak mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42% yang bisa berubah menjadi bentuk gel ketika terkena air. Gel inilah yang mengandung zat kimia dan berbahaya bagi lingkungan. Senyawa ini bisa merubah hormon pada ikan.

Ditambah lagi kacaunya sistem sanitary landfill yang dimiliki oleh setiap Pemerintah Daerah di Indonesia. Masih banyak daerah yang belum memiliki TPA yang layak bagi pemukiman padat warga. Pasalnya pospak merupakan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang tidak bisa dicampur dengan sampah lain.

Untuk di luar negeri, pospak memiliki tempat sampah tersendiri untuk menuju tempat pembuangan akhir, namun untuk kasus di Indonesia kebanyakan terlihat di sungai atau laut karena buruknya sistem pembuangan di Indonesia.

Selain karena sulitnya tempat pembuangan, ada juga mitos yang berkembang di masyarakat mengenai cara membuang pospak. Banyak yang mengatakan bahwa membuang pospak harus di tempat yang adem seperti sungai atau laut agar pantat bayi tidak merasa panas. Padahal hal ini adalah salah satu mitos yang menyesatkan.

clodi vs diapers. cumber : https://earth911.com/living-well-being/cloth-diaper-just-facts/

Clodi adalah Solusi

Mungkin melihat masalah pospak ada bagusnya kita kembali ke zaman dahulu kala. Solusi mudahnya adalah menggunakan popok kain sebagai solusi pencemaran lingkungan akibat limbah popok.

Mungkin popok kain agak sulit diberlakukan karena kainnya yang tipis dan tidak menyerap banyak pipis. Namun saat ini ada inovasi popok kain yang hampir mirip dengan pospak, namanya cloth diapers. Saya menemukan sebuah postingan di Instagram tentang cloth diapers atau biasa disingkat dengan clodi. Sejak saat itu saya pun mulai rajin mencari tahu mengenai clodi.

Sejak saya menghitung total sampah yang dihasilkan oleh Ayyash, saya pun mulai mencari tau mengenai clodi lebih banyak. Dan saya pun melakukan perhitungan ekonomis secara kecil-kecilan. Jika dalam sehari, clodi harus diganti sebanyak 5 -7 kali karena daya serap clodi lebih rendah dibandingkan pospak pada umumnya.

Sehingga paling tidak saya harus memiliki 20 pcs clodi. Hal ini dikarenakan saya adalah tipe orang yang malas mencuci. Ada kok seorang teman yang hanya memiliki 10 clodi dan bisa survive dengan metode cuci pakai. Kalau saya membiarkan clodi menumpuk terlebih dahulu, baru dalam waktu tiga hari baru nyuci clodi dalam jumlah besar. Hahah.

Saya pun mulai hunting cloth diaper di beberapa e-commerce. Hasilnya ada beberapa tipe clodi yang jamak digunakan oleh ibu rumah tangga. Mulai dari yang harganya 10 ribuan hingga yang harganya 75 ribuan. Sisanya saya mendapatkan clodi hibah dan kado.

Mari kita kalkulasikan berapa investasi awal ketika membeli clodi

Harga clodi Rp 75.000 x 8 buah = Rp. 600.000

Harga clodi Rp. 12.000 x 10 buah = Rp. 120.000

Total Rp. 720.000

Investasi awal sangat terasa berat, karena harus mengeluarkan uang Rp. 720.000 secara langsung. Namun setelah penggunaan clodi selama hampir 7 bulan, saya merasakan banyak penghematan. Yang awalnya harus mengeluarkan uang Rp. 500.000 untuk pospak, sekarang hanya mengeluarkan uang Rp. 53.000

Pengeluaran untuk pospak Ayyash tiap bulan adalah Rp. 53.000 (isi 30 buah ukuran L). Jadi bisa dikalkulasikan 53.000 / 30 = Rp 1.766 per pospak. Ini adalah harga pospak merk Merries yang paling murah saya dapatkan di ecommerce dengan voucher gratis ongkir. 30 pospak ini bisa bertahan selama sebulan.

Jenis-jenis Clodi

Beragam jenis clodi yang tersedia di pasaran, mulai dari yang murah hingga harga mahal. Tergantung dengan pembelian yang Anda inginkan. Saya akan menjelaskan beberapa tipe-tipe clodi dibawah ini.

  

  1. Clodi GG harga 60 – 80 ribu. Clodi jenis ini memiliki insert yang sangat unik. Ada sebuah lubang di dalam insert yang bisa dimasukkan insert lain sebagai tambahan layer. Clodi ini punya perekat yang baik.
  2. Clodi Qianqunui harga 8 – 12 ribu. Kalau clodi ini sangat murah jadi bisa dibayangkan bagaimana kualitasnya. Kain insertnya sangat tipis, hanya 2 kali pipis, clodi sudah basah. Jadi sangat sepadan dengan harganya. BIasanya saya memasukkan insert merek lain di dalam clodi ini jika diperlukan.
  3. Clodi Babyland harga 65 – 75 ribu. Merk clodi ini paling lazim ditemukan di toko perlengkapan bayi. Harganya agak mahal tapi kualitasnya tak perlu diragukan. Saya menyarankan agar membeli insert dengan bamboo fiber karena lebih menyerap pipis lebih lama.
  4. Clodi Ningrat All in One harga 65 – 75 ribu. Clodi jenis ini mirip seperti celana, biasanya orang menggunakan clodi jenis ini ketika anak sudah mulai aktif berjalan kesana kemari. Setelah clodi ini, anak bisa mulai dilatih dengan training pants. Clodi ini tidak memiliki insert, tapi memang sudah terjahit di dalam celana.

Kesimpulan

Bagi banyak orang, penemuan pospak sangat membantu bagi ibu-ibu dengan segudang pekerjaan dan kesibukan. Tapi disisi lain, kita juga harus sadar bahwa ada musibah di masa depan yang ikut mengintai jika tak ada perubahan berarti. Semoga kita bisa melakukan yang terbaik bagi bumi kita.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini  

Sumber :

Setiap hari 10.000 bayi lahir – https://nasional.kompas.com/read/2011/02/18/22465662/setiap.hari.10.000.bayi.lahir.

popok urutan kedua sampah terbanyak di laut – https://darilaut.id/sampah-polusi/popok-urutan-kedua-sampah-terbanyak-di-laut-ini-bahayanyaa

 

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!