Keceriaan Baby Shower di Bennekom, Belanda

Baby Shower di Bennekom. Pagi itu tiba-tiba ada pesan masuk di dalam kotak pesan Whatsapp “nanti sore sekitar jam 5 kita jalan ke pasar malam yang dekat rumah ya,” isi pesan Arif.

Saya yang sedang harus rajin jalan dengan mudahnya mengiyakan ajakannya. Karena siang itu saya sedang di kampus. Akhirnya pukul 3 sore saya kembali ke rumah dan mempersiapkan diri untuk pergi jalan Bersama Arif. Saya segera memasang seragam olahraga saya, baju kaos, jaket WUR dan celana olahraga.

Setelah selesai bersiap, kami pun siap untuk jalan. Arif ternyata mengajak Dodi untuk pergi ke pasar malam. Kami sudah mempersiapkan sepeda dan mengayuh sepeda. Setibanya disana pasar malam belum buka. Kami bertanya kepada dua anak-anak disana. Untungnya salah satu anak bisa berbahasa inggris “Hi, can we go inside and having fun?” tanya Arif kepada anak itu. Ternyata bukan pasar malam tapi malam acara sekolah sehingga kawasan tersebut hanya diperbolehkan untuk anak-anak. Haha.

Karena terlanjur sudah siap olahraga, saya pun diajak ke danau untuk berjalan. Kami memang membiasakan diri untuk berjalan kaki agar mempermudah kelahiran Ayyash nantinya. Menurut bidan Connie, saya harus tetap aktif dan bergerak.

Memancing Ikan di Belanda

Kami berdua mengelilingi danau sambal berpikir tentang ayah dan anak yang sedang memancing. Peraturan di Belanda sangat ketat mengenai pengambilan sumber daya alam, salah satunya memancing ikan di danau. Belanda memberlakukan izin untuk menangkap ikan di danau, sungai maupun laut. Jadi tak sembarangan orang bisa menangkap ikan. Setiap pemancing harus punya permits namanya VISpas. Kalau gak punya VISpas, jangan coba-coba untuk mincing, bisa kena denda.

Kami mendiskusikan kenapa ayah dan anak ini setelah menangkap ikan langsung melepasnya kembali. Ternyata peraturannya demikian, kita harus diwajibkan melepas kembali ikan yang kita tangkap. Jadi memancing sebagai olahraga ataupun hobi, bukan sebagai tambahan penganan makan malam di meja makan. Heheh. Harga yang dibayarkan mulai dari 35 euro per tahun, itu belum termasuk harga membership klub memancing yang nantinya harus diikuti. Jadi kayak memilih organisasi memancing yang dekat dengan rumah atau lokasi memancing.

“Terus buat apa ya beli lisensi memancing kalau gak bisa dimakan ikannya,” tanya Arif polos. Hahah. Saya cuman hanya bisa tertawa. 😛

Kejutan Baby Shower

Setelah puas berdiskusi tentang bagaimana tata kelola stok ikan di Belanda, kami pun mengayuh sepeda pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Arif mengajak pulang. Padahal pengen banget mampir ke Lidl beli roti coklat seperti biasa. Tapi karena bos besar sudah bersabda, yasudah balik aja.

Saya tidak memiliki firasat macam-macam ketika pulang. Tapi kamar dalam keadaan gelap dan aneh aja melihat banyak sepatu. “Perasaan sepatu-sepatu di lemari udah banyak yang kuhibah dan dibuang deh,” begitu pikirku. Tapi pas pintu dibuka semakin besar, saya melihat banyak wajah-wajah familiar di dalam kehidupanku.

Ternyata anak-anak Wageningen ngumpul di kamar untuk memberikan kejutan. Baby Shower istilahnya. Haha. Hampir semuanya ngumpul di kamar kecil kami. Terharuuuu banget. Mau nangis tapi sungkan. Ya tau lah ku kayak apa.. Tapi setelah mereka pulang, ku nangis kok sebenarnya.. Karena mereka baik sekali udah membuat acara kejutan seperti ini. Ayyash pasti senang kalau tau ada om dan tante yang peduli banget sama Ayyash.

Ada balon besar yang katanya harus saya pecahkan. Tulisan “Hello Baby” tertera besar di balon berwarna hitam itu. Ada dekorasi warna warni di dalam kamar. Kamar yang kecil itu terasa besar karena bisa menampung semua orang. Senang sekali rasanya ada kalian disana.

Arif ternyata sudah menyiapkan rendang yang dia masak, katanya sih untuk persiapan karena dia malas masak untuk esok. Eh ternyata dia emang menyiapkan untuk acara makan-makan di hari ini. Anak itu benar-benar penuh dengan kejutan dan tetap menyebalkan. hahah. Akhirnya baby shower jadi acara makan-makan. Semua teman-teman membawa makanan masing-masing. Ini adalah hal yang paling saya suka di Wageningen, kita terbiasa untuk potluck. Jadi makanan yang tersedia sangat beragam, mulai dari spaghetti milik Lia, rendang milik Arif, masakan Yulia, buah-buahan dan juga kue coklat.

kedatangan ibu hamil

keseruan sama anak-anak Wageningen

bunga-bunga

Bernuansa Biru

Mungkin karena mereka tahu Ayyash (insya Allah) laki-laki, jadi mereka sudah menyiapkan untuk berkostum berwarna biru. Semuanya pakai baju warna biru. Heheh. Kata Dokter Connie, bayi ini akan berjenis kelamin pria. Soalnya belalainya sudah keliatan, bahkan dokter Connie iseng memfoto USG alat kelaminnya Ayyash. Hahah.

Dan kebetulan juga ku pakai baju biru hari itu untuk lari sore. Entah sepertinya emang udah disetting seperti itu. 🙂

Tapi bener deh, ak gak akan lupa sama kebaikan kalian. Terima kasih teman-teman, my little family di Wageningen. Rasanya kalau gak ada kalian, pasti Wageningen akan sangat-sangat berbeda.

 

ditulis di Coffee Toffee, Margonda Raya

15:37 AM Rabu, 25 September 2019

 

baca juga : Lata Kare, Berlari Demi Bakti Pada Suami https://adlienerz.com/lata-kare-lari-demi-bakti-pada-suami/

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!