bullying anak
2022,  Anak-anak,  ancaman,  indonesia,  Opinion

Kenali Bullying pada Anak

Kenali Bullying pada Anak! Orang tua harus lebih waspada dan mendengarkan cerita anak.

Bullying pada anak seringkali tidak disadari oleh para orang tua. Banyak orang tua yang menganggap bahwa tindakan bullying merupakan kenalakan biasa para anak-anak. Padahal hal ini tidak bisa dibenarkan.

Bullying sudah ada sejak jaman dulu dengan bentuk yang berbeda-beda. Hal ini seringkali tidak disadari karena terbungkus oleh kegiatan-kegiatan lucu-lucuan.

Kondisi Bullying

Kondisi saat bullying terjadi biasanya tidak disadari oleh para orang tua. Karena anak-anak terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Siapa sangka jika anak-anak SD bisa membully seorang teman kelasnya hingga menyebabkan kematian.

Hal ini yang terjadi pada kasus di Tasikmalaya. Dimana seorang anak depresi akibat dikerjai oleh teman-temannya. Ia disuruh bersetubuh dengan kucing lalu direkam oleh teman-temannya. Sick https://jabar.inews.id/berita/kronologi-anak-di-tasikmalaya-dipaksa-perkosa-kucing-korban-murung-setelah-video-tersebar

Saya pernah menjadi korban perundungan saat SD. Mungkin bagi orang lain, mendorong saya, tidak memperbolehkan saya duduk di tempat duduk saya, meletakkan permen karet di rok saya, atau bahkan menertawakan sepatu saya yang lubang dan berlumpur adalah hal yang lucu. Padahal itu adalah bentuk perundungan. Apalagi jika hal itu dilakukan berulang-ulang kepada korban yang sama.

Saya bisa merasakan betapa hancurnya perasaan anak tersebut ketika teman sekelasnya menyuruhnya bersetubuh dengan kucing lalu videonya diserbarkan. Mungkin jika saat saya SD, video sudah jadi hal yang lumrah, video saya akan paling sering disebar. Hhhhhh. Ingetnya aja sampai kesel. Untungnya saya segera dipindahkan oleh orang tua saya dari sekolah tersebut. Saya masih tidak bisa melupakan apa saja yang mereka lakukan pada saya. Nama-nama mereka masih lekat di dalam otak saya. Saya memaafkan, tapi tidak melupakan. Dan rasanya para pembully saya tidak akan pernah ingat bahwa mereka pernah membully saya sampai parah sekali waktu itu.

Guru juga menganggap bahwa hal-hal tersebut bukanlah bully tapi hanya candaan semata. Yeahhh. Begitulah kondisinya. Saya juga tidak menutup mata bahwa guru-guru memiliki banyak tugas, sehingga kadang luput pada hal-hal seperti ini.

Orang tua Harus Menanyakan apapun pada anak

Pelajaran dari kasus bullying adalah orang tua harus jadi pendengar yang baik bagi anak. Ketika saya di bully waktu itu, saya tidak pernah cerita. Karena saya takut kalau orang tua saya akan marah jika mendapati anaknya selalu membolos. FYI, saya bolos 16 hari setiap caturwulan. Hal yang tidak bisa dibiarkan oleh guru saya. Beliau menginginkan saya akan tidak naik kelas. Untungnya orang tua saya dengan sigap langsung memindahkan saya ke sekolah yang lain.

Orang tua harus menjadi perisai anak. Jika anak-anak sudah berubah menjadi pribadi yang pemurung, pendiam, memiliki perasaan takut, Anda bisa bertanya dengan baik-baik apa yang mereka butuhkan.

Seorang anak biasanya takut bercerita karena orang tua malah akan bereaksi yang berbeda dari yang mereka harapkan. Dulu, saya takut sekali kalau ayah bunda akan marah karena saya membolos. Ternyata mereka marah, tapi segera bertindak mencari sekolah lain.

Life must goes on.

Saya pindah ke sekolah yang benar-benar berbeda. Walaupun saya masih dibully, tapi tidak separah di saat sekolah lama. Saya berubah menjadi pribadi yang lebih terbuka dan lebih menerima dengan baik. Guru-guru di sekolah tersebut juga lebih mengayomi. Mungkin karena saya juga cucu salah satu Kepala Sekolah di kota tersebut. Hehe. Jadi gak banyak yang berani bully saya. Alfatihah untuk Mbah Rayi.

Orang tua jadi suaka teraman bagi anak. Gimana caranya agar bisa jadi suaka aman?

Dengarkan kisah mereka. Saya berusaha untuk bertanya mengenai perasaan Ayyash ketika saya pulang dari kantor. Saya ingin tahu bagaimana perasaan Ayyash setiap hari ketika saya pergi darinya. Saya membiasakan agar Ayyash terbuka dengan saya.

Hal ini yang dibiasakan oleh orang tua saya setelah saya pindah sekolah. Kami terbiasa berdiskusi mengenai sebuah paham atau kejadian di dalam sekolah. Bunda saya termasuk yang punya keingintahuan yang sangat tinggi mengenai kondisi sekolah anaknya. Saya terbiasa bercerita mengenai teman-teman saya di sekolah. Makanya Bunda saya hafal nama teman-teman SMP, SMA dan beberapa teman kuliah saya. Haha.

Orang tua juga harus tahu kapan waktu baik untuk berbicara dengan anak. Misalnya ketika anak pulang ke sekolah dengan wajah yang muram, jangan langsung tanya dengan nada yang menginterogasi. Biarkan anak istirahat terlebih dahulu. Cari waktu enak untuk berdiskusi dengan anak. Biasanya sih Bunda ngobrol saat tiba di rumah sehabis pulang kerja dan anak-anak sudah dalam kondisi kenyang makan malam. Hehe.

Orang tua harus peka dengan kondisi lingkungan. Diskusikan perilaku anak yang tiba-tiba berubah. Hal ini bisa jadi pemicu agar guru mencari tahu apa yang terjadi. Sehingga bisa mengintervensi apa yang terjadi.

Orang tua anak Pembully

Orang tua yang memiliki anak pembully juga harus introspeksi diri. Seringkali pembully tidak sadar bahwa dirinya membully. Sama seperti kasus anak-anak yang membully sampai temannya meninggal. Mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan bisa melukai perasaan orang lain. Selalu ajak untuk berempati terhadap orang lain. Gimana caranya? Ajak mereka pergi ke luar dunia, ceritakan bagaimana Tuhan menciptakan manusia yang berbeda-beda. Ada manusia yang memiliki kekurangan dan beberapa diciptakan dengan kelabihan masing-masing. Ajak anak-anak untuk pergi mengunjungi orang-orang yang tidak beruntung. Saya sering mengajak Ayyash untuk melihat kondisi orang-orang yang tak punya rumah, orang-orang yang tidur di jalan. Lalu menarasikannya kepada Ayyash. Mengajak ia untuk pergi bersedekah.

Orang tua pembully juga punya andil untuk menertibkan anaknya jika memang melakukan kesalahan. Introspeksi diri dengan baik. Periksa isi HP anak adalah hal yang penting di zaman teknologi seperti ini. Banyak anak-anak kecil yang sudah kecanduan pornografi di usia SD. Kecepatan informasi dan kebijaksanaan dalam mengelola informasi dibutuhkan dalam kondisi seperti ini.

Belajar dari kasus Tasikmalaya, orang tua harus membekali diri anak mereka rambu-rambu dalam mengenali kondisi perundungan. Anak-anak bisa dikenalkan kondisi perundungan melalui buku ataupun video.

Ciri-ciri Pembully

Melansir dari website Ruangguru.com, ada beberapa ciri sebagai pelaku bullying, yaitu :
  1. Selalu ingin berkuasa. Anak selalu ingin berkuasa terhadap orang lain. Misalnya menyuruh orang lain mengerjakan PR nya, membelikan makanan di kantin, mengambilkan buku. Padahal hal ini bisa dilakukan sendiri oleh si anak.
  2. Bersikap egois. Mementingkan diri sendiri tanpa melihat kondisi ataupun perasaan orang lain.
  3. Mudah marah. Anak dengan kondisi yang mudah marah, bisa menjadi tipe pembully yang mudah tertrigger untuk melakukan kekerasa kepada orang lain.
  4. Tidak merasa bersalah. Kondisi ini kebanyakan dialami oleh anak yang selalu mendapatkan pemakluman dari orang tua, sehingga ia tidak merasa bersalah atas sikapnya.
  5. Tidak memiliki empati dan rasa iba. Jika seorang anak tidak memiliki empati ataupun rasa iba, bia jadi punya bibit untuk jadi pembully.

Orang tua wajib melihat kondisi ini pada anak agar anak bisa terhindari dari sifat-sifat pembully.

Ciri-ciri Korban Bully

Sedangkan pada anak yang menjadi korban perundungan bisa terlihat dari perubahan perilaku yang drastis. Biasanya anak ceria, tiba-tiba murung bahkan tidak mau berbicara. Lalu kebiasaan makan yang berubah. Kurangnya kontak mata terhadap orang lain. Anak juga tiba-tiba menarik diri dari percakapan di dalam rumah.

Tugas orang tua adalah selalu bertanya mengenai kondisi anak di dalam rumah. Menjadi suaka teraman bagi mereka.

Ketika memiliki anak yang menjadi korban bully, ada baiknya berbicara dengan pihak sekolah. Lalu minta untuk pertemukan dengan orang tua pembully. Jika memang dibutuhkan, segera pindah sekolah. Agar tidak terjadi kasus seperti ini https://www.kompas.com/tren/read/2022/08/07/070500065/gara-gara-hp-pelajar-smp-di-magelang-bunuh-temannya-apa-yang-terjadi-?page=all. Budaya kekerasan semakin banyak. Butuh intervensi banyak pihak untuk membuat ini berhenti πŸ™

Hentikan Bullying pada Anak

Jika sebagai orang dewasa kita melihat terjadi kekerasan antar anak, segera lerai. Ambil intervensi yang cukup bagi kedua belah pihak. Berikan ketegasan bahwa kekerasan adalah hal yang tidak bisa ditolerir. Jangan sampai ada kekerasan pada anak lainnya. πŸ™

Agar Indonesia bebas dari kekerasan pada anak.

 

ditulis di Tajurhalang

23:29 WIB Minggu, 14 Agustus 2022

sambil denger lagu Kukira Kau Rumah – Amygdala

writer

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!