Pengalaman MengASIhi Ayyash

Pengalaman mengASIhi Ayyash menjadi salah satu hal yang tak terlupakan bagiku. MengASIhi tak semudah yang saya baca di buku-buku. Ibu harus keras kepala dan fokus sama bayi. Selain itu niat juga harus selalu diperbaiki tiap harinya.

Pentingnya Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Ketika Ayyash lahir, suster di rumah sakit menyarankan agar saya memberikan Ayyash susu formula. Mengingat bahwa saya melahirkan secara caesar. Suster sampai meminta saya untuk menandatangani surat persetujuan dimana kalau Ayyash sampai kuning atau ada keluhan apapun, pihak RS tak bertanggung jawab.

Untungnya saya sudah membaca soal Inisiasi Menyusui Dini (IMD) di dalam buku pink yang diberikan bidan ketika saya kontrol, sehingga saya berkeras untuk menyusui Ayyash. Setelah saya masuk ke kamar, hanya kami bertiga saat itu yang ada di RS, jadi bisa dibayangkan bahwa keputusan hanya ada di tangan kami berdua. Arif sempat ragu ketika menandatangani surat tersebut.

“Kata susternya nanti bayinya kuning, ma. Apa kita kasih sufor saja?” tanya Arif kepada saya.

Tapi saya berusaha menguatkan dia. Bahwa tempat ternyaman bayi adalah berada dekat dengan ibunya. Setelah itu, Arif pun menandatangani surat tersebut. Suster pun pamit dari kamar lalu datang beberapa waktu kemudian. Ayyash pun diserahkan sama kami berdua.

Ayyash tiba dan kami pun bingung

Ketika Ayyash masuk ke dalam ruangan, kami berdua sempat terdiam. Apa yang harus dilakukan? Bagaimana cara menggendong bayi yang baru lahir? Bagaimana cara menyusui yang benar? Hahah. “Sok tewu banget sih”, umpatku dalam hati. Susternya juga gak ngajarin sama sekali. Suster langsung meninggalkan ruangan sesaat setelah Ayyash masuk ke kamar. Kacau nih..

Lalu setelahnya berdasarkan ingatan di buku, kami berdua berusaha menyusui Ayyash. Yess, kami berdua. Arif bertugas untuk mengatur posisi Ayyash agar bisa mencapai payudara (PD). Dia juga memijat PD pertama kali agar ASI bisa keluar. Haha. Alhamdulillah ada satu tetes ASI yang mulai keluar. Akhirnya saya pun bertugas untuk miring-miringin badan agar posisi Ayyash bisa pas dan pelekatannya sempurna. Kami juga buka YouTube tentang pelekatan bayi. Haha. Ternyata penting banget kedua orang tua mempelajari cara menyusui bayi.

Penyesalan yang kami sadari bahwa seharusnya kami belajar tentang menyusui lebih awal. Saya selalu berpikir bahwa setelah lahir, ASI akan selalu langsung keluar. Namun ternyata saya baru paham bahwa banyak ibu yang tidak sempat merasakan mengASIhi bayinya karena banyak dan lain hal. Sebuah rezeki yang tak pernah saya lupakan bahwa Allah SWT memberikan Ayyash kemudahan untuk bisa langsung menyusu tetes pertama ASI atau yang biasa disebut dengan kolostrum. Cairan berwarna kekuningan inilah yang membantu daya tahan tubuh bayi di masa awal pertumbuhannya.

Sempat menyerah dan memberikan susu formula

Namun ternyata proses menyusui ini lumayan menguras tenaga kami berdua. Setelah begadang sejak hari Rabu karena saya selalu merasakan kontraksi, membuat kami kelelahan. Ayyash juga sering terbangun setelah disusui. Hingga kami pun kurang tidur.

Ketika suster datang mengecek kondisi Ayyash di pagi hari, kami berdua langsung menyerahkan kepada suster. Hahaha. Karena saat itu saya belum punya pumping, akhirnya suster menyarankan agar Ayyash minum susu formula ketika dititip di ruang perawatan bayi. Awalnya saya agak ragu, namun karena saya lelah sekali, akhirnya saya mengiyakan saran suster.

Arif pun segera membeli sekotak susu SGM berwarna merah dan sebuah botol dot kecil. Setelahnya kami berdua tepar. Arif di lantai kamar, saya di atas kasur. Kami berdua tidur sangat lelap, sampai Ragel, salah satu teman baik saya, tidak sanggup membangunkan kami berdua. Haha. Thanks for your kindness, gel..

Kami pulang ke rumah

Alhamdulillah, walaupun sempat diselingin oleh susu formula, sepulangnya dari RS ASI melimpah, namun saya ogah untuk menyusui langsung Ayyash ke PD. 😭 Butuh waktu 2 minggu hingga saya ikhlas untuk menyusui dia secara langsung. Dan selama 2 minggu itulah, Arif yang bertugas untuk menyusui Ayyash melalui botol susu.

Saya selalu pumping ASI setiap waktu agar tak kena mastitis atau pengerasan payudara, karena kebetulan, ASI sangat lancar. Baru beberapa menit, PD terasa kerasa bahkan terasa kebas. Jadi saya tak bisa dipisahkan dari pumping saat itu. Alhamdulillah. Botol ASI penuh terus di dalam kulkas.

Tugas Arif adalah mensterilkan botol dot, memanaskan ASI setelah keluar dari kulkas dan memberikan Ayyash susu. Hal itulah yang ia lakoni tiap hari selama dua minggu ketika saya masih ‘marah’ dengan Ayyash. Saat itu emosi ku naik turun. Saya pernah menceritakannya disini. Emosi yang tidak stabil inilah yang membuat saya ogah menyusui Ayyash secara langsung. Pokoknya hanya mau melalui botol susu saja. Heheh

Akhirnya Direct Breast Feeding

Setelah saya merasa siap dan Arif sudah harus mulai kembali bekerja ke luar kota, saya pun mulai memberanikan diri untuk mengajari Ayyash Direct Breast Feeding atau menyusu langsung ke PD. Proses ini lumayan bikin saya tersiksa lahir dan batin. Masih lekat di ingatan, saat Ayyash kebingungan ketika akhirnya saya mau untuk DBF. Saya sempat menangis melihat dia kebingungan karena sudah terbiasa dengan ‘puting’ dari dot nya.

Selain itu puting lecet sudah jadi keluhan tiap hari. Sempat berdarah dan seperti berkerak. Belum lagi PD yang selalu terasa penuh, sampai-sampai saya pernah memaksa Ayyash untuk minum ASI padahal dia baru saja minum ASI. Hingga akhirnya dia muntah ASI. Haha.

Lucunya saya sampai bawa dia ke RS Hermina Depok. Disana Ayyash didiagnosa kekenyangan ASI oleh dokter. Sejak saat itu saya pun mulai menjadwalkan kapan saya menyusui, kapan harus pumping agar Ayyash tak muntah lagi. Hahah. Sorry Ayyash, kamu sempat jadi bahan percobaan.

Pijat Laktasi dan ASI Booster

Di awal-awal proses menyusui, saya selalu melakukan pijat laktasi. Sebenarnya pijat laktasi yang terbaik dilakukan oleh suami sendiri, tapi karena Arif selalu pergi ke luar kota, mau tidak mau, saya harus memesan jasa pijat laktasi. Kebetulan salah satu teman SMA, Erlina namanya membuka jasa pijat laktasi. Setelah pijat laktasi, ASI mengalir lancar dan deras.

Arif yang urus Ayyash

Tak hanya itu, Arif juga siap siaga untuk belikan cemilan dan makanan keinginanku. haha. ASI Booster ku saat itu adalah jajanan dan juga beberapa obat herbal. Saya membeli bubuk moringa, susu kambing, dan kurma. Ketiga bahan inilah yang paling cocok saya gunakan sebagai ASI Booster. Hingga 11 bulan, saya masih tetap menggunakan ketiga ASI Booster tersebut secara bergantian.

Kesimpulan mengASIhi selama 11 bulan

Saya baru sadar betapa kacaunya kami berdua yang menganggap enteng proses menyusui dan merasa bahwa “ah nyusuin paling gitu-gitu aja, tempelin ke dada nanti bayi bakalan nyari sendiri” ehhhh. Ternyata susah pemirsa.. hahaha. Dan hal yang paling saya suka dari DBF adalah tatapan Ayyash yang lekaattt banget. Matanya mengerjap-ngerjap dan mengejar kacamata ku. Kami banyak berbicara saat proses menyusui. Thanks Ay, sudah jadi anak berbakti. Sehat selalu ya nak.

 

 

1:29 WIB

Sabtu, 5 September 2020

ditulis dalam mendukung Pekan ASI sedunia dan mengenang cerita mengASIhi Ayyash. Masya Allah. Tabarakallahu..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!